Tuesday, May 27, 2008

Anti-god Principles in Gaming


Sebenarnya masih merasa nggak enak karena peristiwa kemarin. Malah, sempat terpikir untuk berhenti nge-blog. But, no, that is not the right thing to do. I never found something as useful as blogging to train my linguistic skills, so it’s a pity to quit now. Dan lagi, saya yakin dia tidak menginginkan hal ini pula (tampaknya saya menggunakan kata “dia” untuk menyebut orang-orang yang berbeda :P).

Okay. Let’s the post begins!

Siapa sih yang tak kenal vidgim? Sejak zaman saya SD, Nintendo dan Sega sudah merajalela, menempel di TV-TV ruang keluarga. Saya pun salah satu pecandunya, walaupun nggak freak-freak amat. Saya pernah merasakan main game dengan grafis dua dimensi yang kalau saya lihat lagi ternyata jelek sekali (sampai-sampai saya heran, kok bisa dulu saya melihat itu bagus sekali?). Saya pernah terpukau melihat indahnya Spira di FFX, gelapnya Silent Hill yang mengerikan, dan indahnya warna-warna pastel dalam Tales of series. Saya pernah menjajal beberapa genre game: Adventure (kadang clue-nya susah ditemukan), action (“Ngapain kamu main game cuma loncat-loncat gitu?” tanya ayah saya menyindir), fighting (controllernya harus tahan banting!), horror (dan saya berani main itu di tengah gelap malam, lho :P), dan genre-genre lainnya.

Dari banyaknya genre-genre game yang ada, genre yang paling saya sukai adalah RPG. Genre yang dipelopori Dragon Quest pada zaman Nintendo ini memang berbeda dari genre-genre game lainnya. Inti genre ini adalah permainan peran; player mengambil peran sebagai tokoh utama (beberapa game RPG malah menyiapkan tokoh utama tanpa nama) dan mengendalikannya sepanjang cerita berlangsung. Entah mengapa, saya sangat menyukai genre ini; mungkin saya menyukai elemen bermain peran di dalamnya, atau lingkungan permainannya yang kebanyakan medieval, atau saya hanya penasaran dengan ceritanya. Yang jelas, apabila ada game RPG baru yang keluar di pasaran (apalagi kalau keluaran Square-Enix, Atlus, Namco, Bandai), saya segera membelinya. Walaupun akhirnya makan hati juga karena PS2 saya ditinggal di Sukabumi.

Setelah lama bermain dengan game RPG, saya sadar kalau tema kebanyakan game adalah destiny versus free will (yang juga menjadi tema sentral anime favorit saya, Princes Tutu). Di setiap game, tokoh utama selalu menjadi satu-satunya orang yang berontak terhadap krisis yang terjadi di lingkungannya. Dan, krisis itu bisa berwujud macam-macam tergantung game-nya: kekuatan jahat yang bangkit kembali, raja palsu yang memerintah dengan lalim, dan Tuhan yang berkuasa sewenang-wenang terhadap makhluknya.


Yup, saya tidak salah tulis. Beberapa game menggambarkan bahwa Tuhan berkompromi dengan kekuatan jahat sebelum mati. Game lainnya malah menjadikan Tuhan di agama fiktif mereka sebagai boss terakhir. Simak saja Final Fantasy X, yang menceritakan bahwa Yu Yevon (nama Tuhan di agama Yevon) adalah pembawa Sin (makhluk penghancur di Spira) dan akhirnya dimusnahkan oleh tim tokoh utama. Simak saja Grandia 2, yang menceritakan bahwa Granas (sang Tuhan) telah mati jauh sebelum cerita dimulai dan segel-segel yang ditinggalkannya bertujuan untuk mempermudah bangkitnya Valmar (sang iblis). Yang jelas, apabila sebuah game RPG memasukkan elemen agama fiktif ke dalam gameplay-nya, bisa diramalkan bahwa agama itulah yang akan dilawan oleh si tokoh utama.

Box cover game favorit saya: Shin Megami Tensei Nocturne

Tapi, tidak ada game yang se-frontal Shin Megami Tensei series (which is my favorite game ever) dalam hal semacam ini. Game ini jelas-jelas menggolongkan semua macam makhluk mitologi sebagai demon: dewa-dewi Norwegia, folklor berbagai negara, makhluk-makhluk yang memang pantas digolongkan sebagai demon saking jahat atau menjijikkannya mereka, bahkan malaikat-malaikat serta seraf-seraf dalam mitologi kristiani. Untung saja Atlus, developer-nya, belum memikirkan untuk memasukkan Jesus Kristus, Muhammad, atau Allah ke dalam kategori demon mereka (mungkin mereka sadar kalau itu terlalu berbahaya).

Game ini benar-benar menekankan kebebasan memilih pada player. Player diletakkan di sebuah wilayah tanpa hukum yang jelas dan (seringkali) lingkungan yang rusak berat, lalu dipersilahkan untuk memilih hukum apa yang paling tepat diterapkan di wilayah itu. Terdapat tiga pilihan hukum utama: law (hukum yang menjerat dan mengikat, serta menekankan pada kepatuhan dan keteraturan), chaos (tidak ada hukum yang berlaku selain hukum rimba), dan neutral (seharusnya sih intermediet antara kedua hukum yang disebut pertama, tapi game ketiga malah menafsirkannya sebagai kesendirian, ketika manusia kehilangan statusnya sebagai makhluk sosial). Tentu saja, bagi manusia yang waras, susah sekali menentukan hukum mana yang tepat untuk dunia fiktif ini.

Yang lebih parah, game ini menjadikan Lucifer sebagai salah satu tokoh protagonis—paling tidak sebagai tokoh yang membantu si tokoh utama untuk membentuk dunianya. Di game ketiga, ada suatu ending yang dinamakan True Demon, yang menceritakan bahwa si tokoh utama (yang bertubuh demon namun berhati manusia) diubah menjadi demon yang sempurna oleh Lucifer, dan tokoh utama mengangkat senjata melawan para penghuni surga. Game kedua malah menjadikan YHWH sebagai boss terakhir apabila player memilih ending tertentu—walaupun akhirnya sang tokoh utama mendapat hukuman untuk mati dan hidup kembali tanpa henti.

Kalau ditelaah lebih jauh, wajar saja kalau game-game ini berisikan pesan moral seperti itu. Jepang, tempat game-game itu diciptakan, adalah penganut Shinto yang lebih percaya pada dewa-dewa alam ketimbang monoteisme. Dan lagi, yang sebaiknya ditekankan di sini adalah kemampuan untuk mengubah keadaan, bukan?

Saya sendiri tidak merasa takut untuk di-brainwash oleh game-game ini sehingga saya jadi ateis. Saya sudah mengalami banyak peristiwa di dunia ini, dan beberapa di antaranya begitu menyakitkan sampai-sampai saya merasa waktu saya berhenti berputar. Pada saat seperti itu, sungguh melegakan memiliki Dzat yang bisa saya jadikan tempat penumpahan kesedihan dan tempat permintaan pertolongan. Sungguh melegakan memiliki Dzat yang saya yakin selalu mencintai saya, selalu ada untuk saya, dan menyemangati saya untuk hidup di jalan-Nya yang benar. Dan, tak bisa terhitung berapa kali saya ditolong secara tiba-tiba; memang hanya sedikit, tapi mampu mendorong saya untuk memperbaiki kesalahan saya dan mengembalikan keadaan seperti semula. Saya percaya, ada tangan tak terlihat yang mengarahkan saya sekaligus memberikan kebebasan untuk memilih pada saya. Dan, saya percaya, tangan itu adalah Allah, Tuhan saya, yang tak jemu membimbing saya walau saya seringkali lalai melakukan apa yang Ia inginkan (maafkan saya...).

Dan lagi, setelah memainkan Shin Megami Tensei, saya jadi tahu kalau menjadi Tuhan itu berat sekali. Saking beratnya sampai-sampai saya yakin tidak ada manusia yang mampu menanggungnya. Ada begitu banyak manusia di dunia ini; jutaan kepribadian, jutaan cara pandang. Dan, sangat tidak adil apabila salah satu dari tiga hukum itu diterapkan begitu saja pada mereka. Perlu pencampuran yang sempurna, dengan komposisi yang tepat dan berimbang (yang artinya belum tentu rasio 50%-50% berlaku), agar semua manusia bisa merasa bahagia di dunia. Dan, percaya deh, setelah memainkan game itu, saya jadi yakin kalau dunia yang kita tempati ini not too bad. Cukup menyenangkan malah, daripada nyawa terancam setiap hari atau kebebasan terenggut akibat seabrek peraturan yang harus ditaati tiap hari.

Oh, iya. Untuk para orangtua yang ketakutan, game-game di atas ratingnya Teen, kok. Shin Megami Tensei series ratingnya Mature, malah (dan saya memainkan itu saat umur enam belas tahun :P). Insya Allah player-player-nya sudah cukup dewasa untuk menyaring pesan moral di dalamnya.

Oke, deh. Moral of the story, di dunia yang serba global ini, seseorang harus pintar menyaring informasi. Dan lagi, percaya pada Tuhan (tak peduli apa agama yang dipeluk) akan sangat membantu dalam hidup. Karena Tuhan itu ada. Dan dia mengawasi serta membimbing kita.

Cheers!

PS: Blognya mBak Miund keren banget! arggh... pengen nge-link nih... boleh nggak yaaa...?


No comments: