Jejak langkah seorang pengelana menapaki hutan besar bernama kehidupan. Akankah Fajar berhenti mengiringi langkahnya? Ataukah mentari kelak kan ditemuinya?
Tadi pagi, ketika baru bangun tidur dan buka Facebook (kebiasaan yang mulai mengakar akhir-akhir ini), ada notification yang "nyentil" banget. Notification itu berbunyi, "[Nama teman saya] has joined group Fight Indonesian Alay".
"Indoesian Alay". Sungguh frasa yang menggelitik. Soalnya, kata "alay" adalah kata yang baru dipopulerkan akhir-akhir ini dan--sayangnya--semua orang yang saya tanyakan nggak tahu artinya apa. bahkan saya sendiri suka menggunakan frasa "band alay" (tahu lah merujuk ke mana) dan kebingungan kalau ditanya apa arti alay itu. Karena itulah saya meng-klik halaman group itu dan menemukan bahwa alay itu... klik sendiri di sini deh.
Heugh, mau tak mau saya merasa (agak) tersindir. Soalnya poin nomor 3 itu "gw banget". Yang kenal saya pasti tahu kalau saya tak lepas dari headset (halah, yang di Facebook itu nulisnya salah) Philips atau SE yang selalu saya gantung di leher saya. Dan, lebih parahnya lagi, kadang saya suka over-menjiwai kalau denger musik pakai headset (terutama Rihanna-Disturbia). Tapi, kalau ada yang iseng lirik playlist saya, maaf saja, tidak ada Kangen Band atau ST12 di situ (meng-counter poin 19). In facts, saya sangat sedikit menyimpan lagu Indonesia di HP/MP3 player (dan seringnya sih nggak saya dengar) dan kebanyakan lagu-lagu keluaran 2000-an. Jadul nggak sih itu?
Anyway, mengenai arti kata alay sendiri, saya punya teori tersendiri. Alay asalnya cuma suatu kumpulan huruf yang nggak punya arti. Mungkin itu cuma celetukan orang iseng yang jago menciptakan istilah baru yang kemudian menyebar dan memopuler. Kenapa Alay? Mungkin karena berrima dengan "jijay" dan "lebay", seperti karakteristik orang-orang yang dicap alay.
Seperti yang harus saya lakukan ketika bikin laporan, saya tentu harus meng-kroscek hipotesis saya dengan literatur (halah). Karena di kamus terbitan tahun 90-an tidak mungkin ada kata ini, satu-satunya sarana yang mungkin adalah internet. Dan saya menemukan list arti kata alay di sini, yang simpulannya adalah alay = kampungan dan norak.
Dan saya ngakak mampus sekaligus kasihan sama orang-orang alay. Kasihan, mereka jadi stranger dan outsider masa kini, terlepas dari niat mereka yang mungkin mulia sepereti pengen eksis. Hakhakhakhak...
Sedikit intermezzo, ketika saya pertama kali mendengar lagunya Kangen Band, saya kira boyband malaysia (yang dulu populer dengan lagu Gerimis Mengundang) mulai menginvasi Indonesia dengan konsep baru. Betapa tidak, lagu yang nggak jelas genrenya (pop-rock tapi bercengkok dangdut), syair yang miskin dan sering diulang, petikan gitar efek yang kadang fals, semua itu bikin saya berharap punya headset baru (headset saya rusak waktu itu) dan menduga bahwa tukang angkot berkomplot menguasai dunia lewat lagu-lagunya Kangen Band (yang kalau didengarkan oleh orang seperti saya lima menit saja bisa bikin kejang-kejang).
What's wrong with those alays? Well, believe it or not, they're just different.
And annoying. Bagi beberapa orang.
In the beginning, maybe they're just a bunch of people, normal people, who think that they're unacknowledged. Mereka merasa, kalau mereka normal, mereka nggak akan dapat perhatian yang mereka inginkan. Sehingga mereka mengubah citra dirinya untuk berbeda dan (sukur-sukur kalau) stand out. Yang cowok menjadi agak emo (seperti yang memenuhi Jalan Dago dekat Aquarius kalau malam minggu) dan yang cewek mengira kalau mereka menjadi lebih "kanak-kanak" (tercermin dari cara bicara mereka yang mirip balita), mereka akan tampak lebih cute. Tentu saja hukum kebalikan berlaku di sini (dan pelakunya bakal mendapat tatapan dan cap aneh dari masyarakat).
Sayang sekali, penampilan saja ternyata nggak cukup. Menyitir salah satu Aesop's Fables, Outer beauty is a poor substitute for inner worth, mereka mungkin nggak cukup knowledgeable untuk menjadi masyarakat normal. Karena itu, mereka melakukan segala cara untuk menarik perhatian, dan buta akan kenorakan yang timbul akibat perbuatan mereka. Misalnya meng-add atau memaksa orang meng-add mereka di friendster--yang memang gudangnya alay dan ketidak jelasan, memajang "teman-keren" dan memperbanyak comment di (lagi-lagi) FS, dan bahkan tindakan negatif seperti cari ribut. Kalau itu tidak cukup juga, mereka akhirnya bikin komunitas sendiri dan me-reject orang-orang yang berbeda dengan mereka.
Tindakan "cari-perhatian" itulah yang membuat kesal orang-orang non-alay. Siapa yang nggak kesal kalau tiba-tiba ada orang asing meng-add akun FS-nya padahal dia sudah bertekad akan memasukkan hanya kenalannya ke dalam friend list-nya? Belum lagi kalau orang asing itu berkali-kali mengirimkan komen bertuliskan, "uiyyyy, kOq cMa pHiIiew? aDd dUnkzz" yang selain bikin sakit mata juga menuh-menuhin comment saja.
Sebenarnya, secara garis besar, ini hubungan timbal balik. Orang-orang yang terganggu me-reject alay, dan alay balik me-reject mereka. Seperti group yang dimasuki teman saya dan tandingannya di sini. Ini nggak akan selesai kalau tidak ada saling pengertian dari kedua pihak.
Atau mungkin ini sudah di-plot untuk tidak akan selesai? Hmm... interesting. I smelled something in here...
Yeah, I smelled something. My own body odor. Ketahuan deh belum mandi. Wuekekekek...
In the end, bagi yang nggak suka alay, bersiaplah untuk menahan diri. Karena virus alay sudah mulai bermultiplikasi dan bahkan menginfeksi Facebook. Bagi para alay, tolong yah, mental Friendster-nya jangan dibawa ke Facebook. Ngeganggu soalnya.
Cheers.
PS: One question remains. Apakah saya alay? (berharap bukan)
Sudah beberapa hari ini ITB mendadak tenar. Namanya—yang memang sudah besar—disebut-sebut di TV dan koran. Namun sayang, bukan karena ITB baru saja mengirimkan kontingen untuk lomba skala internasional atau menjadi tuan rumah suatu seminar bergengsi, melainkan karena kematian salah satu mahasiswanya. Dan ironisnya, kematian mahasiswa itu terkait erat dengan satu kata yang—saya yakin ini benar—menjadi momok bagi para mahasiswa (dan calon-calonnya): Ospek.
Yup. Kegiatan yang telah dinyatakan dilarang diadakan sejak tahun 2005 ini kembali memakan korban. Korbannya adalah mahasiswa dari jurusan berinisial GD. Penyebab kematian diduga akibat turunnya daya tahan karena kelelahan fisik dan lingkungan yang kurang bersahabat. Padahal, mungkin saja dia ada di antara orang-orang berkostum kotak-kotak yang menenteng carrier besar yang kulihat hari Sabtu lalu.
Dan, mirisnya, pemberitaan media massa membuat seolah-olah ITB-lah penyebab kematian korban. Seolah ITB menjadi IPDN masa kini yang melegalkan ospek berbahaya. Padahal saya tahu persis bahwa setiap mahasiswa angkatan 2007—termasuk saya—menandatangani surat perjanjian di atas materai—yang berarti surat tersebut mengandung kekuatan hukum. Surat tersebut menyatakan bahwa siapa pun yang mengikuti ospek—atau kaderisasi atau apa pun namanya—akan mendapat sanksi dikeluarkan dari ITB. Itu berarti, ITB telah melakukan tindakan preventif sebisanya, sehingga agak tidak bijak kalau ITB-lah yang didiskreditkan.
Ospek memang dilematis. Ospek lekat dengan image perpeloncoan, tekanan mental, push-up, marah-marah, luka, dan seabrek hal negatif lainnya. Bahkan kini ospek terkesan sebagai sarana pamer otoritas dan penyiksaan senior pada junior yang dilatarbelakangi balas dendam karena dulu senior juga diperlakukan begitu. Banyak sekali nada miring mengenai keberadaan ospek, mulai dari celetukan kalau ospek harusnya dihapus, keengganan orangtua mengizinkan anaknya ikut ospek, sampai tindakan kampus yang men-DO semua peserta dan panitia ospek.
Namun, di balik semua nada miring itu, mengapa ospek—yang telah berganti nama menjadi kaderisasi—tetap saja muncul bagai rumput liar? Mengapa ketua himpunan dan seluruh perangkat ospek—mulai dari ketua panitia hingga tim pelaksana—rela mempertaruhkan riwayat akademisnya demi acara ini padahal diskors atau DO membayangi mereka? Mengapa tertanam doktrin bahwa mahasiswa harus ikut ospek?
Saya pernah menanyakan hal ini pada senior saya yang angkatan 2003, dan ia menjawab, “Untuk solidaritas.”
Dan, saya setuju dengan jawaban itu.
Saya sudah pernah ikut ospek beberapa kali, dan memang betul apa yang senior saya katakan. Terlepas dari apakah orang Indonesia memang bermental kuda (dipecut baru jalan), masalah dalam ospek telah diset untuk tak bisa dipecahkan sendiri. Di bawah tekanan, para peserta ospek terpaksa bersatu untuk memenuhi tuntutan senior mereka. Dan, tak bisa dipungkiri, setelah dimarahi semalaman pada malam puncak dan akhirnya dinyatakan resmi masuk himpunan/unit, sense of belonging terhadap himpunan/unit itu pun makin tinggi. Peserta merasa, “Oh, inilah rumah gw, yang udah nerima gw apa adanya, bersama teman-teman dan senior yang sevisi dan senada. Gw akan berusaha keras memajukan ini.”
Selain itu, ospek juga menjadi sarana senior untuk mengajarkan skill yang (dianggapnya) berguna untuk kuliah nanti. Hal ini tampak pada ospek jurusan yang terkait langsung dengan alam, seperti Biologi, Tambang, GD, dan jurusan berprefix geo lainnya. Saya sudah mengalami, ketika diospek, saya harus membangun bivak (tenda darurat dari ponco tentara) dan pada akhirnya harus tidur di dalamnya (percayalah, dingin sekali di sana). Dengar-dengar juga, ospek GD mengharuskan pesertanya membawa makanan untuk seminggu, seolah-olah mereka akan bertahan hidup di hutan sana. Latihan fisik dalam bentuk push-up juga secara tak langsung membentuk tubuh pesertanya agar lebih kuat dan tahan banting saat nantinya terjun ke lapangan.
Namun, ospek tetaplah ospek. Yang ditonjolkan adalah senioritas dan pamer kekuasaan. Beberapa jurusan yang tak terjun ke lapangan latah menerapkan kekerasan yang berlebihan. Dengan dalih penurunan nilai dan menjaga solidaritas, kekerasan seolah dilegalkan. Juga prinsip lama yang menyatakan cowok harus tegar dan tahan banting, tak peduli apa pun yang ditimpakan padanya—hal ini tampak di jurusan surplus cowok yang notabene mayoritas di ITB.Tak heran, beberapa jurusan memiliki junior yang labil emosinya, seperti dikeluhkan beberapa teman saya. Atau kasus kematian yang menggegerkan bumi ganesha ini.
Saya bukan orang yang pro-ospek dengan membeberkan hal-hal di atas. Saya hanya membeberkan nilai plus ospek yang, saya pikir, bisa didapat dari kegiatan lain yang lebih manusiawi. Kalau hanya menurunkan nilai dan menciptakan solidaritas, kerja amal atau semacamnya lebih baik ketimbang tindakan absurd yang berisiko tinggi. Dan lagi, orang tua tentu memasukkan anaknya ke ITB dengan harapan anaknya menjadi akademisi, bukan preman. Oleh karena itu, untuk kakak-kakak senior yang berencana mengadakan ospek—atau apapun namanya—saya harap kakak-kakak mau mempertimbangkan tujuan awal diadakannya ospek. Saya harap ospek diadakan murni untuk mempersiapkan adik-adik juniornya menghadapi hidup yang memang keras, bukan menimpakan dendam masa lalu.
What a provocative title, eh? Well, it wont hurt to do that once in a while, right? For all of you distro-lovers out there, just read my passage to know why, ok?
Here goes.
Distro. What in the world is this? It is the short of "distribution store", meaning, it's a store to distribute things. Or, to be more accurate, a store to distribute things that are made by the owner of the store (taken by wikipedia); those things are usually wearable like jacket, t-shirt, watch, shoes, you name it.
According to wikipedia, distro trends begin at 1990 as a way for indie band to sell their merchandise (maybe for raising funds). And some punk and skateboard community followed this trend; they built small shop to sell some merchandise. In 2007, there were 700 distro industries and 300 of them were in bandung. Wow, such big number, and almost half of them are in bandung. That shows how creative bandungers is, eh? (such narcissist I am)
Distro's plus point is their exclusiveness, because their products are produced in a limited number (not mass produced like factory-made garment). Another distro's plus points is their product's uniqueness, as in the printout of their t-shirt or the design of their jacket.
And, believe or not, this second plus point is what attracted me most.
Yes, I know. The title suggest that I hated distro. But, no. I don't hate distro. In fact, I'm in awe with them.
Correction: I'm in awe with their creativeness and uniqueness. There's something that catch your eye in their products and that "something" is not existed in mass-produced garments. It satisfies my needs of "be different", "be unique", and "be standout". To name one, it will be "Unkl347" and OUVALRSCH. They're the best i've met so far.
But,for some reason, I do hate distro. Because of its unfriendliness to big-bodied-boy like me. I'm 180/70. That means, the size that fit me well is XL. And, finding XL-sized in distro is like finding a grain of salt in the desert (if that makes sense, i made that up), it's hard to find one.
Just wanna tell stories, a year ago I fell in love with one of the unkl's jacket. It was typical brown, army-look jacket, but the design captivates my eye. But, when I was going to buy that, the shopkeeper said that the only size available is S. Of course it's in possible to fit me in that size, so I gave up on that. But, first love remains, and it makes me harder to choose which jacket to buy because I'm still loving that one jacket.
So, if any of you distro managers read my passage, please, be more friendly with big-bulky-bodied person like me. Ok?
Waktu kemarin ke Sukabumi naik bis, iseng-iseng buka friendster dari HP (apa boleh buat, GPRS mania). Aneh memang, padahal akun FS-nya udah nggak ada. Yah, reminiscing old time waktu masih berlebih pulsa, hehehe...
Lalu, pas masuk halaman pertama FS, agak bingung juga karena semuanya jadi berbahasa Indonesia. Mungkin bagus tujuannya, supaya orang Indonesia lebih ngerasa "at home". Tapi tetep aja ngeganggu, terutama karena penerjemahan yang ngaco bin asal.
Dan yang paling ngganggu adalah ini:
"[Nama], [umur] Ada Komplikasi [Tempat, kota]"
Sumpah, itu bikin ngakak banget. "Ada komplikasi"? Memangnya diabetes? Kasihan amat! Kayaknya itu terjemahan dari "It's Complicated", tapi jadinya ngaco. JAdi inget masa lalu, pas praktikum identifikasi tumbuhan sekampus dan mentranslate asal buku Flora of Java yang tebelnya amit-amit itu.
Lalu mulai bertanya, "Terjemahan aslinya apa, kalau gitu?"
Dan... bengong. Yap, terjemahan yang tepat apa ya? Nggak mungkin "Ada Komplikasi", soalnya artinya jadi jauh banget. "Membingungkan"? Kayaknya kurang tepat juga. "Sulit diungkapkan"? Ini yang paling tepat kalau dilihat dari ruh kata, namun beda jauh dengan kata aslinya dalam bahasa inggris.
Kalau begitu, jadi bertanya-tanya, apakah sekuat itu pengaruh bahasa inggris sebagai bahasa global di Indonesia, ya? Apakah aku mulai tertular virus "Cinta Laura"?
Hari ini, aku baru sampai di rumah pukul tujuh. Sebenarnya sih nggak terlalu masalah kalau aku pulang telat gara-gara kuliah. Toh, namanya juga mahasiswa, kewajibannya belajar. Tapi aku pulang malam gara-gara ada kumpul angkatan dulu.
Heugh. Kumpul angkatan. Dengarnya saja sudah malas. Yang terbayang di ingatan saat mendengar frasa “kumpul angkatan” adalah pertemuan yang mulainya pasti ngaret, yang diomongin nggak jelas, dan pertemuannya pasti lama tapi nggak berbobot.
Dan itu terjadi tadi sore (sampai malam), membuatku tergoda untuk mem-post-nya di sini.
Jadi, ceritanya, hari ini kumpul lagi untuk ngomongin hal yang (bagiku) nggak terlalu penting: identitas angkatan sebagai anggota himpunan. Aku termasuk orang yang nggak peduli dengan bagaimana jadinya identitas angkatan itu. Mau desainnya unik, warnanya ngejreng, selama nggak menyalahi aturan nggak masalah. Yang penting enak dipakai.
Hmm... buat yang nggak ngerti, gini aja deh analoginya. Kamu adalah orang yang baru masuk ke toko roti terkenal (berasa Yakitate Ja-Pan). Toko roti itu punya roti andalan yang super enak. Kalau orang mau mencari roti yang satu itu, mereka tahu harus mencari di tokomu. Nah, kamu menemukan resep roti itu dan memodifikasinya sehingga menjadi jauh lebih enak, namun mempertahankan ciri khas roti toko itu. Bukan hanya kamu yang bilang enak, teman-teman bahkan seniormu di toko itu pun bilang roti temuanmu enak. Lalu, tiba-tiba saja ada orang asing yang tiba-tiba bilang rotimu beda dan tidak enak, padahal dia belum pernah mencicipi baik rotimu maupun roti toko itu, apalagi membuatnya.
Seperti itulah kira-kira.
Nggak tahu kenapa, topik itu selalu diulang di setiap kumpul angkatan sampai hari ini. Semua sudah excited, merencanakan detil di sana-sini. Seorang yang berbakat merelakan diri bekerja demi mewujudkan impian anak-anak seangkatan. Semua sudah sempurna, anak-anak sudah setuju, kasarnya sudah tinggal di-“jadi”-in saja. Lalu sekumpulan orang nyeletuk, “Kok beda yah?” dan akhirnya terpaksa dirapatin lagi. Rancangan yang sudah jadi terpaksa divoting ulang dengan alasan tradisi dan kekompakan.
Tampak jelas dari kumpul angkatan kali ini kalau semua sudah bosan ngomongin itu. Yang datang hanya 43 dari 120-an anak. Sebagian besar nggak ngerti kenapa musti masalah ini yang diangkat, secara masih banyak hal lain yang lebih perlu dibicarakan, seperti expo himpunan nanti November. Diskusi pun berjalan alot sampai akhirnya seseorang cukup cerdas untuk menanyakan inti dari kumpul angkatan ini.
“Apakah kita harus seragam agar bisa kompak? Bisakah kita tetap kompak walaupun tampilan kita beragam?”
Mulai dari sini, kayaknya aku mau break dulu nyumpahin kumpul angkatan nggak guna tadi. Aku tertarik mengomentari pertanyaan “penting” tadi itu dulu.
Pertanyaan itu memang susah dijawab. Seperti menjawab pertanyaan, “Lebih dulu ayam apa telur”, kedua jawaban valid. Baik ayam maupun telur adalah jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu, bila dilihat dari sudut pandang tertentu.
Ya, keseragaman memang bisa membuat kita kompak. Karena kita merasa satu. Satu keluarga. Satu visi. Satu keinginan. Ekstremnya, satu tubuh. Mungkin itulah dasar pemikiran para penggiat komunis-sosialis di luar sana. Masuk akal sebenarnya, kalau ditilik lagi.
Sayangnya, itu nggak mungkin terjadi. Di Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Itu artinya kita memang diciptakan berbeda. Dan, menyeragamkan sesuatu yang dari lahirnya sudah berbeda itu nggak mungkin. Itu artinya mengubah aspek lahiriah maupun batiniah agar menjadi satu hal yang sama. Suatu hal yang kayaknya nggak mungkin dilakukan tanpa agresi atau tekanan, dan kedua hal itu menyalahi hak asasi manusia.
Pemecahannya simpel, sebenarnya. Manusia tinggal menerima fakta kalau masing-masing dari mereka itu berbeda. Dan mereka juga harus meyakini kalau perbedaan dibutuhkan agar semuanya bersatu dalam harmoni. Saling menyeimbangkan. Saling membantu. Saling melengkapi. Dengan begitu, bukan tak mungkin kekompakan yang solid dan hakiki akan tercapai.
Masalahnya sekarang, sulit sekali membuat manusia menyadari hal penting itu. Manusia punya ego, selalu merasa dirinya (atau sukunya, atau bangsanya, atau apapun yang ia banggakan dan kaitkan dengan dirinya) paling hebat, paling agung, atau semacamnya. Hal itu membuatnya kesulitan menerima pendapat dari sudut pandang lain mengenai masalah yang sama. Belum lagi penyakit xenofobia (takut sama orang asing) yang bikin kita berprasangka yang bukan-bukan terhadap orang asing (atau tepatnya orang yang tak terlalu kita kenal). Okelah, berhati-hati boleh, tapi tidak berlebihan, apalagi sampai menyakiti hati orang itu.
Balik lagi ke masalah kumpul angkatan, ada satu hal lagi hal yang ingin aku soroti di sini: tradisi. Yup, salah satu alasan mengapa rancangan itu di-voting ulang adalah karena tidak mengikuti tradisi yang berlaku sebelumnya. Dan hal itu berujung pada masalah “seragam-dan-kekompakan” tadi (tentu saja di sini konteksnya kekompakan antar-angkatan).
Aku sendiri bukannya tidak setuju dengan tradisi. Tradisi adalah kekayaan imateril, sesuatu yang harus dijaga dan diturunkan pada generasi penerus. Tapi, zaman sudah berubah sekarang. Kita sudah dituntut untuk memilih mana yang paling sesuai dengan tuntutan zaman. Dan, kalau inovasi menawarkan kelebihan-kelebihan sementara tradisi tidak memberi nilai tambah, kenapa juga maksa ikut tradisi? Seharusnya malah tradisi itu kita beri inovasi sehingga makin bisa bertahan melawan kerasnya zaman. Betul nggak? Akhirnya kumpul angkatan berakhir dengan voting ulang (walaupun ketua angkatannya nggak setuju sama sekali). Dan hasil yang dituai sama dengan hasil voting sebelumnya, walaupun kali ini beda tipis. Syukurlah, akhirnya masalah ini selesai juga. Udah bosen nih tiap ngumpul ngomongin itu melulu.
Di hari ini, ada yang berbeda. Hari ini adalah satu-satunya hari di mana aku dibangunkan oleh lagu keras yang diputar di jalan depan rumah. Bukan sembarang lagu, pula. Lagu itu adalah lagu Hari Merdeka.
Yup. Today is Indonesian Independence day, the day that Ir. Soekarno declares our independence from those who colonize us. Today is the day that we stand up for the first time as an independent country (and without the right regulation too at first).
Dan, hari seperti ini identik dengan tiga hal: libur, upacara bendera, dan lomba-lomba khas tujuh belasan. Iya, kan?
Kalau masalah libur, wajarlah. Hari ini kan hari sakral bagi warga Indonesia. Hari ini kan musti diperingati dengan penuh kesungguhan, dan nggak mungkin itu terjadi kalau warga Indonesia harus bekerja atau sekolah di hari ini, kan? (Backsound: bilang aja pengen liburan)
Upacara juga, standar lah. Toh, waktu sekolah berseragam tuh setiap hari Senin kita harus ikut upacara bendera, kan? Dan, di hari sakral ini, seluruh instansi seolah berlomba-lomba mengadakan upacara bendera. Bahkan warga RT 01 RW 02 (which is my home) pun mengadakan upacara bendera di jalan depan rumah. Sempat diajak ikut upacaranya, sih. Tapi… malas ah. (:P)
Nah, yang ketiga ini yang bikin penasaran: lomba-lomba tujuh belasan. Walaupun sekarang ada lomba-lomba yang lebih “wajar” seperti lomba futsal dan lomba bulu tangkis, tetap saja aku penasaran sama lomba-lomba yang unik-unik dan khas-tujuh-belasan macam panjat pinang dan makan kerupuk. Kenapa harus lomba-lomba itu? Apa maknanya? Kenapa tata caanya harus seperti itu? Sumpah, aku penasaran banget. (Biasa, otak kelebihan nutrisi akibat dipakai tidur melulu pas liburan. Pas kuliah nanti, pasti nggak akan kepikiran hal kayak gini)
Jadi, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, aku ingin membahas dan menelaah (cuih, bahasanya) satu persatu lomba-lomba yang diadakan itu. Tentu saja telaahnya akan dangkal, ngaco, dan kadang-kadang so-out-of-the-world. So, don’t take it seriously, ok?
(Catatan: karena nggak terlalu up-to-date soal lomba-lomba tujuh belasan, mungkin ada beberapa lomba yang tertulis di sini namun tak lagi dilakukan di dunia nyata. Maklum, otak angkatan tua. Hehehe…)
Panjat Pinang
Ini adalah lomba paling standar yang muncul di acara tujuh belasan. Pasti tahu dong mekanismenya gimana? Sebuah batang bambu diberdirikan, di atasnya diberi lingkaran dari bambu juga. Di lingkaran itu digantungkan bermacam-macam hadiah, tergantung dana yang dialokasikan pemrakarsa lomba. Paling banter sabun, kaos, atau mi instan karton, tapi aku pernah melihat mini compo ditaruh di situ juga (atau dusnya aja kali ya? Mini compo kan lumayan berat). Dan, batang bambu itu diolesi oli agar licin setengah mati. Intinya adalah, bagaimana caranya mengambil hadiah di atas bambu tersebut.
Kayaknya, dari sekian banyak lomba tujuh belasan, lomba ini yang paling jelas maknanya. Makna utama tentu saja gotong royong, karena batang bambu itu nggak mungkin dipanjat saking licinnya. Panjat pinang juga mengajarkan untuk tahu diri dan posisi; orang berbadan gempal musti tahu diri dan bersedia merelakan bahunya dipijak orang lain, nggak peduli misalnya dia juragan sapi atau ketua RT, misalnya. Panjat pinang juga mengajarkan untuk berpikir cepat dan tahu skala prioritas, karena orang yang sudah di puncak pinang bisa jatuh kapan saja; orang itu nggak boleh ragu-ragu atau dia akan terjatuh dan tidak mendapat apa-apa. Satu makna lagi, yakni melatih kesabaran sang istri, karena celana pendek suami mereka pasti penuh dengan oli yang (kayaknya) susah dicuci. (:P)
Yang bikin aku penasaran, kenapa namanya “Panjat Pinang”? Kenapa nggak “Panjat Bambu”, secara yang dipanjat bukan pinang tapi bambu? Gara-gara itu, saya jadi sempat berpikir kalau pinang adalah sinonim dari bambu sebelum mata pelajaran biologi membukakan mata saya kalau pinang masuk famili kelapa-kelapaan sementara bambu masuk famili rumput-rumputan. (iya, tahu. Emang nggak penting dibahas, sih.)
Balap Makan Kerupuk
Lomba ini adalah lomba yang dulu sering diadakan oleh mama di halaman rumah, dan diadakan bukan pada hari tujuh belasan. Pesertanya tentu saja aku, adik-adikku, dan anak-anak tetangga. Dari segi finansial, lomba ini juga cukup murah. Beli saja seutas rapia dan beberapa kerupuk. Ikat dan gantungkan kerupuk setinggi mulut peserta, dan biarkan mereka berusaha memakannya tanpa menggunakan tangan. Tentu saja semua sudah tahu, kan?
Mengenai maknanya, seorang teman telah menyumbangkan pemikirannya yang berharga pada kita (kita? Lo aja sendiri kaleee). Seperti yang kukutip dari beliau, lomba ini “Mengajarkan para anak-anak untuk hidup sengsara. Kerupuk kan murah, nggak enak, udah gitu dimakannya susah lagi. Intinya, kita harus mau hidup prihatin agar bisa hidup.” (lho?)
Jujur, aku agak kurang setuju akan pendapatnya mengenai kerupuk. Okelah, memang kerupuk kampung itu murah, tapi siapa bilang nggak enak? Kerupuk kampung yang putih berulir dan bahannya dari tapioka itu enak banget kali. Apalagi kalau kecoklatan karena gosong. Pas digigit, hmm... langsung melting gitu deh di lidah! Sensasinya itu lho, nggak ada yang ngalahin, deh!
Kok jadi ngomongin kerupuk, ya? Maaf, maaf, keburu nafsu. (:P)
Saya sendiri punya teori yang sedikit berbeda: lomba ini mengajarkan senam mulut yang berguna bagi para pembicara. Siapa pun yang pernah melakukannya pasti tahu kalau koordinasi bibir, gigi, dan lidah sangat dibutuhkan untuk menarik kerupuk agar mendekat ke mulut peserta. Orang yang sering mempraktikannya dijamin tidak akan keseleo karena kebanyakan ngomong (karena giginya sering mengatup padahal nggak kena kerupuk) dan memiliki lidah yang lentur untuk artikulasi sempurna (karena lidahnya sering liuk-liuk demi mengenai kerupuk yang langsung melting itu). No wonder orang Indonesia jago ngomong, pas kecilnya ikut lomba makan kerupuk, sih.
Balap Karung
Lomba ini juga tipikal lomba yang sering diperlombakan di mana saja kapan saja, nggak harus di acara tujuh belasan. Beberapa orang berusaha paling duluan sampai ke garis finis sementara kakinya (seringnya sih sampai leher) terbungkus karung goni. Tentu saja yang terjadi adalah peserta melompat-lompat lucu dan beberapa kali terjatuh (dan tentu saja ditertawakan penonton).
Aku punya teori tersendiri mengenai asal mula lomba balap karung ini. Ada kemungkinan, lomba ini diprakarsai oleh seorang produsen karung goni terkenal untuk mengiklankan betapa karung goninya kuat dan tahan banting. Yah, lebih kurang kayak Levi Strauss yang mengikatkan celana jeans produksinya ke dua kuda yang dipacu ke arah yang berlawanan. Aku malah bisa memikirkan kalimat iklannya sekarang: “Karung Goni cap Pak Goni! Kuat, bandel, dan serba guna! Bukan sekedar karung beras, tetapi juga cukup kuat untuk jadi kendaraan, bahkan sleeping bag!”
Oke. Aku ngaco.
Lomba ini, kayaknya, memiliki esensi penting di dalamnya: teruslah maju walaupun kakimu terbungkus karung goni. Teruslah bangkit walaupun mukamu terjatuh di kubangan lumpur. Teruslah melompat walaupun sainganmu terpelanting karenanya. Pokoknya, apapun yang terjadi, melajulah ke garis finis!
Satu lagi, lomba ini harusnya diadopsi Rinso karena sejalan dengan tagline iklannya: kalau nggak noda ya nggak belajar. Seringnya sih malah bajunya yang sobek karena terjatuh di aspal. (:P)
Lomba Memindahkan Belut
Dari namanya saja sudah ketebak, kan? Peserta disuruh memindahkan belut dari satu baskom ke baskom lain. Pada tahu belut, kan? Itu lho, ikan yang panjang berlendir kayak ular yang bisa bikin cewek-cewek menjerit-jerit jijik.
Salah satu esensi lomba ini, kayaknya sih, adalah untuk mengingatkan kalau Indonesia adalah negara agraris. Seperti yang (sebagian dari) kita tahu, belut biasa tinggal di sawah dan biasa didapatkan dengan cara ngurek (coba cari di wikipedia atau google kalau nggak tahu apa artinya). Seperti yang kita tahu juga, saat ini jumlah sawah mulai berkurang karena tanahnya dipakai untuk membangun industri. Dan, pembangunan industri berujung pada perubahan kultur budaya desa dan penurunan standar sanitasi lingkungan. Karena itu, stop industrialisasi!
Oke. Aku ngaco lagi.
Ada kemungkinan lomba ini menginspirasi orang-orang barat sana untuk membuat acara Fear Factor. Memegang makhluk licin berlendir yang tak hentinya menggeliat tentu saja menimbulkan sensasi tersendiri, bukan? Dan tampaknya mereka cukup pintar untuk membawa sensasi itu ke tingkat yang lebih tinggi, which is Fear Factor. Karena itu, mari kita perjuangkan hak kita sebagai inspirator utama Fear Factor! (Sori-sori, nggak bermaksud apa-apa, cuma lagi trance aja)
Esensi lain lomba ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara memegang belut yang baik yang benar. FYI, belut adalah makanan berprotein tinggi dan bisa diubah menjadi dendeng, abon, atau keripik yang rasanya lezat. Jadi, siapa saja yang berminat menjadi juragan belut bisa menggunakan lomba ini sebagai sarana untuk melatih karyawannya—atau malah menjadikannya tes masuk. Bagaimana, tertarik?
Memasukkan Pensil (atau Paku) ke Botol
Dari namanya saja, lomba ini terdengar begitu mudah. Apa sih susahnya memasukkan paku ke botol? Nah, coba bayangkan bagaimana kalau paku itu diikatkan pada seutas tali, terus talinya diikatkan ke perut sehingga si paku menggantung melewati (maaf) bokong, lalu dimasukkan tanpa bantuan tangan ke mulut botol yang menganga. Masih berpikir lomba ini gampang?
Kalau ditilik, lomba ini memiliki pesan moral yang hampir sama dengan lomba makan kerupuk: belajarlah hidup prihatin. Seperti kita tahu, pada zaman (sebelum sampai) kemerdekaan, keberadaan kloset duduk bisa dihitung dengan jari (atau mungkin malah nggak ada). Orang-orang dulu biasa buang air di jamban berupa lubang di lantai atau bilik bambu di atas kolam kian (mereka jijik nggak ya kalau tahu ikan emas yang mereka makan tuh ternyata makan “kotoran” mereka?).
Karena itulah, lomba itu sengaja dirancang agar orang-orang masa kini mengerti bagaimana rasanya menggunakan kloset jongkok sekaligus melatih mereka agar menemukan posisi yang bagus untuk jongkok dan (maaf) BAB. Sebuah majalah kesehatan pria bahkan mengetengahkan gerakan itu sebagai cara ampuh mengetes kekuatan paha. Tentu saja, mereka tidak menganjurkan kita untuk mengikatkan paku ke perut seperti saat lomba. (:P)
Sebenarnya sih ada lagi lomba-lomba lainnya, namun aku terlalu malas untuk mengulasnya di sini (dasar orang Indonesia). Satu hal yang bisa kutarik dari ulasan ini adalah orang Indonesia suka sekali mempersulit sesuatu. (:P)
Kalau mendengar kata itu, apa sih yang terlintas di pikiran? Pantai berpasir putih yang dikelilingi nyiur melambai seiring debur ombak? Gadis-gadis berkulit coklat mengilap berbikini cerah? Sebuah pemandangan—atau karya seni—yang meninggalkan jejak tertentu di hati? Hmm... mungkin ya mungkin tidak. Yang jelas, pengertian eksotis sendiri adalah aneh atau asing.
Dalam posting ini, saya ingin mengetengahkan pengertian eksotis menurut ilmu biologi, tepatnya ekologi: suatu spesies yang bukan merupakan spesies asli di wilayah tempatnya tinggal. Spesies eksotik biasanya berasal dari wilayah lain dan terbawa mungkin oleh alam atau (seringkali) manusia. Kalau manusia-lah dalangnya, bisa jadi proses pemindahan wilayah hidup itu dilakukan secara sengaja (karena buahnya mahal dijual atau sebab lainnya) atau tidak sengaja (benihnya tersangkut di baju atau hewannya menyusup masuk kapal).
Sayang sekali, eksotis dalam pengertian biologi tak seindah paragraf kedua postingan ini. Spesies eksotik seringkali dituduh sebagai penyebab rusaknya ekosistem dan punahnya spesies asli wilayah itu. Bahkan, introduksi spesies eksotik seringkali dihindari.
Hal yang masuk akal, sebenarnya. Setiap wilayah memiliki ekosistemnya sendiri- sendiri. Itu artinya, setiap hewan memiliki mangsa dan pemangsanya sendiri. Selama rantai itu tetap berlangsung, kesetimbangan akan tetap terjaga, dan tak akan ada spesies yang terancam punah.
Masalahnya, setiap kali suatu spesies masuk ke wilayah yang bukan wilayah aslinya, dia akan berhadapan dengan kondisi yang baru sama sekali. Ia akan berusaha masuk rantai makanan yang tadinya tidak mengikutsertakan dia di dalamnya. Lebih parah lagi apabila spesies itu adalah spesies yang mampu berkembang biak secara cepat namun tak memiliki pemangsa yang mampu mengontrol ukuran populasinya. Hasilnya adalah ledakan jumlah spesies eksotik tersebut dan penurunan jumlah asli spesies asli, baik karena dimangsa atau kalah bersaing.
Ada satu kasus menarik yang saya lihat di acara dokumenter. Ada suatu pulau di utara Eropa yang terkenal akan keragaman burungnya. Di sana, banyak sekali jenis burung namun tak ada organisme yang memakan mereka. Walaupun begitu, jumlah mereka tetap seimbang; mereka meregulasi ukuran populasi mereka sendiri. Namun, beberapa tahun berselang, hutan di pulau itu mendadak sunyi senyap; tak ada lagi kicauan burung. Ada apa gerangan?
Ternyata, tersangka utama menghilangnya jumlah burung di pulau itu adalah ular pohon. Mereka menyusup masuk dari tali-temali kapal yang mendarat di pantai pulau itu. Menemukan pulau penuh dengan burung, dan burung-burung itu sama sekali tak takut ular (karena mereka belum pernah melihat ular), adalah keberuntungan tak terduga bagi sang ular. Ukuran populasi mereka di sana pun meledak dahsyat: dari hanya seekor ular betina yang hamil menjadi puluhan ribu ekor hanya dalam beberapa tahun.
Atau, kalau ingin melihat contoh kasus yang nyata, silakan berkunjung ke Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Di sana, akan tampak pemandangan “penjajahan” tanaman passiflora terhadap pohon-pohon di hutan. Tanaman itu adalah tanaman asli amerika tropis yang tumbuh pesat di Indonesia. Begitu pesatnya sampai-sampai mereka menutupi tumbuhan inangnya sehingga pohon-pohon itu tak mendapat sinar mentari dan akhirnya mati (passiflora tumbuh merambat, lebih kurang seperti sirih). Begitu pesatnya sehingga pihak taman nasional membolehkan masyarakat mengambili tanaman itu dari lingkungan hutan (entah untuk apa. Buhanya, mungkin?).
Begitu berbahayanya spesies eksotik, mereka bisa “mengubah” kehidupan spesies asli menjadi terdesak dan bahkan punah.
Kalau begitu, bukankah manusia juga merupakan spesies eksotik? Manusia datang ke Bumi (entah dari mana) dan mengubah lebih dari setengah (atau mungkin bahkan tiga perempat) wajah Bumi. Manusia membawa kepunahan bagi beberapa spesies kehidupan dan membuat lainnya sekarat. Sungguh spesies eksotik yang berbahaya.
Menyitir ucapan Drosselmeyer di Princess Tutu: “It is dangerous not to know your place.”
Moral of the story: berhati-hatilah ketika mengunjungi negeri asing. Sebisa mungkin jangan membawa spesies eksotik dari dan ke mana pun. Oh, ya, bagi siapa saja yang berniat memelihara piranha, jagalah agar tidak terlepas di sungai manapun di Indonesia. Riset membuktikan kalau kondisi perairan darat Indonesia sangat kondusif bagi pertumbuhan piranha. Tentu saja kita tak ingin memasukkan musuh dalam selimut, bukan? (Isu ini sudah lama sekali digaungkan, pasti sebagian besar orang sudah mengetahuinya.)
Sebenarnya masih merasa nggak enak karena peristiwa kemarin. Malah, sempat terpikir untuk berhenti nge-blog. But, no, that is not the right thing to do. I never found something as useful as blogging to train my linguistic skills, so it’s a pity to quit now. Dan lagi, saya yakin dia tidak menginginkan hal ini pula (tampaknya saya menggunakan kata “dia” untuk menyebut orang-orang yang berbeda :P).
Okay. Let’s the post begins!
Siapa sih yang tak kenal vidgim? Sejak zaman saya SD, Nintendo dan Sega sudah merajalela, menempel di TV-TV ruang keluarga. Saya pun salah satu pecandunya, walaupun nggak freak-freak amat. Saya pernah merasakan main game dengan grafis dua dimensi yang kalau saya lihat lagi ternyata jelek sekali (sampai-sampai saya heran, kok bisa dulu saya melihat itu bagus sekali?). Saya pernah terpukau melihat indahnya Spira di FFX, gelapnya Silent Hill yang mengerikan, dan indahnya warna-warna pastel dalam Tales of series. Saya pernah menjajal beberapa genre game: Adventure (kadang clue-nya susah ditemukan), action (“Ngapain kamu main game cuma loncat-loncat gitu?” tanya ayah saya menyindir), fighting (controllernya harus tahan banting!), horror (dan saya berani main itu di tengah gelap malam, lho :P), dan genre-genre lainnya.
Dari banyaknya genre-genre game yang ada, genre yang paling saya sukai adalah RPG. Genre yang dipelopori Dragon Quest pada zaman Nintendo ini memang berbeda dari genre-genre game lainnya. Inti genre ini adalah permainan peran; player mengambil peran sebagai tokoh utama (beberapa game RPG malah menyiapkan tokoh utama tanpa nama) dan mengendalikannya sepanjang cerita berlangsung. Entah mengapa, saya sangat menyukai genre ini; mungkin saya menyukai elemen bermain peran di dalamnya, atau lingkungan permainannya yang kebanyakan medieval, atau saya hanya penasaran dengan ceritanya. Yang jelas, apabila ada game RPG baru yang keluar di pasaran (apalagi kalau keluaran Square-Enix, Atlus, Namco, Bandai), saya segera membelinya. Walaupun akhirnya makan hati juga karena PS2 saya ditinggal di Sukabumi.
Setelah lama bermain dengan game RPG, saya sadar kalau tema kebanyakan game adalah destiny versus free will (yang juga menjadi tema sentral anime favorit saya, Princes Tutu). Di setiap game, tokoh utama selalu menjadi satu-satunya orang yang berontak terhadap krisis yang terjadi di lingkungannya. Dan, krisis itu bisa berwujud macam-macam tergantung game-nya: kekuatan jahat yang bangkit kembali, raja palsu yang memerintah dengan lalim, dan Tuhan yang berkuasa sewenang-wenang terhadap makhluknya.
Yup, saya tidak salah tulis. Beberapa game menggambarkan bahwa Tuhan berkompromi dengan kekuatan jahat sebelum mati. Game lainnya malah menjadikan Tuhan di agama fiktif mereka sebagai boss terakhir. Simak saja Final Fantasy X, yang menceritakan bahwa Yu Yevon (nama Tuhan di agama Yevon) adalah pembawa Sin (makhluk penghancur di Spira) dan akhirnya dimusnahkan oleh tim tokoh utama. Simak saja Grandia 2, yang menceritakan bahwa Granas (sang Tuhan) telah mati jauh sebelum cerita dimulai dan segel-segel yang ditinggalkannya bertujuan untuk mempermudah bangkitnya Valmar (sang iblis). Yang jelas, apabila sebuah game RPG memasukkan elemen agama fiktif ke dalam gameplay-nya, bisa diramalkan bahwa agama itulah yang akan dilawan oleh si tokoh utama.
Box cover game favorit saya: Shin Megami Tensei Nocturne
Tapi, tidak ada game yang se-frontal Shin Megami Tensei series (which is my favorite game ever)dalam hal semacam ini. Game ini jelas-jelas menggolongkan semua macam makhluk mitologi sebagai demon: dewa-dewi Norwegia, folklor berbagai negara, makhluk-makhluk yang memang pantas digolongkan sebagai demon saking jahat atau menjijikkannya mereka, bahkan malaikat-malaikat serta seraf-seraf dalam mitologi kristiani. Untung saja Atlus, developer-nya, belum memikirkan untuk memasukkan Jesus Kristus, Muhammad, atau Allah ke dalam kategori demon mereka (mungkin mereka sadar kalau itu terlalu berbahaya).
Game ini benar-benar menekankan kebebasan memilih pada player. Player diletakkan di sebuah wilayah tanpa hukum yang jelas dan (seringkali) lingkungan yang rusak berat, lalu dipersilahkan untuk memilih hukum apa yang paling tepat diterapkan di wilayah itu. Terdapat tiga pilihan hukum utama: law (hukum yang menjerat dan mengikat, serta menekankan pada kepatuhan dan keteraturan), chaos (tidak ada hukum yang berlaku selain hukum rimba), dan neutral (seharusnya sih intermediet antara kedua hukum yang disebut pertama, tapi game ketiga malah menafsirkannya sebagai kesendirian, ketika manusia kehilangan statusnya sebagai makhluk sosial). Tentu saja, bagi manusia yang waras, susah sekali menentukan hukum mana yang tepat untuk dunia fiktif ini.
Yang lebih parah, game ini menjadikan Lucifer sebagai salah satu tokoh protagonis—paling tidak sebagai tokoh yang membantu si tokoh utama untuk membentuk dunianya. Di game ketiga, ada suatu ending yang dinamakan True Demon, yang menceritakan bahwa si tokoh utama (yang bertubuh demon namun berhati manusia) diubah menjadi demon yang sempurna oleh Lucifer, dan tokoh utama mengangkat senjata melawan para penghuni surga. Game kedua malah menjadikan YHWH sebagai boss terakhir apabila player memilih ending tertentu—walaupun akhirnya sang tokoh utama mendapat hukuman untuk mati dan hidup kembali tanpa henti.
Kalau ditelaah lebih jauh, wajar saja kalau game-game ini berisikan pesan moral seperti itu. Jepang, tempat game-game itu diciptakan, adalah penganut Shinto yang lebih percaya pada dewa-dewa alam ketimbang monoteisme. Dan lagi, yang sebaiknya ditekankan di sini adalah kemampuan untuk mengubah keadaan, bukan?
Saya sendiri tidak merasa takut untuk di-brainwash oleh game-game ini sehingga saya jadi ateis. Saya sudah mengalami banyak peristiwa di dunia ini, dan beberapa di antaranya begitu menyakitkan sampai-sampai saya merasa waktu saya berhenti berputar. Pada saat seperti itu, sungguh melegakan memiliki Dzat yang bisa saya jadikan tempat penumpahan kesedihan dan tempat permintaan pertolongan. Sungguh melegakan memiliki Dzat yang saya yakin selalu mencintai saya, selalu ada untuk saya, dan menyemangati saya untuk hidup di jalan-Nya yang benar. Dan, tak bisa terhitung berapa kali saya ditolong secara tiba-tiba; memang hanya sedikit, tapi mampu mendorong saya untuk memperbaiki kesalahan saya dan mengembalikan keadaan seperti semula. Saya percaya, ada tangan tak terlihat yang mengarahkan saya sekaligus memberikan kebebasan untuk memilih pada saya. Dan, saya percaya, tangan itu adalah Allah, Tuhan saya, yang tak jemu membimbing saya walau saya seringkali lalai melakukan apa yang Ia inginkan (maafkan saya...).
Dan lagi, setelah memainkan Shin Megami Tensei, saya jadi tahu kalau menjadi Tuhan itu berat sekali. Saking beratnya sampai-sampai saya yakin tidak ada manusia yang mampu menanggungnya. Ada begitu banyak manusia di dunia ini; jutaan kepribadian, jutaan cara pandang. Dan, sangat tidak adil apabila salah satu dari tiga hukum itu diterapkan begitu saja pada mereka. Perlu pencampuran yang sempurna, dengan komposisi yang tepat dan berimbang (yang artinya belum tentu rasio 50%-50% berlaku), agar semua manusia bisa merasa bahagia di dunia. Dan, percaya deh, setelah memainkan game itu, saya jadi yakin kalau dunia yang kita tempati ini not too bad. Cukup menyenangkan malah, daripada nyawa terancam setiap hari atau kebebasan terenggut akibat seabrek peraturan yang harus ditaati tiap hari.
Oh, iya. Untuk para orangtua yang ketakutan, game-game di atas ratingnya Teen, kok. Shin Megami Tensei series ratingnya Mature, malah (dan saya memainkan itu saat umur enam belas tahun :P). Insya Allah player-player-nya sudah cukup dewasa untuk menyaring pesan moral di dalamnya.
Oke, deh. Moral of the story, di dunia yang serba global ini, seseorang harus pintar menyaring informasi. Dan lagi, percaya pada Tuhan (tak peduli apa agama yang dipeluk) akan sangat membantu dalam hidup. Karena Tuhan itu ada. Dan dia mengawasi serta membimbing kita.
Sebenarnya udah dari dulu pingin bikin posting bertema ini. Tapi... yah... apa daya... niat nggak sampai (dasar pemalas :P). Walaupun begitu, mengingat kenaikan harga BBM per 1 Juni 2008 (saya ambil istilah ini dari program berita di TV, tau artinya apa) sedikit banyak berimbas pada keuangan dan stamina saya lewat inti postingan ini, mau nggak mau...
Pasti bingung kan, mau posting apa saya sekarang?
Hmm... standar aja sih. Pengen ngebahas transportasi sejuta umat di kota Bandung: angkot.
Siapa sih yang nggak kenal angkot? Nggak mungkin ada, deh. Mobil carry (kadang kijang (sayang)) warna-warni yang berseliweran di jalanan kota Bandung (yang kayak sarang laba-laba saking ruwetnya) terlalu mencolok untuk diabaikan, kan? Dan, seringkali, orang memaknai “angkot” dengan kata yang negatif.
Oke, kita tes, deh. Coba sebutkan satu aja kebaikan angkot di jalan raya. Saya aja sempat mikir lama sebelum menyebut kata “praktis” dan “murah”. Itu pun masih kurang tepat karena ada sarana transportasi lain yang jauh lebih praktis dan murah: sepeda motor (saya bilang angkot paling praktis dan murah karena saya nggak bisa naik sepeda motor :P).
Sebaliknya, apa sih kejelekan angkot di jalan raya? Wuih, jawaban pertanyaan ini kayaknya udah ngantri di otak saya, ngegedor saraf saya minta dikeluarin. Nggak aman, lah. Bikin macet, lah. Hobi nyalip, lah (walaupun masih kalah kalau dibandingin sepeda motor). Sering ngetem, lah (dan untungnya saya berhasil menghindari angkot-angkot yang potensial ngetemnya tinggi :P). Suka berhenti sembarangan, lah (Instruktur nyetir saya malah pernah wanti-wanti untuk hati-hati kalau menyetir di belakang angkot; sering berhenti mendadak tanpa peringatan soalnya (dan agak ironis mengingat dia sendiri supir angkot)). Belum lagi sopirnya yang hobi banget bikin penumpang jadi ikan asin: mobil udah penuh terus aja disuruh geser. Apa dia buta kalau penduduk dunia tuh makin lama makin besar? >:P
Tapi, yang paling bikin saya kesal soal angkot di Bandung adalah kurang jelasnya tarif sekali naik bagi penumpang. Angkot di Bandung memang menetapkan tarif tergantung jarak, makin jauh makin mahal. Rentangnya dari Rp. 1000 (dekat) sampai Rp. 3000 (jauh). Masalahnya sekarang, “dekat” tuh segimana ukurannya? Yang termasuk “jauh” tuh berapa kilometer?
Contoh kasus, deh. Tiap hari saya pulang dari kampus (kalau nggak nebeng teman atau paman saya), saya punya dua alternatif angkot yang bisa membawa saya “turun gunung”: Panghegar-Dipatiukur atau Kalapa-Dago. Seringnya sih saya naik Panghegar-Dipatiukur karena agak lebih murah: Rp. 2000 sampai Veteran. Tapi... kalau saya pikir lagi, kasihan si angkotnya. Selain karena rutenya muter-muter, penumpang angkot itu lumayan jarang; Kadang-kadang, cuma saya yang naik di angkot itu, bersikap cuek sambil ngedoain semoga ada lagi yang naik sehingga saya nggak disuruh pindah angkot (ini juga nih kejelekan para angkot). Itu artinya, saya harus mengasihani diri sendiri karena waktu di perjalanan pun jadi membengkak.
Tapi... agak nggak rela juga kalau harus naik Kalapa-Dago. Angkot-angkot ini terkenal arogan (tentu sopirnya yang arogan, bukan angkotnya). Hobi mereka: ngetem di depan BIP, nggak peduli penumpangnya mau protes apa nggak, pokoknya nggak akan jalan kalau belum penuh. Dan lagi, jarak yang ditempuh untuk Rp. 2000 bagi mereka tuh cuma dua pertiga dari jarak tempuh DU-Panghegar untuk ongkos yang sama. Belum kalau ngasih kembalian suka dikurangin; saya pernah ngasih uang lima ribuan dan cuma dikembaliin dua ribu, padahal saya naik angkot cuma dari BIP ke Regent! Aaaargh! Sumpah, nggak relaaaa!
Karena itu, saya selalu pukul rata dua ribu tiap kali naik (walaupun saya juga tahu diri untuk menambah limaratusan kalau ngerasa jaraknya udah jauh banget :P). Earphone jadi barang penting tiap kali naik angkot. Soalnya, bukan sekali dua kali saya diteriakin gara-gara bayarannya dibilang kurang. Kalau ada earphone, saya biasanya pura-pura nggak denger (walaupun hati udah dag-dig-dig duluan). Kalau nggak ada earphone, ada sedikit saran yang mungkin berguna: suruh teman cewekmu yang bayar angkot. Biasanya, sopir angkot suka luluh sama yang namanya cewek, sukur-sukur kalau cantik :P.
Karena sarana primer saya adalah angkot, saya keder juga pas tahu BBM naik lagi ntar Juni (duh, jadi pengen belajar naik motor T_T). Saya ramalkan, kenaikan ongkos angkot adalah sekitar Rp. 500 per ukuran jarak (bodo amat mau bener apa nggak, pokoknya saya maunya segitu). Kenaikan ini, seperti yang saya katakan di paragraf awal tadi, pasti berimbas pada keadaan ekonomi saya: membengkaknya anggaran yang harus dialokasikan untuk transportasi (widih... serem bahasanya). Dan, untuk menanggulanginya, saya harus meningkatkan frekuensi jalan kaki untuk mencapai tujuan (yang entah menaikkan atau malah menurunkan stamina saya secara di jalan banyak sekali debu berseliweran).
Fuuuh... susah jadi orang kere...
Solusinya, jadilah orang pintar! Manfaatkan segala macam sumber daya di sekitar kita! Berawal dari menebeng mobil orang, siapa tahu saja kita bisa menemukan sumber energi baru (nggak nyambung, ah). Intinya, bagi warga Indonesia, yang tabah aja ya? Memang sih, kalau kita mau makmur, sepertiga populasi manusia harus dikurangi (Ampun, pak! Cuma becanda!).
Lagipula, angkot itu tidak buruk-buruk amat, kok. Ada banyak memori indah yang didapat selama ngangkot: diteriakin sopir, digrepe copet, disentak pengamen gara-gara ngobrol atau denger mp3 pas dia nyanyi, permen karet nempel di sol sepatu, hampir diserempet, dan lainnya (buset, lo dendam banget ama angkot ya, Fer?). Ga ding. Saya pernah ketemu guru favorit saya di angkot. Saya sering ketemu teman lama saya di angkot. Banyak celetukan yang lucu atau emngandung hikmah yang saya dapatkan selama di angkot (padahal pake earphone, loh. Saya juga bingung kok bisa kedengeran). Syukur-syukur kalau saya bisa ketemu cinta sejati saya di angkot, kayak temen saya yang kalau janjian selalu di angkot. :P
Cheers!
PS: Saya kira saya bisa balik normal dengan break-up dan confess. Tapi... kok kayaknya saya malah makin twisted, ya? Oh my...
Tertarik menulis blog lagi setelah si teman saya yang heboh-heboh asyik meng-sms saya dan bilang tulisan saya lucu (iya gitu? Perasaan biasa aja deh). Terus, rada ngiri juga ngeliat kesuksesan blog-blog yang dibukukan itu. Gila, tinggal nulis kehidupan sehari-hari, dapat royalti pula! Aaah, gua ngiri....! (Jeritan hati seorang pengarang yang naskahnya tak kunjung dibukukan)
Tadi baru aja dari gramed merdeka, awalnya pingin membeli buku yang ditemukan berdua bareng si “...” (takut ada yang jeles), dan akhirnya malah mengadopsi (cuih) sebuah buku (dan memerawani buku lainnya tanpa mau bertanggung jawab :P (maksudnya baca tanpa beli)). Sampulnya biru, harganya lumayan. Aku mau aja nyebutin judulnya, tapi setelah si pengarang ngasih ongkos karena dah ngiklanin. Lumayan buat beli iPod :P
Kenapa aku beli buku itu? Karena lusa aku UTS. Hah? Kok bisa? Soalnya aku butuh pelarian. Dan lagi, berhubung duit di ATM masih banyak (kenapa ortu nggak nurut aja pas aku minta uang sedikit, sih? Kan klo kayak gini akunya yang jadi boros B-)), jadi jah beli tanpa mikir panjang lagi.
Dan lagi, topik bukunya menarik. Tentang backpacking.
Yup. Backpacking. Hal yang paling ingin aku lakukan seumur-umur.
Bayangkan, betapa enaknya bisa jalan-jalan ke luar negeri, hanya berbekal ransel sebiji plus-plus, nggak perlu keluar uang terlalu banyak n... pokoknya... kayaknya asik banget, deh! Apalagi buat cowok kuper yang paling jauh cuma pergi ke Palu (dan itu pun nggak inget cz masih lima tahunan ke bawah)...
Kalo dibilang, aku ini manusia kontradiksi. Bagiku, nggak ada yang senyaman rumah. Leyeh-leyeh di atas kasur ditemani coklat hangat tuh pleasure banget buat aku. Wuih!
Masalahnya, aku pembosan. Kadang-kadang, pingin rasanya ngambil pacul atau linggis trus ngerobohin empat dinding kamar yang kayaknya makin lama makin kusam aja (ya iyalah, ditendangin gitu...). Tentu aja nggak mungkin aku berlaku kayak gitu, secara aku tinggal di rumah orang. Akhirnya, yang kulakukan adalah, pergi ke luar rumah, berbekal duit recehan buat naik angkot.
Asa muter-muter nggak sih...?
Intinya, aku cukup pede untuk menjadi backpacker. Gimana nggak, aku punya passion yang wajib dimiliki setiap backpacker : pengen jalan-jalan! Aku pengen sightseeing, terutama kalau objeknya wisata alam gitu. Ke pantai berpasir putih, atau ke gunung yang rimbun dan adem. Kenapa nggak mau masuk pecinta alam? Ogah ketularan malesnya. :p
Modal lainnya, aku kuat jalan kaki. Yup, bisa dibilang, aku hobi jalan kaki. Dulu, waktu SMA, aku pergi sekolah jalan kaki. Teman-teman kelasku aja hapal kebiasaanku satu ini. Untungnya saja aku nggak pernah bau badan walaupun banjir keringat, jadinya reputasiku aman. Selain itu, kalau nggak ada kerjaan, aku suka jalan kaki. Ngebuang waktu dengan jalan kaki. Dari gramed ke rumah, misalnya, atau ke alun-alun untuk beli mp3 (n selalu ditawarin bokep), atau dari BSM ke rumah (“One day tour of Bandung, Pak?” ledek temanku). Selama di sukabumi, aku malah nggak pernah naik angkot saking kecilnya tuh kota.
Tapi... pas baca buku itu, aku nyadar kalau backpacking tuh nggak sesederhana itu. Backpacking itu survival. Gimana caranya orang bisa tahan hidup dua minggu berbekal lima kaos, dua celana panjang, dan uang secukupnya? That’s awesome for me, secara aku hidup di keluarga yang nggak niat bikin aku ngerasain hidup susah (seadanya sih iya, tapi nggak se-terpuruk itu). Tapi, nggak masalah, deh. Aku kan terbiasa hidup sederhana (walaupun nggak bisa cuci baju n sekalinya cuci piring pasti dicuciin lagi sama si bibik karena divonis belum bersih).
Masalah lain menghadang. Okelah kalau masih di dalam negara. Kalau lintas negara? Wuih, lebih gawat, tuh. Paspor, lah. Visa, lah. Birokrasi, hal paling kubenci sedunia, pasti menghadang. Belum lagi dari segi finansial, secara nilai rupiah jatoh banget jadinya butuh duit lebih banyak untuk beli barang yang—bagi penduduk sana—murah. Belum lagi culture shock dan kendala bahasa, secara bahasa inggrisku nggak bagus-bagus amat. Ngomong aja masih balelol, kudu didongkrak kursus...
Yah... sayang... padahal aku pengen banget ke luar negeri.... Jadi iri sama dua orang temanku yang pramugara itu, mereka bisa ke luar negeri. Tapi... nggak juga, deng. Mereka pasti harus stand-by terus di pesawat jadinya nggak bisa jalan-jalan :P Kasiaaan...
Pokoknya, tekadku udah bulat. Kalau aku punya uang sendiri, entah itu dari royalti atau kerja sambilan, atau apa pun, aku bakal beli tiket ke Palu. Aku mau main ke Batusuya (bener nggak sih nulisnya?), ke rumah nenek. Aku udah ngiri berat ngedenger cerita adik-adik tentang tempat yang luar biasa indah itu. Bayangin, pantai putih yang masih bersih cuma berapa langkah dari belakang rumah! Burung rangkong dan hewan-hewan lainnya berkeliaran bebas... aku jadi pengen datang ke sana, trus duduk di bawah pohon kelapa sambil baca komik (atau ngetik klo udah punya laptop). Pasti asyik! Sayang, no coconut, coz i hate ‘em.
Yah, bermimpi boleh, kan? Mungkin aja mimpi itu bisa terwujud. Mungkin aja aku bakal keliling dunia dengan alasan kuliah graduate atau post-graduate (amin!), ngambil sampel mikroba (amin!) atau presentasi ilmiah (amin!). Walaupun dalam rangka kerjaan, tetep aja ke luar negeri. Ah, pokona mah, AMIN weh! (Si Amin misuh-misuh coz dipanggil terus dari tadi padahal mau ngejar pacarnya yang entah udah lari ke mana :P).
Mengenai Saya?
.Enigmatic
.Autism
.Gothic
.Sincere
.Bookish
.Sleepily Sleepy
.Chocoholic,Tealover,Coffee-hater
.In a (complicated) relationship
.Weird in every way
Masih mau tahu lebih banyak? LOL