Showing posts with label nggak jelas. Show all posts
Showing posts with label nggak jelas. Show all posts

Tuesday, March 10, 2009

Lagi geje dan pengen nyampah di blog...

Another Tuesday. Another lab day...

Heugh...

Gw merasa tampil beda hari ini, tapi gw ragu ada orang yang nyadar. Yup, proses makeover gw hari sabtu kemarin ternyata lumayan sukse. Okelah, dari dulu gw suka berambut mohawk, tapi dari dulu juga gw udah pake rambut mohawk. Dan toh orang-orang pada nggak nyadar juga.

Masalahnya sih bukan itu, tapi fakta kalau rambut gw harus dijinakkan dengan wax biar nggak kayak "cowok-pucat-baru-bangun-tidur-dan-siap-pingsan". Dan gw nggak begitu suka pake wax. Wax bikin kepala gatal, panas, dan membuat jejak-jejak putih aneh di dahi kalau gw sampai keringatan (tau sendiri kan gw suka banget jalan kaki).

Itu artinya, gw nggak pernah pake wax kecuali dalam keadaan yang mengharuskan gw tampil 100%. Dan, gw rasa, gw harus tampil 100% di hari ini.

Oh, bukan. Gw nggak berdandan untuk praktikum, kok. Ngapain juga, lagian? Sebagian besar cowok dan udah pada tua juga (jahatnya gw, wkwkwkwkw). Gw kira gw bakal diajak ngecengin anak kampus tetangga sama seseorang, makanya gw mau tampil beda.

Dan seseorang itu, sampai sekarang, nggak ngontak gw sama sekali. Heugh.

Pas Zuhur nanti cuci rambut ah...

Anyway, gw lagi bingung sekarang. Gw dihadapkan pada pilihan yang, bisa dibilang, hanya gw yang harus tentukan. Karena, kalau gw meminta saran orang tua gw, gw yakin mereka pasti menolak--atau memaksa gw untuk menolak. Heugh, padahal gw ingin mengambil pilihan itu, tapi gw takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin muncul karena gw kini nggak di-back up sama keluarga gw lagi. Paranoid? Entahlah...

Heugh, sekarang gw nganggur sampai praktikum, dengan jurnal Fismik di tangan asisten dan modul fismik ilang di lab. Entahlah apa gw bisa dapat nilai bagus buat tes awal nanti...

Intinya: butuh teman curhat sekaligus tempat pengakuan dosa... ada yang minat?

Sunday, February 15, 2009

Alay

Tadi pagi, ketika baru bangun tidur dan buka Facebook (kebiasaan yang mulai mengakar akhir-akhir ini), ada notification yang "nyentil" banget. Notification itu berbunyi, "[Nama teman saya] has joined group Fight Indonesian Alay".

"Indoesian Alay". Sungguh frasa yang menggelitik. Soalnya, kata "alay" adalah kata yang baru dipopulerkan akhir-akhir ini dan--sayangnya--semua orang yang saya tanyakan nggak tahu artinya apa. bahkan saya sendiri suka menggunakan frasa "band alay" (tahu lah merujuk ke mana) dan kebingungan kalau ditanya apa arti alay itu. Karena itulah saya meng-klik halaman group itu dan menemukan bahwa alay itu... klik sendiri di sini deh.

Heugh, mau tak mau saya merasa (agak) tersindir. Soalnya poin nomor 3 itu "gw banget". Yang kenal saya pasti tahu kalau saya tak lepas dari headset (halah, yang di Facebook itu nulisnya salah) Philips atau SE yang selalu saya gantung di leher saya. Dan, lebih parahnya lagi, kadang saya suka over-menjiwai kalau denger musik pakai headset (terutama Rihanna-Disturbia). Tapi, kalau ada yang iseng lirik playlist saya, maaf saja, tidak ada Kangen Band atau ST12 di situ (meng-counter poin 19). In facts, saya sangat sedikit menyimpan lagu Indonesia di HP/MP3 player (dan seringnya sih nggak saya dengar) dan kebanyakan lagu-lagu keluaran 2000-an. Jadul nggak sih itu?

Anyway, mengenai arti kata alay sendiri, saya punya teori tersendiri. Alay asalnya cuma suatu kumpulan huruf yang nggak punya arti. Mungkin itu cuma celetukan orang iseng yang jago menciptakan istilah baru yang kemudian menyebar dan memopuler. Kenapa Alay? Mungkin karena berrima dengan "jijay" dan "lebay", seperti karakteristik orang-orang yang dicap alay.

Seperti yang harus saya lakukan ketika bikin laporan, saya tentu harus meng-kroscek hipotesis saya dengan literatur (halah). Karena di kamus terbitan tahun 90-an tidak mungkin ada kata ini, satu-satunya sarana yang mungkin adalah internet. Dan saya menemukan list arti kata alay di sini, yang simpulannya adalah alay = kampungan dan norak.

Dan saya ngakak mampus sekaligus kasihan sama orang-orang alay. Kasihan, mereka jadi stranger dan outsider masa kini, terlepas dari niat mereka yang mungkin mulia sepereti pengen eksis. Hakhakhakhak...

Sedikit intermezzo, ketika saya pertama kali mendengar lagunya Kangen Band, saya kira boyband malaysia (yang dulu populer dengan lagu Gerimis Mengundang) mulai menginvasi Indonesia dengan konsep baru. Betapa tidak, lagu yang nggak jelas genrenya (pop-rock tapi bercengkok dangdut), syair yang miskin dan sering diulang, petikan gitar efek yang kadang fals, semua itu bikin saya berharap punya headset baru (headset saya rusak waktu itu) dan menduga bahwa tukang angkot berkomplot menguasai dunia lewat lagu-lagunya Kangen Band (yang kalau didengarkan oleh orang seperti saya lima menit saja bisa bikin kejang-kejang).

What's wrong with those alays? Well, believe it or not, they're just different.

And annoying. Bagi beberapa orang.

In the beginning, maybe they're just a bunch of people, normal people, who think that they're unacknowledged. Mereka merasa, kalau mereka normal, mereka nggak akan dapat perhatian yang mereka inginkan. Sehingga mereka mengubah citra dirinya untuk berbeda dan (sukur-sukur kalau) stand out. Yang cowok menjadi agak emo (seperti yang memenuhi Jalan Dago dekat Aquarius kalau malam minggu) dan yang cewek mengira kalau mereka menjadi lebih "kanak-kanak" (tercermin dari cara bicara mereka yang mirip balita), mereka akan tampak lebih cute. Tentu saja hukum kebalikan berlaku di sini (dan pelakunya bakal mendapat tatapan dan cap aneh dari masyarakat).

Sayang sekali, penampilan saja ternyata nggak cukup. Menyitir salah satu Aesop's Fables, Outer beauty is a poor substitute for inner worth, mereka mungkin nggak cukup knowledgeable untuk menjadi masyarakat normal. Karena itu, mereka melakukan segala cara untuk menarik perhatian, dan buta akan kenorakan yang timbul akibat perbuatan mereka. Misalnya meng-add atau memaksa orang meng-add mereka di friendster--yang memang gudangnya alay dan ketidak jelasan, memajang "teman-keren" dan memperbanyak comment di (lagi-lagi) FS, dan bahkan tindakan negatif seperti cari ribut. Kalau itu tidak cukup juga, mereka akhirnya bikin komunitas sendiri dan me-reject orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Tindakan "cari-perhatian" itulah yang membuat kesal orang-orang non-alay. Siapa yang nggak kesal kalau tiba-tiba ada orang asing meng-add akun FS-nya padahal dia sudah bertekad akan memasukkan hanya kenalannya ke dalam friend list-nya? Belum lagi kalau orang asing itu berkali-kali mengirimkan komen bertuliskan, "uiyyyy, kOq cMa pHiIiew? aDd dUnkzz" yang selain bikin sakit mata juga menuh-menuhin comment saja.

Sebenarnya, secara garis besar, ini hubungan timbal balik. Orang-orang yang terganggu me-reject alay, dan alay balik me-reject mereka. Seperti group yang dimasuki teman saya dan tandingannya di sini. Ini nggak akan selesai kalau tidak ada saling pengertian dari kedua pihak.

Atau mungkin ini sudah di-plot untuk tidak akan selesai? Hmm... interesting. I smelled something in here...

Yeah, I smelled something. My own body odor. Ketahuan deh belum mandi. Wuekekekek...

In the end, bagi yang nggak suka alay, bersiaplah untuk menahan diri. Karena virus alay sudah mulai bermultiplikasi dan bahkan menginfeksi Facebook. Bagi para alay, tolong yah, mental Friendster-nya jangan dibawa ke Facebook. Ngeganggu soalnya.

Cheers.

PS: One question remains. Apakah saya alay? (berharap bukan)




Friday, February 13, 2009

Color Checking Result

Iseng-iseng nyoba ini karena banyak banget notes berseliweran tentang ini. Jadi penasaran, dong aku? Hehehehe....

Oia, kalau mau juga, bisa klik di sini

Entry: Muhammad Ferdyansyah Sechan, Male, 13-10-1989

Dan inilah hasilnya (jengjengjengggggg):

Muhammad Ferdyansyah Sechan

13/10/1989

You are Red Tiger, who is not shy, and are able to keep rock-steady stance to whoever approaches you.

(Haha, bener nih? Memang aku menyikapi orang dengan cara yang berbeda-beda sih)

Your looks represent your characteristic, and you look good natured.

(Berarti characteristic aku pun good natured dong? Memang sering divonis orang baik sih)

Nevertheless, there are delicate, sensitive and intelligent sides to you.

(Delicate? Sensitive? Wah, bener gak sih? Yang jelas emosiku memang nggak stabil sih)

And you sometimes give an impression of being difficult to get to know.

(Hahaha, iya ya. Mungkin itulah sebab aku jarang disapa orang. Heuheu...)

You have high self esteem and you carry out thing on your own pace.

(Salah satu aplikasinya adalah nggak suka diatur. Bener nggak?)

You have strong will power and are a person of mettle.

(Strong Will? Amin... BTW, What does mettle mean?)

You can finish fatigue duties like putting together a plastic model, even if takes ages.

(Haha, beneran nih?)

But you demand the same effort from those around you.

(Nggak juga ah. Emang sih agak bete sama orang-orang yang lelet)

You tend to be too critical, and may be seen as a nagging person.

(Pantesan tukang jualan rada-rada ilfil, soalnya nanya-nanya mulu sih...)

You think high of your points of view.

(Hahaha, egois banget yak?)

You only judge others with your scale.

(Memang sih)

You can be hard minded and obstinate person, as you tend to stick to your opinion and not change it easily.

(Haha, my mama told me that)

But really, you are able to look at situation as a whole, and are a well-balanced person.

(Well-balanced? Librans?)

You tend to be good at putting together the plans and ideas of your fellow workers.

(Yep. Harus ada ide awal yang bisa aku kembangkan)

You are not very good at planning from the beginning and coming up with ideas.

(TEPAT SEKALI! Aku suka bingung kalau disuruh ngasih ide awal)

You wish to succeed and carry out things all by yourself.

(I'm almost a perfectionist when I have to)

You dislike being told what to do, and get help from others.

(Being told sih bener. Get help?)

You will have hard time as a fresh recruit.

(WADUH?!)

You tend to be not good at reading other peoples minds.

(Hahaha, BENER! Makanya aku nggak cocok dimintai nasihat)

Well, itulah hasil ramalan si doubutsu uranai. It's Scarily accurate! Hehehe...

Thursday, December 4, 2008

Kami Scientist Sejatiii

Seorang scientist diharapkan mampu menemukan hal-hal baru atau inovasi, kan? Kalau begitu, kami—para microsquad—sudah layak disebut scientist, dong? Simak saja percakapan di bawah ini, ok?

Setting: Di Lab Instruksional, lagi bosen ngedengerin presentasi penelitian entah kelompok berapa.

Pemeran: Gw, GA, AP (figuran)

AE (Atau entah siapa): Eh, produk kewanitaan artinya apa sih?

(Semua cowok di sana langsung mesem-mesem. Piktor tuh…)

GA: Produk buat wanita? Kayak kosmetik gitu…

Gw: (Mendapat wangsit) Atau… produk berjenis kelamin wanita!

(GA cengo, tampaknya mulai menyadari bakat alam gw sebagai scientist)

Gw: Iya! Tahu nggak, ada suatu hipotesis yang menyatakan bahwa seluruh makhluk di dunia ini, baik hidup maupun mati, memiliki jenis kelamin, lho… Makanya, produk kewanitaan adalah produk yang memiliki sifat wanita, bahkan berjenis kelamin wanita!

GA: Oh, iya ya Fer? (Matanya mulai jelalatan) Kalau begitu… (Matanya mulai menumbuk kursi lab—yang kayaknya mulai panas dingin coz ngerasa bakal dizalimi) kursi ini apa jenis kelaminnya?

Sekedar info, kursi di lab kami adalah kursi yang tersusun atas kayu bundar di atas rangka besi melingkar. Dudukan si kursi—which is kayu bundar—biasanya ada lubangnya. Sementara kaki kursi wujudnya ujung pipa besi yang ada karetnya. Kenapa juga gw ngasih tahu ini? Well, ntar lo bakal tahu sendiri lah.

Gw: (Mulai menatapi kursi) Hmm… kayaknya nih kursi jantan deh, GA…

GA: Kenapa jantan?

Gw: Lo liat bagian bawahnya deh. Itu kan bagian khas yang menunjukkan kejantanan. Wkwkwkwkwk…

GA: (sempat terpukau) Nggak juga kali, Fer. Lihat dudukannya deh. Itu kan ada lubang-lubangnya. Berarti kursi ini betina.

Gw: (Manggut-manggut) Hmmm… berarti ini makhluk jenis kelaminnya apa, dong? Masa biseksual?

AE: (nimbrung) Lagi ngapain sih kalian…

Gw: Ini, lagi menentukan jenis kelamin kursi. Dia tuh jantan tapi juga betina, soalnya punya dua kelamin berbeda…

AE: (Geleng-geleng )

GA: (Menemukan postulat baru) Atau mungkin… dia ini bersimbiosis!

Gw: Oooh, kayak Lichen? Nah, menurut saudara GA, yang mana dari dua organisme ini yang bertindak sebagai alga dan yang mana yang bertindak sebagai jamur?

GA: (sok serius mengamati kursi) Hmm… kayaknya yang bawah sebagai jamur, dan yang atas sebagai alga…

Gw: Tapi… makhluk ini tidak bisa berfotosintesis dong? Okelah. Sekarang… tipe simbiosis seperti ini namanya apa? Mutualisme? Komensalisme? Soalnya, gara-gara bersimbiosis, mereka malah nggak bisa kawin…

GA: Ooh… berarti ini bentuk simbiosis baru. Mereka berdua dirugikan dengan hubungan ini, tapi menguntungkan orang lain…

Gw: (menatap GA dengan haru) Oooh… luar biasa, Saudara GA! Anda telah menemukan simbiosis jenis baru. Mari kita namakan simbiosis GA-isme! Tapi… kalau begitu… gimana mereka bisa kawin ya?

Whehehehe… begitulah. Rekan sejawat gw di mikrobiologi telah menemukan simbiosis jenis baru. Hebat, kan? Hwehehehehehe…

Anyway, akhirnya gw berhasil menemukan jenis kelamin kursi. Kalau ditilik dalam bahasa arab, kursi termasuk dalam benda jantan. “Tapi… kalau gitu… gimana mereka bisa kawin ya?” (keukeuh)

Cheers!

Nomor Rumah

Kemarin, gw iseng-iseng mengingat-ingat kehidupan gw sejak pindah (baca: numpang) ke Bandung. Dan… baru sadar… selama di Bandung, gw memiliki sesuatu yang sangat berarti bagi gw.

Dan, sesuatu itu adalah... (Jengjengjengggg)

Nomor Rumah

Yup, gw serius. Nomor rumah adalah hal yang sangat berarti bagi gw. Bahkan, bisa dibilang, itu adalah kemewahan yang baru bisa gw kecap setelah gw pindah ke Bandung. There’s a story behind that, of course.

Awal-awal gw tinggal di Sukabumi, gw ngontrak di rumah Ibu Camat (entah nama aslinya siapa, pokoknya gw panggil beliau itu). Rumah kontrakan gw itu di belakang rumah besarnya Ibu Camat. Gw masih inget, gw sering main ke rumah besar itu, apalagi karena anaknya Ibu Camat punya banyak sekali majalah Bobo. Hwehehehe...

Terus, pas gw kelas 3 SD, gw pindah rumah. Yup, rumah yang fotonya ada di blog ini. Gw masih inget, gw resmi pindah ke rumah itu setelah keluarga besar mengadakan trip ke Ujung Genteng dan di sana gw sempat melihat jasad orang yang tenggelam. Waktu itu, kamar gw di atas, dan otomatis gw nggak bisa tidur semalaman.

Rumah baru gw benar-benar menyenangkan. Nggak terlalu besar tapi lapang. Arsitekturnya unik dan cenderung castle-like. Ada menara jam-nya segala, lagi. Ditambah lagi halamannya luas dan semi-hutan, cocok buat pecinta alam kayak gw dan dua adik gw. Yang kurang dari rumah gw cuma satu: nomor rumah.

Hal yang wajar, sebenarnya. Lahan tempat rumah gw didirikan tadinya adalah lahan kosong semi-hutan yang digunakan penduduk untuk buang sampah (saking banyaknya sampah, terpaksa seluruh lahan ditimbun tanah). Lalu, tiba-tiba ruamh gw berdiri di situ, mengakibatkan nomor rumah selanjutnya bergeser satu (kayak domino). Mungkin karena males ngurus atau apa, akhirnya rumah gw tetap tak bernomor.

Dan efeknya baru kerasa ketika gw mendaftar di SMP (atau SMA) atau berniat ikut lomba tertentu. Di setiap formulir pasti ada kolom alamat, kan? Kan nggak lucu kalau gw nulis nama jalan rumah gw (yang masih belum jelas hingga sekarang) di situ? Terpaksa gw akalin dengan nulis nomor RT dan RW-nya juga, membuat alamat rumah gw jadi panjang.

Ketika gw di Bandung, gw seneng banget. Pasalnya, rumah paman gw tentu ada nomornya, kan? Wuih, rasanya kayak apa aja. Setiap ada formulir atau pengumpulan data buat database angkatan, dengan bangga gw tulis nomor rumah paman gw. Ada kepuasan tersendiri waktu gw nulis angka belasan itu. Akhirnya gw punya nomor rumah jugaaa! batin gw dalam hati.

Norak ya? Hehe, biarin.

Akhirnya, beberapa bulan yang lalu, rumah gw dapat kehormatan dikasih nomor juga. Yup, akhirnya gw punya nomor rumah gw sendiri! Dan angkanya bagus, lagi (menurut gw). Hwehehehe... (mulai norak-norak nggak jelas)

Cheers!

Thursday, October 23, 2008

Hari Ini Gw....

Tau deh hari ini kenapa...

Mungkin karena stres mau ujian, tapi bukannya ngapalin malah bikin puisi curhat (cenderung memaki) buat seseorang. Niatnya sih mau dikirim lewat message FS, tapi...

Dan gw pun asyik mengarang puisi (lebih mirip pantun sih jadinya) ketimbang menghitung berapa gram NaHCO3 dalam sampel (dan akhirnya juga nggak ketemu sih). Aaaargh, ujian yang paraaaah...

Lalu, seharian ini, setengah berharap bakal ketemu sama si objek puisi. Di perpustakaan, di koridor, di kelas (ini mah nggak mungkin ya) pasti celingukan, berharap ada dia di sana. Kenapa juga gw berlaku begitu ya? Toh sampai sekarang gw nggak bisa liat akun FS-nya (dan pacarnya).

Dan, gw malah papasan sama pacarnya di koridoooor! Untung kami nggak ketemu pandang, karena papasan aja udah bikin gw kayak dihantam palu tepat di dada. Dan imaji-imaji aneh itu pun mengalun kembali, membuat gw lagi-lagi sakit kepala.

Lemah banget gw yak?

Anyway, tadi gw udah buka FS dia. Gw udah kirim puisi itu ke dia. Dan sebodo amat. Mau dia ngajak berantem, kek. Mau dia bilang gw ngganggu, kek. Sebodo amat. Yang penting gw udah ungkapin semuanya ke dia tanpa main fisik (dan jujur aja gw pingin banget jadiin dia samsak sekarang).

Fuuh...

Wednesday, October 22, 2008

Tenar Banget Lo Ya?

Ceritanya ini mau dikirim ke bloh ngupingjakarta.blogspot.com, tapi nggak boleh coz ini kejadiannya di Bandung, bukannya di Jakarta. Jadi... silakan dinikmati. Maaf kalau nggak lucu...

Cowo#1: Eh, berarti lo belum liat rambut gw yang panjang, ya? Lo kan nggak ke klub kemaren-kemaren.
Cowo#2: Udah, kok. (menjawab dengan mantap)
Cowo#1: Di mana?
Cowo#2: Di TV (masih menjawab mantap). Eh, bukan deng. Di blog...
Reading Lights, didengar oleh ceweknya cowok#2 yang mengakak dengan mantap

Wednesday, August 27, 2008

Morning Riweuhness

Pagi-pagi begini, nggak nyangka aja dapat bahan bagus buat diomongin. Tapi agak berbahaya juga sih ngomongin ginian. Ya sudah, lah. Nggak apa-apa. Risikonya aku yang tanggung deh…

Jadi begini. Pagi ini, seperti biasa, aku pergi ke kampus menumpang mobil paman. Biasalah, penghematan. Punya paman yang bekerja di kampus yang sama dengan tempatku kuliah itu keuntungan, bukan? Artinya, uang buat ongkos angkot pagi ini bisa dialokasikan untuk buku teks, misalnya. Betul, kan?

Seperti biasa juga, selama di mobil aku lebih banyak diam. Agak nggak biasa juga kalau si paman diam di mobil. Dasar kreatif, pasti saja ada yang dikomentarin. Mulai dari para AD yang nyapu jalanan sampai angkot yang suka motong jalan seenaknya. Jadi, agak serba salah juga, takutnya bikin salah apa gitu…

Dan, tiba-tiba saja, si paman nanya, “Fer, di kampus ada kumpulan gay gitu, ya?”

Langsung deh aku speechless.

Jadi, ternyata, si paman ikut rapat petinggi kampus gitu. Dan di sana dibahas kencang banget sama orang-penting-se-kampus. Dan, katanya lagi, banyak banget kasus kayak gitu di fakultasku. Kasus kayak dosen pacaran sama mahasiswa, mahasiswa sama mahasiswa, dan sebagainya. Jelas aja dekannya berang.

Tanggapan pamanku sih adem ayem aja. “Selama nggak mengganggu kepentingan umum, terserah mereka mau pacaran sama siapa dan kayak gimana.” Begitulah. Satu ideology sih denganku: selama nggak ngeganggu mah sah-sah aja.

Tapi yaa… serem juga kan? Masa di kampusku, fakultasku pula, banyak yang begituan? Ntar kalau ditaksir gimana? Ntar kalau akunya jatuh cinta gimana? Hii…