Thursday, February 4, 2010

Semester 6 Dimulaiiii!

Wuih, udah lama banget nih nggak nulis di blog. Agak malu juga nih, berlagak sok sibuk sampai nggak sempat nge-blog. Hehehe, diusahain semoga kali ini blog tercintaku nggak terbengkalai lagi, hehehe (semoga nggak jadi janji surga).

Anyway, setelah melihat buku-buku-adaptasi-blog yang membanjiri toko buku, dan mengambil benang merah (cuih) kalau blog-blog sekarang kebanyakan tematik, saya akhirnya kepanas-panasi dan memutuskan untuk ikut tran (dasar labil). Dan, tema yang saya pilih adalaaaaah.... jengjengjeeeeenggggg...

Kehidupan Laboratorium!

Gimana nggak, sebagai salah satu dari 40 orang terpilih yang bisa memasuki satu-satunya jurusan mikrobiologi di Indonesia, saya--dan 40 orang lainnya--menghabiskan waktu saya di lab! Selama enam semester yang saya lalui (dengan darah, airmata, dan doa), pasti aja ada minimal dua matakuliah yang ketambahan satu SKS praktikum. Di kartu mahasiswa sih keliatannya cuma satu SKS, tapi kenyataannya satu SKS itu setara dengan 4 jam di Lab! Belum lagi kalau pengamatannya harus besoknya lagi, atau diamati setiap hari selama satu minggu, wuih lab serasa jadi rumah kedua aja nih...

Karena itulah, banyak sekali kisah yang terjadi di laboratorium. Nge-sensi-in asisten tertentu lah, nilai diminus gara-gara ngotorin lab-lah, atau ngamatin tingkah laku praktikan yang (kadang-kadang) ngegemesin cz udah dibilangin tetep aja salah melulu. Kalau dihitung-hitung, udah banyak kisah yang dirajut saya beserta anak-anak mikrobiologi lainnya di Lab. Dan semuanya seru-seru, hehehe.

Ngomong-ngomong soal praktikum, semester ini saya kebagian dua macam praktikum yang dua-duanya ajaib: Mikrobiologi Analitik dan Prinsip Teknik Fermentasi. Kalau ngedenger curhat kaka kelas nih, naga-naganya kita bakal nginep di lab nih bisa-bisa. YAh, kita lihat aja deh, siapa tahu bakal ada cerita-cerita asyik selama di lab.

Cheers!

Thursday, November 26, 2009

Reborn

Huff... udah lama banget ya nggak nulis blog lagi... Hampir satu dekade mungkin blog ini ditelantarkan. Bahkan sempat melarikan diri ke tumblr (yang ujung-ujungnya juga ditelantarkan). Fuuuuh...

Anyway, aku di sini mau nulis unek-unek. Bukan keluh-kesah juga sih... cuma bingung aja mau dituangin di mana...

Intinya sih mengenai masa depan. Tadi pagi, waktu pulang dari mesjid habis salat subuh (yeah, akhirnya bisa salat subuh di masjid lagi), tiba-tiba datang sebaris pikiran untuk direnungi. Tiba-tiba aja aku sadar kalau aku kuliah tinggal 3 semester lagi. Wisuda bentar lagi (kalau lulus tepat waktu). Waktu-waktu untuk bersekolah dan bersenang-senang udah mau habis, dan mendadak aku harus--kasarnya--"balikin modal".

Dan, dengan cara apa aku bakal "balikin modal"? Apa yang harus aku lakukan untuk menghidupi diri sendiri dan keluargaku kelak?

Pertanyaanku itu membuatku sadar kalau aku bener-bener nggak punya persiapan pascalulus. Apakah itu kuliah lagi (dengan beasiswa tentunya), cari kerja, atau apa pun lah. Semua opsi itu tetap menjadi opsi, dan sampai saat ini pun aku masih diombang-ambing arus kehidupan.

Bukan tipikal orang yang sukses, eh? hehehe...

Anyway, aku pengen cerita sedikit mengenai back-up planku. Kemarin aku sudah mengambil satu langkah ke arah realisasi "rencana-masa-depan"-ku yang ini. Sekarang sih tinggal nunggu hasilnya. Cuma... kata-kata seseorang membuatku mikir-mikir lagi mengenai planku yang ini.

Dia (D): Fer, kamu ntar mau main sinetron?
Aku (A): Nggak lah. Ngapain? Nggak ada sinetron yang bermutu, kan?
D: Kalau gitu, kamu masih berpikiran pendek.
A: Eh?
D: Kalau kamu berpikiran panjang, kamu pasti ngejar di sinetron dulu. Dengan bermain di sinetron, apalagi yang stripping, kamu bakal dapat duit dan tenar.
A: Stripping? Lah, ntar kuliahku gimana?
D: Kalau kamu pengen serius terjun ke dunia entertainment, kamu harus rela ngorbanin semua yang kamu punya.

And he left me speechless...

Memang bener sih apa kata dia. Nggak cuma dunia entertainment, segala hal pun harus dilakukan penuh pengorbanan agar bisa sukses.

Masalahnya sekarang, apa sih yang ingin aku lakukan sampai-sampai aku rela mengorbankan semuanya demi itu?

Untuk sementara ini, rencanaku masih berusaha apply Journalist Development Program di Metro TV segera setelah wisuda, lalu kerja di sana selama, let's say, lima tahun. Setelah itu, aku akan kembali jadi scholar. Aku bakal cari kuliah, apply S2, jadi dosen, mungkin.

Tapi, untuk melepas kesempatan diwisuda dengan gelar sarjana cap gajah duduk sementara kuliahku tinggal 3 semester lagi? No, sir. Aku nggak siap untuk itu.

Hmm... mungkin udah waktunya aku introspeksi diri. Mencari tahu apa sih yang sebenarnya aku inginkan, apa cita-cita dan tujuan hidupku sebenarnya. Moga2 saat-saat ini belum terlalu terlambat untuk memikirkan hal itu...

Cheers.

Thursday, September 24, 2009

iPersonic

Take the free personality test!

Myself: a Harmony-seeking Idealist

So, another self discovery test. It's pretty accurate too. Here is mine.

Harmony-seeking Idealists are characterised by a complex personality and an abundance of thoughts and feelings. They are warm-hearted persons by nature. They are sympathetic and understanding. Harmony-seeking Idealists expect a lot of themselves and of others. They have a strong understanding of human nature and are often very good judges of character. But they are mostly reserved and confide their thoughts and feelings to very few people they trust. They are deeply hurt by rejection or criticism. Harmony-seeking Idealists find conflict situations unpleasant and prefer harmonious relationships. However, if reaching a certain target is very important to them they can assert themselves with a doggedness bordering on obstinacy.

Harmony-seeking Idealists have a lively fantasy, often an almost clairvoyant intuition and are often very creative. Once they have tackled a project, they do everything in their power to achieve their goals. In everyday life, they often prove to be excellent problem solvers. They like to get to the root of things and have a natural curiosity and a thirst for knowledge. At the same time, they are practically oriented, well organised and in a position to tackle complex situations in a structured and carefully considered manner. When they concentrate on something, they do so one hundred percent - they often become so immersed in a task that they forget everything else around them. That is the secret of their often very large professional success.
Get career advice for the Harmony-seeking Idealist

As partners, harmony-seeking idealists are loyal and reliable; a permanent relationship is very important to them. They seldom fall in love head over heels nor do they like quick affairs. They sometimes find it very difficult to clearly show their affection although their feelings are deep and sincere. In as far as their circle of friends is concerned, their motto is: less is more! As far as new contacts are concerned, they are approachable to only a limited extent; they prefer to put their energy into just a few, close friendships. Their demands on friends and partners are very high. As they do not like conflicts, they hesitate for some time before raising unsatisfactory issues and, when they do, they make every effort not to hurt anyone as a result.
Get relationship advice for the Harmony-seeking Idealist

Adjectives which describe your type: introverted, theoretical, emotional, planning, idealistic, harmony-seeking, understanding, peace-loving, sensitive, quiet, sympathetic, conscientious, dogged, complicated, inconspicuous, warm-hearted, complex, imaginative, inspiring, helpful, demanding, communicative, reserved, vulnerable

Wanna try? It's here
.

Wishlist Mark: 2

Hehehe, gara-gara liat blog sebelah pasang wishlist, jadi pengen nih bikin wishlist juga...

1. Acer Aspire Timeline yang 13 inch. Pertama liat aja udah jatuh hati. Kesannya stylish banget. Poin pentingnya adalah, beratnya ringan (cuma 1 kilogram) dan bisa tahan sampai 8 jam! Cocok banget lah kalau dibawa kuliah tiap hari, hehehehe.

2. IPod Touch 16 GB atau IPod Nano yang 16 GB. Well, I always wanted an IPod since Ellen died (hikshiks). The plan is, if I don't get laptop, I'll buy IPod Touch first, cz the gadget has the ability to use Wi-Fi connection. But if i get laptop, i''l buy IPon Nano and save the rest of my money for something else. Oh, iya, dua-duanya dipilih yang warna hitam.

3. Sennheiser stereo earphone, Bass. Siapa sih yang nggak kenal Sennheiser? Produsen earphone TOP. Makanya, untuk mesin sekelas IPod, pasangannya nggak usah tanggung-tanggung. Hehehe...

4. DVD External biat si Timeline. Iya nih, kelemahan si Timeline adalah nggak ada DVD-nya. Cuma, kalau dipikir-pikir, sekarang kan jarang banget pake media DVD. Biasanya juga download langsung. Jadi, tetep sih jatuh hati sama si Timeline.

5. Swiss Ball. Untuk mencetak perut flat bak papan cuci, wkwkwkw. Kayaknya sih kalau yang ini akan terwujud dalam waktu dekat ini. Walaupun bingung juga mau disimpen di mana sih, hehehe...

6. Esia Ngoceh. Sebenarnya barang ini nggak perlu masuk wishlist, seandainya nggak hilang waktu jalan-jalan ke Toko Tiga di Kosambi. Keluh...

Hmm... apa lagi ya? Udah mungkin segitu dulu. Cheers!

Wednesday, August 12, 2009

Resah

Ketika terucap kata berpisah dari bibirnya,

Haruskah kuyakinkan dia untuk mencintaiku sekali lagi?

Atau lebih baik kulepas dirinya dan mencari hati yang lain?


Bila memang bukan kita yang tentukan

Ke mana arah cinta ini kan membawa

Berikanlah aku satu jalanmu Tuhan

Agar aku mengerti... apa yang kita jalani...

(Maliq n d'Essentials--Dan Ketika)






Tuesday, August 4, 2009

Roadtrip! Psikologi Unpad Jatinangor

Hari ini, ceritanya gw masih dalam masa geje-geje nganggur. Biasalah, liburan. Saking nganggurnya, gw bahkan memutuskan untuk bermain ke tempat yang sebenarnya bukan tempat bermain. Di mana itu? Yap, Unpad Jatinangor, specifically Fakultas Psikologi.

Kenapa Psikologi?

Soalnya, gw memang punya affinity tertentu dengan jurusan ini. In fact, ini adalah jurusan yang tadinya mau gw masukin ke pilihan SNMPTN 2008 setelah FK (dan sampai sekarang gw nyesel kenapa gw nggak milih ini waktu itu). Selain itu, melihat adanya hubungan antara keponakan gw yang (seringkali) baik adatnya dengan fakta bahwa ibunya psikolog, gw jadi bertekad untuk—paling nggak—punya istri dari jurusan psikologi. Daaaan... thanks to keikutsertaan gw dalam program magang Kokesma, gw jadi punya kenalan seorang alumnus Psikologi yang cerdas, rame, baik hati, dan bersedia ngajak gw ke jurusan Psikologi hari ini. Thank you very much, Mbak Putri!

Setelah tadi pagi pergi ke kampus dan gagal mulu membuka situs perwalian online ITB (yang sempet bikin gw deg-degan, kok kayaknya gw nggak dilulusin ya? Soalnya halaman web gw bahkan nggak kebuka, sementara orang2 di sekeliling gw semuanya bisa ngebuka), gw pun beranjak menuju kampus Unpad Dipatiukur. Ada apa di sana? Bis Damri tentu saja, kendaraan yang bisa mengantarkan gw ke Kampus Jatinangor. Di bis, gw sempet SKSD sama cewek yang duduknya di sebelah gw. Namanya Syifa, Fisip Unpad angkatan 2005. She’s nice and cheerful, cuma sayang umurnya di atas gw. Kalau di bawah gw, naksir banget deh. Walaupun akhirnya gw nggak ngobrol banyak sama dia karena ketiduran, sih.

Sampai di Jatinangor, gw sempet bertindak memalukan dengan minta nungguin di Gerbang Unpad yang biasa jadi pasar kaget tiap hari Minggu. Pasalnya, terakhir kali gw ke Jatinangor (Semester 3, sehari sebelum UAS Kimia Organik, inget banget dah), yang gw inget adalah gw turun dari bis di gerbang itu. Nggak tahunya, berhubung proyek jalan tol dan gerbang samping Unpad udah selesai, pangkalan Damri yang dimaksud Mbak Putri berada tepat di samping gerbang Unpad (dan bukan terletak nun jauh di sana seperti yang gw takutkan).

Mbak Putri mengajak gw sedikit memutar karena pintu gerbang untuk kendaraan ada di belakang kampus. Dari situ, gw bisa melihat komplek Unwim yang mungkin akan menjadi kampus gw selanjutnya. Ternyata nggak kalah besar dengan Unpad. Tapi... suasananya agak horor di sana, lengkap dengan gedung-gedung bergaya kuno yang agak tak terawat dan fakta kalau di sana nggak ada siapa-siapa. Perjalanan memutar itu menyadarkan gw kalau mungkin ada baiknya juga kalau ITB pindah ke Jatinangor. Soalnya, suasananya adem, tenang, sejuk, cocok banget deh buat belajar. Walaupun iya juga sih, jadinya jauh dari mana-mana. Tapi kan, walaupun kampus ITB ada di Dago, toh ujung-ujungnya tetep nggak bisa ke mana-mana gara-gara sibuk, kan?

Di dalam kampus, gw diajak muret-muter sama Mbak Putri. Untung Mbak Putri bawa motor, kalau nggak mungkin gw bisa mendadak kurus saking gedenya itu kampus. Unpad Jatinangor itu ternyata dibagi dua, sayap kiri untuk jurusan IPA, dan sayap kanan untuk jurusan IPS. Kalau begitu, kenapa asrama buat anak FK ditaruh di sayap kanan, ya? Gw pun melihat GKU mereka yang nyentrik dan nemplok di sebelah “helipad-look-alike”. Lalu, gw dan Mbak Putri menyudahi tur dan parkir di Fakultas Psikologi.

Kejutan menanti gw ketika sampai di fakultas. Gw disambut oleh BEM-nya doong! Ternyata, Mbak Putri ini orang yang cukup disegani di kampus dan dia ngabarin ke BEM kalau gw mau datang berkunjung. Halah, malu-maluin banget, dikirain perwakilan dari kampus manaaaaa gitu mau studi banding, padahal kan niatnya juga cuma iseng-iseng cari kenalan.

Berhubung sekarang lagi SP, Fakultas Psikologi saat ini sepi banget. Tapi, kurang personel bukan berarti garing, dong. Selama gw di sana, gw ketawa-ketawa terus sampai-sampai kawat gigi gw nyangkut-nyangkut di bibir. Habis, anak-anaknya ngocol banget sih. Ada Kak Rey, satu-satunya cowok dan yang paling tua di situ, bersama pacarnya yang namanya gw lupa. Pacarnya itu tipe gw banget, sayang udah ada yang punya. Terus ada orang Jakarta berambut bob, Evita, yang nggak kalah ngocol. Dan terakhir, ada Nita, yang kayaknya hari itu ditakdirkan jadi objek derita. Kayaknya, ketika Mbak Putri ngabarin kalau gw mau datang, dia yang reaksinya paling heboh sampai-sampai digodain habis-habisan. Quotes of the day, by Kak Rey, “Proyekan kalau jadian lima ratus ribu, kalau nikah lima juta.”

Kita sempet ngobrol-ngobrol lumayan lama di sekre BEM-nya. Gw menjelaskan sistem organisasi di kampus (secara seadanya, mengingat gw nggak pernah aktif di yang gituan. Duh, tengsin banget deh). Nita curhat kalau dia nggak dapet jodoh anak FK padahal kampusnya seberangan. Terus kita diskusi mengenai biaya pendidikan yang makin mahal, dan kenyataan kalau SPP di ITB JAUH LEBIH BESAR ketimbang Unpad. Conclusion of the day: cepat-cepatlah menikah dan punya anak, sebelum biaya sekolah jadi mahal. Hehehe.

Obrolan berlanjut ke kantin di sebelah sekre BEM. Di sana, gw berdiskusi (tepatnya menanyakan arti) mengenai penyimpangan-penyimpangan kejiwaan yang gw kenal, kayak MPD, Skizofrenia, dll, dkk. Akhirnya Mbak Putri membuka kuliah singkat mengenai topik TA-nya, yaitu Resiliensi Mahasiswa yang Menghadapi Ujian Akhir. Resiliensi adalah kemampuan seseorang dalam hal mengembalikan dirinya ke keadaan semula setelah menghadapi masalah. Dan menurut Mbak Putri, resiliensi seseorang bisa ditingkatkan. Wow, apa nggak menarik, tuh?

Akhir kata, kelas pun dimulai dan gw serta Mbak Putri mengakhiri hari dengan duduk-duduk di masjid. Saat itulah Mbak Putri bilang, “Baru kali ini saya ketemu orang kayak kamu.”

Gw menoleh heran. “Eh?”

“Baru kali ini ada orang yang beneran mau ketika saya ajak ke sini, ke lingkungan yang notabene baru banget buat orang itu. Langkah awal yang kamu ambil udah tepat. Sekarang tinggal mencari apa yang kamu inginkan dan buktikan kalau kamu bahagia dengan itu.”

Kata-kata itu bikin gw merenung. Ya. Gw sudah hampir kepala dua, sudah sampai fasa “dewasa” secara psikologis dan gw bahkan belum menemukan apa yang gw inginkan. Gw udah sampai pada fase “butuh-bantuan-pihak-luar-untuk-mengenali-siapa-diri-gw-sendiri”. Dan, Mbak Putri pun menawarkan gw untuk jadi OP (Objek Penderita. Bukan deng, Objek Penelitian). Wow, konseling dan psikotes gratis? Siapa yang nggak ingin? Hehehe...

Akhir kata, gw senang banget hari ini. Dapat teman baru, motivasi baru, dan banyak kesempatan baru (waktunya membongkar naskah-naskah lama gw, kalau begitu). Thank God, for sending all those miracles to me today.