Friday, August 15, 2008

(Clueless But Lovable) New Kid on the Gym

Jadi, ceritanya, kemaren tuh minjem majalah fitness tua dari si Bayu. Edisi lama sih, tahun 2003 kalau nggak salah. Tapi di situ ada artikel menarik: “Jadilah Personal Trainer bagi Anda Sendiri!” (or something like that). Ternyata artikel itu berisi panduan latihan yang diambil untuk empat minggu pertama bagi pemula (seperti aku). Jadi, dengan dibakar semangat membara (biasalah, awal-awal gitu), aku memutuskan untuk pergi ke sabuga buat nge-gym (sebodo amat si Iman nggak bisa ikut).

Seperti biasa, kebangun jam enam. Bangun, mandi, dan nyeduh energen. Sengaja nggak sarapan soalnya takut sakit perut (sarapannya dijadikan bekal, sih). Berangkat dari rumah, jalan dulu sampai Jalan Sunda (kayak biasa), itung-itung pemanasan. Naik angkot, turun di Ganeca, dan jalan lintas kampus sampai Sabuga (sempat ketemu anak-anak panitia INKM yang lagi sibuk-sibuknya). Sepanjang jalan, si majalah itu sama sekali nggak masuk tas.

Kenapa aku rela meganging majalah itu sampai gym? Karena ada yang mau aku tanyakan. Salah satu item latihan itu memakai mesin calf-raise. Dan aku nggak tahu mesin calf-raise itu yang mana. Secara emang nggak pernah nge-gym sebelumnya. Jadi, aku mau langsung nanya ke instrukturnya sambil bayar biaya nge-gym (biar nggak diliatin orang gym lain dan akhirnya tengsin).

Niatnya sih gitu. Makanya, sambil nyodorin duit buat bayar, aku langsung todong si instrukturnya. Berikut petikannya (dengan format meniru para blogger profesional macam Mbak Miund dan Mas Radith):

Aku: Mas, kalau latihan yang ini pake alat yang mana ya? (sambil nunjuk latihan yang dimaksud sembari tengsin-tengsin malu-maluin)

Instruktur: (cuek. Nerima duit, trus ambil pulpen) Iya, tunggu ya. Namanya siapa?

Aku: (nutup majalahnya) Ferdy...

Si mas-mas itu pun menulis namaku dengan ekspresi datar dingin tanpa ekspresi (lho?). Aku jadi kikuk, secara aku bingung mau terus SKSD atau nggak. Si mas instruktur nyerahin kunci loker, terus ujug-ujug nanya, “Yang mana latihannya?”

Aku langsung nyodorin. “Yang ini, Mas.” Terus baru nyadar kalau aku nyodorinnya kebalik. Sumpah deh, selama ngbolak-balik halaman majalah itu, aku berdoa semoga nggak ada orang yang datang dan bayar. Untung inget halamannya di mana.

Si mas instruktur ngeliatin latihan yang kumaksud, terus manggut-manggut. “Oh, yang ini. Bisa kok pake mesin yang itu.” Dan dia menunjuk ke suatu arah yang tampak abstrak.

Berhubung kalau aku tanya juga aku nggak akan tahu yang mana mesinnya (secara mesin-mesin di situ two-in-one semua), aku langsung bilang, “Ya udah. Ntar tolong tunjukin aja yang mana, ya? Makasih!” dengan senyum-innocent-anak-19-tahun-yang-bisa-menjinakkan-bapak-bapak-ganas-sekalipun. (:P)

Time is money (or, in this case, health), so I got changed, put my belonging into locker, and stepped into my first training machine: leg press. Masih mengingat prinsip-prinsip yang ditulis di artikel itu: satu set lima belas repetisi, tiap repetisi enam detik, gunakan beban awal yang PALING ringan kalau tidak tahu beban awalnya berapa.

Nah, di sini mulai bingung. Secara di sesi workout-ku yang sebelumnya, aku pake beban yang beratnya dua puluh kilo (sepuluh kiri, sepuluh kanan). Yasud, kadung gengsi, berlatihlah aku pake beban segitu. Kelar dari leg press, sambil ngitung sampai 90 dalam hati (karena di sana ditulis isirahat antar latihan 90 detik), aku pergi ke latihan berikutnya: lat pulldown. Di sini sih nggak ada masalah. Palingan salah ngeset beban sehingga latihan yang niatnya satu set terpaksa dinaikkan menjadi tiga set.

Sembari ngumpulin napas sehabis narik-narik beban dua puluh kilo, si mas instruktur manggil. Dia nunjuk mesin leg press yang (lagi-lagi) ternyata two-in-one.

Instruktur: Pake aja mesin yang ini. Coba lepas joknya (sembari nunjukin bantalan jok yang terpasang di kaki mesin).

Aku: (mulai berjongkok, mencari kenop buat dilepas) Mmm... gimana? Nggak ngerti, mas...

Instruktur: (berjongkok, mencabut jok (gampang banget ternyata!), terus ngotak-ngatik mesinnya. Mendadak mesinnya jadi mirip sama yang di majalah, walaupun nggak tegak) Nah, gini doang, kok.

Aku: (nahan malu) Oke. Makasih! (Sambil mempertontonkan senyum pamungkas)

Oke. Aku ngaku. Aku emang nggak pakar soal ngotak-ngatik gituan. Bahkan (mau ngaku nih) pake treadmil aja nggak bisa karena nggak ngerti komputerisasinya. Kurang clueless apa aku ini, coba?

(Backsound: bilang aja udik)

Habis itu, langsung melesat ke pojok barbel. Jadi, barbel itu adalah batang besi yang di ujungnya dikasih pemberat mirip donat dan ditahan pake baut. Biasanya suka ada orang yang make sebelum aku, jadinya aku tinggal buka dan ganti bebannya. Tapi, kali ini, barbel itu masih teronggok manis di depan cermin. Masih belum dirakit.

Diiringi insting, aku ambil satu batang besi yang paling nggak karatan dan ada ulirnya (logikanya, si baut harus bisa nahan si beban, dan itu nggak mungkin kalau batangnya nggak berulir). Aku seret benda itu ke deket dumbel, tempat beban-beban tiga kilo-an terpasang di dumbel (mirip kayak barbel, tapi lebih pendek). Insting bekerja lagi, dan aku membuka baut di dumbel buat ngambil bebannya. Satu keambil.

Karena aku bekerja dengan prinsip satu-satu, aku pasang dulu si beban itu ke batang barbel. Kan di sana tuh ada cincin besi di ujung ulirannya, aku anggap itu bautnya. Dan, dengan lugunya, aku berusaha membuka cincin besi itu sampai akhirnya nyadar kalau cincin itu dipaten ke batang barbel! Sampai-sampai orang yang lagi bench press di sebelah kasihan melihat aku. Dan, bodornya, dia berusaha membantu dengan melakukan sesuatu yang lain dari niatku semula: ngebuka cincin besi yang (ternyata) dipaten.

Bench-presser: (naro barbelnya) mau dibuka yah mas?

Aku: (gugup) i-iya (masih belum nyadar cincin besi itu dipaten)

Bench-presser: (ngambil dumbel yang bautnya kayak kembang itu. Dia ngambil sesuatu yang keras, terus dipukulin ke bautnya) Nih, mas (sambil buka tuh baut yang curiganya udah bisa dibuka sejak awal)

Aku: Makasih (tengsin, tapi tetap tersenyum. Baru nyadar kalau itu dipaten)

Yah, mas... maaf deh kalau aku mengganggu latihanmu yang berharga. Maklum, anak baru. (:P) Seolah belum cukup, aku nekad masukin mur buat dumbel ke batang barbel. Ya jelas nggak akan masuk, dodol! Si mas bench-presser kali ini nggak ngebantuin. Mungkin dia sibuk bench press kali ya. Dan akhinya si aku menyadari kalau baut buat barbel ada di keranjang merah di bawah rak. Yaelah... ngomong dong dari tadi!

Rasa malu pun ditimpakan pada barbel yang tak berdosa: dipake barbel curl setengah nafsu. Habis itu bench press (sempet nunggu lama karena ngeliat cowok yang malu-malu kucing gitu pakenya; dua repetisi, menghela napas lelah, taro barbel, duduk, celingukan, latihan lagi. Jangan ge-er lah, yang gua lihat tuh mesinnya, kok. Bukan situ) dan dikoreksi pelatihnya (“Batang besinya sejajar dada. Mundur lagi.”). Sembari nunggu bench press, aku sempet-sempetin nyoba sit-up negatif yang pelan tapi melelahkan. Cobain, deh. Habis itu, ada dua item lainnya sampai akhirnya tiba ke item yang ditunggu-tunggu: heel raise!

Dan di sini, aku kembali menjadi si tampan yang clueless. (:P)

Jadi, ceritanya, mesin buat heel raise itu tuh mesin yang sama dengan leg press. Dan mesin itu baru aja dipake ibu-ibu bertato kaki. Aku tahu kalau sandaran kaki buat leg press harus dibuat lurus, tapi nggak tahu caranya karena tadi lebih mikirin cara nyopot jok. Dan, lagi-lagi, aku menjadi objek yang patut dikasihani saat mencoba mencopot baut yang (lagi-lagi) ternyata dipaten ke mesinnya.

Ibu kaki bertato: mau diapain, mas? (tampang prihatin)

Aku: (nggak yakin bisa nerangin) mau dilurusin, Bu.

Ibu kaki bertato: (mulai ngotak-ngatik batang penopang sandaran) mau dimiringin yah, mas?

Aku: (mulai bingung neranginnya gimana) dilurusin, bu. Biar sejajar. (tangan mulai main, meliuk-liuk nggak informatif)

Ibu kaki bertato: begini? (sambil ngotak-atik mesin. Tiba-tiba sandaran kakinya udah lurus)

Aku: Iya, bu (tengsin lagi) Makasih (senyum marketing profesional pun keluar)

Aaaarrrghhh! Aku memalukaaaaan!

Akhirnya workout itu pun diakhiri dengan knee raise dan back up masing-masing empat puluh repetisi (saking kesalnya). Habis itu chit-chat sama mas instruktur. Kita ngomongin banyak hal. Tapi, yang paling nanjleb pas dia bilang, “Crunch aja yang banyak. Yang normal aja.” Buset, jadi dia tahu aku pake sit-up negatif dari tadi! Aku diperhatikan olehnya! (mata mulai berkaca-kaca) Akhirnya SKSD-ku berhasil! Horeee!

Kesimpulannya, workoutku hari ini berantakan banget. Yaiyalah, nggak ngurut soalnya. Harusnya kan dari ujung kaki ke bahu, ini malah loncat-loncat. Mana bingung pula mau nerusin program dari majalah atau program di dinding gym. Tapi, ya sudah. Toh, sekarang aku tahu kalau aku bisa chit-chat sama mas instruktur dan pelanggan tetap gym sabuga. Hehehe...

Yah, seperti janjiku sama mas instruktur: kalau jadwal memungkinkan, aku mau jadi member dan workout tiga kali seminggu. Pokoknya, satu tahun dari sekarang, aku harus punya tubuh bagus!

Semangat!

No comments: