Tuesday, April 28, 2009

Littel Devil Named Ciko

Haa... udah lama yah nggak nulis di Blog. Bukannya malas, tapi nggak sempat. Minggu-minggu kemarin memang badai UTS-UTS dan laporan-laporan. Kalau tulisan gw makin lama makin rapi dan halus, berarti memang wajar, wong ujian dan laporannya tulis tangan semua. Hehehe...

Anyway, who is this little devil named Ciko? He's a little prince from hell (namanya juga devil). Nggak deng. Ciko is a kitten, my household-assistant's (a.k.a. asisten rumah tangga). Ceritanya, setelah kematian Komeng, dia merindukan kehangatan seekor kucing (lho?). Kebetulan ada anak kucing--entah ngebrojol dari mana--yang akhirnya diadposi oleh dia, which is ciko. Ciko ini cukup lucu untuk ukuran anak kucing (emangnya ada anak kucing yang nggak lucu?). Warnanya abu-abu lumut, bulunya lumayan mengembang (kayaknya induknya kucing ras), dan matanya belo (yang bikin dia makin lucu). Sayangnya, mungkin karena masih anak kucing, Ciko ini lumayan sangat hiperaktif. Kalau dikurung, menjerit-jerit minta keluar. Sekalinya keluar, lari sana-sini sampai-sampai potensial-ketendangnya sangat tinggi.

FYI ajah, Komeng itu adalah kucing (kampung juga) yang kerjaannya hamil. Dan, kalau udah hamil, hobinya loncat lewat jendela kamar gw (yang memang menghadap ke jalan) dan masuk seenaknya ke lemari pakaian gw, mungkin nyari tempat buat melahirkan. Yah, agak nyebelin juga sih,memangnya ada apa dengan lemari gw?!

Oke, balik lagi ke Ciko. Hari ini, asisten rumah tangga yang merangkap tuannya Ciko lagi pulang kampung (dia memang pulang kampung setiap dua minggu sekali). Berhubung tuannya nggak ada, Ciko dikurung di kandang, dan dia nggak henti-hentinya mengeong. Mungkin karena kasihan, Bibi gw pun menyuruh gw untuk melepaskan si Ciko di taman tengah rumah. "Bisi pamali," kata beliau.

Ya sudah, sebagai keponakan yang berbakti, gw pun naik dan mengeluarkan Ciko dari kurungan. Sebenarnya sih, gw juga pengen megang-megang Ciko. Lagian, ada riset yang menunjukkan kalau mengelus hewan peliharaan dapat menurunkan tingkat stres, dan gw merasa stressful akhir-akhir ini. Gw pun dengan santainya menurunkan si Ciko di taman tengah rumah gw. Lucu juga lihat dia ngendus-ngendus daun atau ngintip isi tempat sampah. Kemudian panggilan alam menerpa gw; gw pun pergi ke kamar mandi.

Dan, pas gw balik lagi, SI CIKO ILANG!

Degg, mampus gw. Gimana juga, si Ciko dititipin ke gw. Kalau sampai si Ciko kenapa-napa, bisa-bisa asisten rumah tangga gw nangis bombay lagi. Bibi gw juga sama hebohnya waktu tahu si Ciko ilang. Kita berdua pun kompakan nyari si Ciko; gw nyari di taman, dan si Bibi nyari di bawah tangga.

"Coki, coki, coki!" panggil Bibi sambil ngdek-ngudek kotak sepatu.

"Namanya Ciko, wa," koreksi gw.

Arrghh... kenapa harus ada anak kucing yang main petak umpet dan bikin sport jantung sekarang? Sementara ada slide presentasi fismik setengah jadi yang terus memanggil-manggil gw untuk membereskannya, dan laporan-laporan terakhir yang deadlinenya udah mepet. Huff, gw menyibak rumput-rumput hias dengan kaki, kalau-kalau si ciko ada di sana. Gw negbungkuk-bungkuk ngintip di bawah kursi. Gw bahkan keluar dan mondar-mandir di teras kalau-kalau tuh anak kucing keluar.

Dan ternyata si anak kucing ada di lantai 2, dong! Kok bisa, ya? Padahal tangga di rumah gw adalah tangga kayu yang mirip-mirip grafik fungsi distribusi (halah). Belum lagi jarak antar anak tangga itu lumayan tinggi. Hebat juga dia bisa naik tangga itu dan nyampe ke atas.

Akhirnya, karena semua orang udah kapok ngelepasin dia (dan sport jantung lagi), si Ciko pun dikurung lagi di atas (Dan meong-meongan lagi samapi sekarang). Oh ya, bagi yang penasaran sama si Ciko, ini dia nih fotonya:

Tuesday, March 10, 2009

Lagi geje dan pengen nyampah di blog...

Another Tuesday. Another lab day...

Heugh...

Gw merasa tampil beda hari ini, tapi gw ragu ada orang yang nyadar. Yup, proses makeover gw hari sabtu kemarin ternyata lumayan sukse. Okelah, dari dulu gw suka berambut mohawk, tapi dari dulu juga gw udah pake rambut mohawk. Dan toh orang-orang pada nggak nyadar juga.

Masalahnya sih bukan itu, tapi fakta kalau rambut gw harus dijinakkan dengan wax biar nggak kayak "cowok-pucat-baru-bangun-tidur-dan-siap-pingsan". Dan gw nggak begitu suka pake wax. Wax bikin kepala gatal, panas, dan membuat jejak-jejak putih aneh di dahi kalau gw sampai keringatan (tau sendiri kan gw suka banget jalan kaki).

Itu artinya, gw nggak pernah pake wax kecuali dalam keadaan yang mengharuskan gw tampil 100%. Dan, gw rasa, gw harus tampil 100% di hari ini.

Oh, bukan. Gw nggak berdandan untuk praktikum, kok. Ngapain juga, lagian? Sebagian besar cowok dan udah pada tua juga (jahatnya gw, wkwkwkwkw). Gw kira gw bakal diajak ngecengin anak kampus tetangga sama seseorang, makanya gw mau tampil beda.

Dan seseorang itu, sampai sekarang, nggak ngontak gw sama sekali. Heugh.

Pas Zuhur nanti cuci rambut ah...

Anyway, gw lagi bingung sekarang. Gw dihadapkan pada pilihan yang, bisa dibilang, hanya gw yang harus tentukan. Karena, kalau gw meminta saran orang tua gw, gw yakin mereka pasti menolak--atau memaksa gw untuk menolak. Heugh, padahal gw ingin mengambil pilihan itu, tapi gw takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin muncul karena gw kini nggak di-back up sama keluarga gw lagi. Paranoid? Entahlah...

Heugh, sekarang gw nganggur sampai praktikum, dengan jurnal Fismik di tangan asisten dan modul fismik ilang di lab. Entahlah apa gw bisa dapat nilai bagus buat tes awal nanti...

Intinya: butuh teman curhat sekaligus tempat pengakuan dosa... ada yang minat?

Sunday, March 8, 2009

Opera Ganesha: Klimaks Kedigjayaan Civitas ITB

Ini Dia nih, tiket yang cuma dilepas 400 biji ke Mahasiswa... Unfair!

Opera Ganesha. Sebuah acara yang membuat penasaran civitas kampus selama seminggu lebih rangkaian Dies Emas ITB. Sebuah even klimaks dari perayaan kedigjayaan kampus ganesha. Sebuah opera luar biasa ber-tagline “Napak Tilas Gajah Kencana Meniti Kala”.

Saat balihonya pertama dipasang di depan gerbang ganesha, saya sudah kebelet ingin nonton. Pasti rame banget, nih. Apalagi setelah mendengar desas-desus dari teman-teman yang bermain peran di sana. Untungnya saya berhasil mencomot satu dari lima tiket yang dikirim ke rumah—walaupun akhirnya yang dipakai cuma tiga tiket (keluh).

Waktu sampai di Sabuga Minggu malam (8/3), saya benar-benar kagum. Disambut oleh resepsionis yang rapi-rapi dalam dandanan serbahitam, saya—dan paman serta bibi saya—digiring menuju lorong berisikan foto-foto. Ada foto kampus masa kini, foto hitam putih yang mungkin diambil saat pemerintahan Soekarno, foto berwarna berisikan orang-orang dengan dandanan eighties… saya ingin melihat-lihat, namun juga tak sabar ingin menonton operanya.

Kami dapat bangku di jajaran tengah, dereta paling depan. Entah beruntung entah sial. Namun aku nggak bisa protes, karena bangku lain yang tak terisi hanya di jajaran samping. Aku jadi ingat akan keluhan temanku yang menyayangkan dirinya tak dapat tiket masuk padahal dia penari.

Pukul tujuh lebih—hampir setengah delapan—acara dibuka. Panggung dipenuhi hiruk pikuk layaknya di peron, didukung oleh layar yang menayangkan gambar kereta api. Ada penjaga peron yang berdiri di tengah, ekspat yang menggandeng istrinya, none belanda yang belanja gulali, tukang sapu, pengemis. Seorang ibu hamil yang ditinggal suaminya hilir mudik di depan bangku penonton, begitu pula seorang penjual balon. Aku kenal ibu hamil dan penjual balon itu, namun sayang aku nggak dapat balon (wkwkwkwkwk).

Narator mengumumkan keberangkatan kereta. Layar menjadi redup, dan menayangkan gambar gajah-gajah tengah berlari. Tampaknya gajah menjadi simbolisme civitas ganesha, atau bahkan ITB itu sendiri, karena sesaat kemudian rombongan penari berkostum kuning dan bertopeng gajah mulai memasuki panggung. Sang konduktor, Purwacaraka, mengangkat batonnya, dan lagu khas orkestra yang membahana pun mengalun memenuhi jagat Sabuga.

Keluhan teman saya pun terjawab. Para penari tidak memerlukan undangan, karena mereka menari sepanjang pertunjukan. Tarian mereka seirama dengan lagu, sesuai dengan tema yang ingin disampaikan konduktor dan narator. Mereka terus menari, kadang lincah, kadang ceria, kadang menghentakkan kakinya penuh amarah. Bagai dikomando oleh lagu, mereka terus bergerak selama scene-scene perlambang perjalanan ITB tersebut.

Berbagai macam musik mengalun, sesuai dengan tema bagian itu. Saat peresmian ITB untuk pertama kalinya, lagu yang dimainkan adalah lagu di panggung broadway yang ceria. Tari kecak dijadikan perlambang masa kelam G30S(PKI), dan para penari menghentakkan kakinya seolah sedang berperang. Ketika datang masa tenang, PSM ITB menyanyikan lagu “Naik Delman” yang diaransemen ulang dan para penari bertingkah bagai anak kecil menari riang. Lagu menegangkan kembali mengalun saat bagian “Menjatuhkan Rezim Soeharto” dan dua barongsai-berkepala-gajah dengan lincahnya berusaha saling menjatuhkan (salah satu gajah berwarna kuning dan lainnya merah, simbolisme?). Dan, untuk melambangkan masa kini yang penuh kreasi, lagu-lagu ceria kembali mengudara dan para penari kembali melakukan tarian-tarian sederhana dan modern. Ada breakdance segala, lho! Dan sumpah, itu keren banget!

Acara akhirnya ditutup dengan gegap gempita. Seluruh pihak yang menjadi tulang punggung acara ini mendapat karangan bunga dari orang-orang penting civitas ganesha. Tampak kepuasan dari mata setiap partisipan, terutama para penari. “Kita latihannya udah lama banget, nggak ada yang mau turun dari panggung,” ujar seorang teman, Inta, yang tampak begitu bahagia. Bravo civitas ganesha! Bravo opera ganesha! Bravo untuk kita semua!

Sunday, February 15, 2009

Alay

Tadi pagi, ketika baru bangun tidur dan buka Facebook (kebiasaan yang mulai mengakar akhir-akhir ini), ada notification yang "nyentil" banget. Notification itu berbunyi, "[Nama teman saya] has joined group Fight Indonesian Alay".

"Indoesian Alay". Sungguh frasa yang menggelitik. Soalnya, kata "alay" adalah kata yang baru dipopulerkan akhir-akhir ini dan--sayangnya--semua orang yang saya tanyakan nggak tahu artinya apa. bahkan saya sendiri suka menggunakan frasa "band alay" (tahu lah merujuk ke mana) dan kebingungan kalau ditanya apa arti alay itu. Karena itulah saya meng-klik halaman group itu dan menemukan bahwa alay itu... klik sendiri di sini deh.

Heugh, mau tak mau saya merasa (agak) tersindir. Soalnya poin nomor 3 itu "gw banget". Yang kenal saya pasti tahu kalau saya tak lepas dari headset (halah, yang di Facebook itu nulisnya salah) Philips atau SE yang selalu saya gantung di leher saya. Dan, lebih parahnya lagi, kadang saya suka over-menjiwai kalau denger musik pakai headset (terutama Rihanna-Disturbia). Tapi, kalau ada yang iseng lirik playlist saya, maaf saja, tidak ada Kangen Band atau ST12 di situ (meng-counter poin 19). In facts, saya sangat sedikit menyimpan lagu Indonesia di HP/MP3 player (dan seringnya sih nggak saya dengar) dan kebanyakan lagu-lagu keluaran 2000-an. Jadul nggak sih itu?

Anyway, mengenai arti kata alay sendiri, saya punya teori tersendiri. Alay asalnya cuma suatu kumpulan huruf yang nggak punya arti. Mungkin itu cuma celetukan orang iseng yang jago menciptakan istilah baru yang kemudian menyebar dan memopuler. Kenapa Alay? Mungkin karena berrima dengan "jijay" dan "lebay", seperti karakteristik orang-orang yang dicap alay.

Seperti yang harus saya lakukan ketika bikin laporan, saya tentu harus meng-kroscek hipotesis saya dengan literatur (halah). Karena di kamus terbitan tahun 90-an tidak mungkin ada kata ini, satu-satunya sarana yang mungkin adalah internet. Dan saya menemukan list arti kata alay di sini, yang simpulannya adalah alay = kampungan dan norak.

Dan saya ngakak mampus sekaligus kasihan sama orang-orang alay. Kasihan, mereka jadi stranger dan outsider masa kini, terlepas dari niat mereka yang mungkin mulia sepereti pengen eksis. Hakhakhakhak...

Sedikit intermezzo, ketika saya pertama kali mendengar lagunya Kangen Band, saya kira boyband malaysia (yang dulu populer dengan lagu Gerimis Mengundang) mulai menginvasi Indonesia dengan konsep baru. Betapa tidak, lagu yang nggak jelas genrenya (pop-rock tapi bercengkok dangdut), syair yang miskin dan sering diulang, petikan gitar efek yang kadang fals, semua itu bikin saya berharap punya headset baru (headset saya rusak waktu itu) dan menduga bahwa tukang angkot berkomplot menguasai dunia lewat lagu-lagunya Kangen Band (yang kalau didengarkan oleh orang seperti saya lima menit saja bisa bikin kejang-kejang).

What's wrong with those alays? Well, believe it or not, they're just different.

And annoying. Bagi beberapa orang.

In the beginning, maybe they're just a bunch of people, normal people, who think that they're unacknowledged. Mereka merasa, kalau mereka normal, mereka nggak akan dapat perhatian yang mereka inginkan. Sehingga mereka mengubah citra dirinya untuk berbeda dan (sukur-sukur kalau) stand out. Yang cowok menjadi agak emo (seperti yang memenuhi Jalan Dago dekat Aquarius kalau malam minggu) dan yang cewek mengira kalau mereka menjadi lebih "kanak-kanak" (tercermin dari cara bicara mereka yang mirip balita), mereka akan tampak lebih cute. Tentu saja hukum kebalikan berlaku di sini (dan pelakunya bakal mendapat tatapan dan cap aneh dari masyarakat).

Sayang sekali, penampilan saja ternyata nggak cukup. Menyitir salah satu Aesop's Fables, Outer beauty is a poor substitute for inner worth, mereka mungkin nggak cukup knowledgeable untuk menjadi masyarakat normal. Karena itu, mereka melakukan segala cara untuk menarik perhatian, dan buta akan kenorakan yang timbul akibat perbuatan mereka. Misalnya meng-add atau memaksa orang meng-add mereka di friendster--yang memang gudangnya alay dan ketidak jelasan, memajang "teman-keren" dan memperbanyak comment di (lagi-lagi) FS, dan bahkan tindakan negatif seperti cari ribut. Kalau itu tidak cukup juga, mereka akhirnya bikin komunitas sendiri dan me-reject orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Tindakan "cari-perhatian" itulah yang membuat kesal orang-orang non-alay. Siapa yang nggak kesal kalau tiba-tiba ada orang asing meng-add akun FS-nya padahal dia sudah bertekad akan memasukkan hanya kenalannya ke dalam friend list-nya? Belum lagi kalau orang asing itu berkali-kali mengirimkan komen bertuliskan, "uiyyyy, kOq cMa pHiIiew? aDd dUnkzz" yang selain bikin sakit mata juga menuh-menuhin comment saja.

Sebenarnya, secara garis besar, ini hubungan timbal balik. Orang-orang yang terganggu me-reject alay, dan alay balik me-reject mereka. Seperti group yang dimasuki teman saya dan tandingannya di sini. Ini nggak akan selesai kalau tidak ada saling pengertian dari kedua pihak.

Atau mungkin ini sudah di-plot untuk tidak akan selesai? Hmm... interesting. I smelled something in here...

Yeah, I smelled something. My own body odor. Ketahuan deh belum mandi. Wuekekekek...

In the end, bagi yang nggak suka alay, bersiaplah untuk menahan diri. Karena virus alay sudah mulai bermultiplikasi dan bahkan menginfeksi Facebook. Bagi para alay, tolong yah, mental Friendster-nya jangan dibawa ke Facebook. Ngeganggu soalnya.

Cheers.

PS: One question remains. Apakah saya alay? (berharap bukan)




Friday, February 13, 2009

Color Checking Result

Iseng-iseng nyoba ini karena banyak banget notes berseliweran tentang ini. Jadi penasaran, dong aku? Hehehehe....

Oia, kalau mau juga, bisa klik di sini

Entry: Muhammad Ferdyansyah Sechan, Male, 13-10-1989

Dan inilah hasilnya (jengjengjengggggg):

Muhammad Ferdyansyah Sechan

13/10/1989

You are Red Tiger, who is not shy, and are able to keep rock-steady stance to whoever approaches you.

(Haha, bener nih? Memang aku menyikapi orang dengan cara yang berbeda-beda sih)

Your looks represent your characteristic, and you look good natured.

(Berarti characteristic aku pun good natured dong? Memang sering divonis orang baik sih)

Nevertheless, there are delicate, sensitive and intelligent sides to you.

(Delicate? Sensitive? Wah, bener gak sih? Yang jelas emosiku memang nggak stabil sih)

And you sometimes give an impression of being difficult to get to know.

(Hahaha, iya ya. Mungkin itulah sebab aku jarang disapa orang. Heuheu...)

You have high self esteem and you carry out thing on your own pace.

(Salah satu aplikasinya adalah nggak suka diatur. Bener nggak?)

You have strong will power and are a person of mettle.

(Strong Will? Amin... BTW, What does mettle mean?)

You can finish fatigue duties like putting together a plastic model, even if takes ages.

(Haha, beneran nih?)

But you demand the same effort from those around you.

(Nggak juga ah. Emang sih agak bete sama orang-orang yang lelet)

You tend to be too critical, and may be seen as a nagging person.

(Pantesan tukang jualan rada-rada ilfil, soalnya nanya-nanya mulu sih...)

You think high of your points of view.

(Hahaha, egois banget yak?)

You only judge others with your scale.

(Memang sih)

You can be hard minded and obstinate person, as you tend to stick to your opinion and not change it easily.

(Haha, my mama told me that)

But really, you are able to look at situation as a whole, and are a well-balanced person.

(Well-balanced? Librans?)

You tend to be good at putting together the plans and ideas of your fellow workers.

(Yep. Harus ada ide awal yang bisa aku kembangkan)

You are not very good at planning from the beginning and coming up with ideas.

(TEPAT SEKALI! Aku suka bingung kalau disuruh ngasih ide awal)

You wish to succeed and carry out things all by yourself.

(I'm almost a perfectionist when I have to)

You dislike being told what to do, and get help from others.

(Being told sih bener. Get help?)

You will have hard time as a fresh recruit.

(WADUH?!)

You tend to be not good at reading other peoples minds.

(Hahaha, BENER! Makanya aku nggak cocok dimintai nasihat)

Well, itulah hasil ramalan si doubutsu uranai. It's Scarily accurate! Hehehe...

Wednesday, February 11, 2009

Ospek: Rumput Liar Akademisi ITB

Sudah beberapa hari ini ITB mendadak tenar. Namanya—yang memang sudah besar—disebut-sebut di TV dan koran. Namun sayang, bukan karena ITB baru saja mengirimkan kontingen untuk lomba skala internasional atau menjadi tuan rumah suatu seminar bergengsi, melainkan karena kematian salah satu mahasiswanya. Dan ironisnya, kematian mahasiswa itu terkait erat dengan satu kata yang—saya yakin ini benar—menjadi momok bagi para mahasiswa (dan calon-calonnya): Ospek.

Yup. Kegiatan yang telah dinyatakan dilarang diadakan sejak tahun 2005 ini kembali memakan korban. Korbannya adalah mahasiswa dari jurusan berinisial GD. Penyebab kematian diduga akibat turunnya daya tahan karena kelelahan fisik dan lingkungan yang kurang bersahabat. Padahal, mungkin saja dia ada di antara orang-orang berkostum kotak-kotak yang menenteng carrier besar yang kulihat hari Sabtu lalu.

Dan, mirisnya, pemberitaan media massa membuat seolah-olah ITB-lah penyebab kematian korban. Seolah ITB menjadi IPDN masa kini yang melegalkan ospek berbahaya. Padahal saya tahu persis bahwa setiap mahasiswa angkatan 2007—termasuk saya—menandatangani surat perjanjian di atas materai—yang berarti surat tersebut mengandung kekuatan hukum. Surat tersebut menyatakan bahwa siapa pun yang mengikuti ospek—atau kaderisasi atau apa pun namanya—akan mendapat sanksi dikeluarkan dari ITB. Itu berarti, ITB telah melakukan tindakan preventif sebisanya, sehingga agak tidak bijak kalau ITB-lah yang didiskreditkan.

Ospek memang dilematis. Ospek lekat dengan image perpeloncoan, tekanan mental, push-up, marah-marah, luka, dan seabrek hal negatif lainnya. Bahkan kini ospek terkesan sebagai sarana pamer otoritas dan penyiksaan senior pada junior yang dilatarbelakangi balas dendam karena dulu senior juga diperlakukan begitu. Banyak sekali nada miring mengenai keberadaan ospek, mulai dari celetukan kalau ospek harusnya dihapus, keengganan orangtua mengizinkan anaknya ikut ospek, sampai tindakan kampus yang men-DO semua peserta dan panitia ospek.

Namun, di balik semua nada miring itu, mengapa ospek—yang telah berganti nama menjadi kaderisasi—tetap saja muncul bagai rumput liar? Mengapa ketua himpunan dan seluruh perangkat ospek—mulai dari ketua panitia hingga tim pelaksana—rela mempertaruhkan riwayat akademisnya demi acara ini padahal diskors atau DO membayangi mereka? Mengapa tertanam doktrin bahwa mahasiswa harus ikut ospek?

Saya pernah menanyakan hal ini pada senior saya yang angkatan 2003, dan ia menjawab, “Untuk solidaritas.”

Dan, saya setuju dengan jawaban itu.

Saya sudah pernah ikut ospek beberapa kali, dan memang betul apa yang senior saya katakan. Terlepas dari apakah orang Indonesia memang bermental kuda (dipecut baru jalan), masalah dalam ospek telah diset untuk tak bisa dipecahkan sendiri. Di bawah tekanan, para peserta ospek terpaksa bersatu untuk memenuhi tuntutan senior mereka. Dan, tak bisa dipungkiri, setelah dimarahi semalaman pada malam puncak dan akhirnya dinyatakan resmi masuk himpunan/unit, sense of belonging terhadap himpunan/unit itu pun makin tinggi. Peserta merasa, “Oh, inilah rumah gw, yang udah nerima gw apa adanya, bersama teman-teman dan senior yang sevisi dan senada. Gw akan berusaha keras memajukan ini.”

Selain itu, ospek juga menjadi sarana senior untuk mengajarkan skill yang (dianggapnya) berguna untuk kuliah nanti. Hal ini tampak pada ospek jurusan yang terkait langsung dengan alam, seperti Biologi, Tambang, GD, dan jurusan berprefix geo lainnya. Saya sudah mengalami, ketika diospek, saya harus membangun bivak (tenda darurat dari ponco tentara) dan pada akhirnya harus tidur di dalamnya (percayalah, dingin sekali di sana). Dengar-dengar juga, ospek GD mengharuskan pesertanya membawa makanan untuk seminggu, seolah-olah mereka akan bertahan hidup di hutan sana. Latihan fisik dalam bentuk push-up juga secara tak langsung membentuk tubuh pesertanya agar lebih kuat dan tahan banting saat nantinya terjun ke lapangan.

Namun, ospek tetaplah ospek. Yang ditonjolkan adalah senioritas dan pamer kekuasaan. Beberapa jurusan yang tak terjun ke lapangan latah menerapkan kekerasan yang berlebihan. Dengan dalih penurunan nilai dan menjaga solidaritas, kekerasan seolah dilegalkan. Juga prinsip lama yang menyatakan cowok harus tegar dan tahan banting, tak peduli apa pun yang ditimpakan padanya—hal ini tampak di jurusan surplus cowok yang notabene mayoritas di ITB. Tak heran, beberapa jurusan memiliki junior yang labil emosinya, seperti dikeluhkan beberapa teman saya. Atau kasus kematian yang menggegerkan bumi ganesha ini.

Saya bukan orang yang pro-ospek dengan membeberkan hal-hal di atas. Saya hanya membeberkan nilai plus ospek yang, saya pikir, bisa didapat dari kegiatan lain yang lebih manusiawi. Kalau hanya menurunkan nilai dan menciptakan solidaritas, kerja amal atau semacamnya lebih baik ketimbang tindakan absurd yang berisiko tinggi. Dan lagi, orang tua tentu memasukkan anaknya ke ITB dengan harapan anaknya menjadi akademisi, bukan preman. Oleh karena itu, untuk kakak-kakak senior yang berencana mengadakan ospek—atau apapun namanya—saya harap kakak-kakak mau mempertimbangkan tujuan awal diadakannya ospek. Saya harap ospek diadakan murni untuk mempersiapkan adik-adik juniornya menghadapi hidup yang memang keras, bukan menimpakan dendam masa lalu.

Cheers!

Thursday, January 15, 2009

Trimaster: Prolog

(Ini adalah novel fantasi saya yang rencananya mau diterbitin independen. Tolong dikasih umpan balik yaa... pliiis...)

Prologue

Seandainya saja mereka tahu apa yang akan mereka hadapi, mereka pasti berharap takkan pernah dilahirkan.

Ruangan itu adalah ruangan terbesar yang pernah ada. Besarnya menyamai seluruh alam semesta—atau mungkin lebih. Ruangan itu didominasi warna putih keemasan yang khas. Arah tidak berlaku di dalamnya: tidak ada rasi bintang, cakrawala, bahkan papan penunjuk arah. Ke mana pun mata memandang, hanya warna putih yang tampak.

Dan ia berdiri di situ, di samping timbunan materi paling campur aduk yang pernah ada.
Jubah keemasannya berkibar dalam keheningan, menutupi tubuhnya dari kepala hingga kaki. Kecuali mukanya, tentu saja. Ia membutuhkan mukanya—dan kelima indera yang tersemat di sana—untuk mewujudkan cita-citanya.

Sebuah citra tergambar di depan matanya—atau di dalam benaknya, ia tak pernah tahu. Citra yang menggambarkan sekumpulan sosok yang sangat dikenalnya: manusia. Citra yang mengingatkannya akan sesuatu yang telah lalu, sesuatu yang ingin ia lupakan.

Dan, di antara kerumunan itu, ia mengenali tujuh sosok bertubuh sehitam arang. Mereka begitu kelam sehingga tampak kontras di antara lautan abu-coklat yang mengelilingi mereka. Tubuh mereka dililiti rantai abu-abu karatan. Mata mereka, yang hanya berupa celah berwarna tanpa bola mata, menggambarkan kesakitan dan kepedihan yang sulit diungkapkan.

Ya, mereka. Aku jadi merasa kasihan pada mereka.

Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Kasihan? Ia seharusnya tidak lagi merasa kasihan. Ia telah membuang perasaan tak berguna itu bersama banyak sekali hal lain dalam dirinya. Rasanya memang aneh, kosong, namun ia seketika terbiasa. Dan lagi, aku harus melakukan itu agar tujuanku tercapai.

Ia menoleh ke arah timbunan materi di sampingnya, yang mengingatkannya akan fondasi sebuah pilar. Sedikit lagi, pikirnya, aku hanya harus bersabar sedikit lagi.

—Trimaster—

Sudah berapa lama dia berada di kota ini, tidak ada yang tahu. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu. Yang ia tahu, ia tak tahu ada di mana ia sekarang.

Kota metropolitan di kala hujan deras yang bagai ditumpahkan dari langit. Jalanan berubah menjadi sungai-sungai berair kelabu, membawa serta serpihan plastik dan kertas yang berasal entah dari mana. Mobil-mobil terperangkap di tengah, melengkingkan bunyi yang membuat telinga siapa pun panas mendengarnya. Langit berubah kelabu, seakan menjadi cermin raksasa yang memantulkan citra kota kelabu tepat di bawahnya.

Dan ia ada di sana. Meringkuk di bawah pohon damar besar di pinggir jalan. Tak peduli kalau ujung jubahnya yang koyak sudah terendam di genangan berbau lumpur dan sayur basi. Tak peduli kalau tetesan hujan dari sela-sela dedaunan tanpa ampun merajam kepalanya. Ia hanya meringkuk, memeluk erat sesuatu di dalam jubahnya bagai ibu melindungi anaknya.

Aku harus melindunginya, ulangnya dalam hati. Aku harus mengembalikannya pada pemiliknya.

—Trimaster—

“Jadi itu benar? Yang keempat akan datang?”

“Yang keempat sudah datang. Hanya saja, ia masih belum terbangun. Belenggunya terlalu kuat, tampaknya.”

Ia membanting tubuhnya ke kursi empuk di belakangnya. Ketenangan langsung membanjiri tubuhnya, memerangi kegalauan dalam hatinya. Ia benar-benar bersyukur telah menuruti konsultannya: piramida memang bagus untuk meditasi. Reflek, tangannya menarik lepas kacamata hitam yang sedari tadi menutupi wajahnya.

“Odin, dilarang menunjukkan siapa dirimu di dalam Valhalla. Kamu sendiri tahu itu, kan?” wanita di depan mejanya berbicara tajam.

Odin menatap muka wanita itu, yang juga ditutupi kacamata hitam. Ia tersenyum. “Hanya ada kamu di ruangan ini, Freya.”

Freya menatap sosok dewasa namun letih di hadapannya lekat-lekat. “Mengenai yang keempat, apa yang harus kita lakukan?”

“Aku tidak tahu,” Odin berharap suaranya terdengar tegar, “tapi kita harus berusaha untuk tetap hidup.”

Freya mengangguk. “Oh, iya. Satu lagi. Kami telah berhasil menemukan apa yang kamu inginkan.”

“Buku itu?” tanya Odin memastikan.

“Ya,” jawab Freya. “Tim riset dan inteligensi Trias berhasil menemukan suatu sinyal energi yang mungkin saja berasal dari buku itu.”

Gurat kelelahan langsung menghilang dari muka Odin. “Di mana?”

“Soal itu, maafkan kami. Kami tak bisa melacak di mana persisnya buku itu berada. Yang kami tahu, buku itu berada di ‘dunia-yang-satu-lagi’, mungkin malah dekat dengan rumahmu.”

Odin mengangguk takzim. “Kerja kalian bagus. Paling tidak, kita sekarang tahu kalau buku itu ada.” Ia menarik napas. “Tolong kalian cari lokasi buku itu. Kita butuh semua hal yang akan kita butuhkan kalau kita akan berperang dengan ‘mereka’.”