Thursday, January 15, 2009

Trimaster: Prolog

(Ini adalah novel fantasi saya yang rencananya mau diterbitin independen. Tolong dikasih umpan balik yaa... pliiis...)

Prologue

Seandainya saja mereka tahu apa yang akan mereka hadapi, mereka pasti berharap takkan pernah dilahirkan.

Ruangan itu adalah ruangan terbesar yang pernah ada. Besarnya menyamai seluruh alam semesta—atau mungkin lebih. Ruangan itu didominasi warna putih keemasan yang khas. Arah tidak berlaku di dalamnya: tidak ada rasi bintang, cakrawala, bahkan papan penunjuk arah. Ke mana pun mata memandang, hanya warna putih yang tampak.

Dan ia berdiri di situ, di samping timbunan materi paling campur aduk yang pernah ada.
Jubah keemasannya berkibar dalam keheningan, menutupi tubuhnya dari kepala hingga kaki. Kecuali mukanya, tentu saja. Ia membutuhkan mukanya—dan kelima indera yang tersemat di sana—untuk mewujudkan cita-citanya.

Sebuah citra tergambar di depan matanya—atau di dalam benaknya, ia tak pernah tahu. Citra yang menggambarkan sekumpulan sosok yang sangat dikenalnya: manusia. Citra yang mengingatkannya akan sesuatu yang telah lalu, sesuatu yang ingin ia lupakan.

Dan, di antara kerumunan itu, ia mengenali tujuh sosok bertubuh sehitam arang. Mereka begitu kelam sehingga tampak kontras di antara lautan abu-coklat yang mengelilingi mereka. Tubuh mereka dililiti rantai abu-abu karatan. Mata mereka, yang hanya berupa celah berwarna tanpa bola mata, menggambarkan kesakitan dan kepedihan yang sulit diungkapkan.

Ya, mereka. Aku jadi merasa kasihan pada mereka.

Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Kasihan? Ia seharusnya tidak lagi merasa kasihan. Ia telah membuang perasaan tak berguna itu bersama banyak sekali hal lain dalam dirinya. Rasanya memang aneh, kosong, namun ia seketika terbiasa. Dan lagi, aku harus melakukan itu agar tujuanku tercapai.

Ia menoleh ke arah timbunan materi di sampingnya, yang mengingatkannya akan fondasi sebuah pilar. Sedikit lagi, pikirnya, aku hanya harus bersabar sedikit lagi.

—Trimaster—

Sudah berapa lama dia berada di kota ini, tidak ada yang tahu. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu. Yang ia tahu, ia tak tahu ada di mana ia sekarang.

Kota metropolitan di kala hujan deras yang bagai ditumpahkan dari langit. Jalanan berubah menjadi sungai-sungai berair kelabu, membawa serta serpihan plastik dan kertas yang berasal entah dari mana. Mobil-mobil terperangkap di tengah, melengkingkan bunyi yang membuat telinga siapa pun panas mendengarnya. Langit berubah kelabu, seakan menjadi cermin raksasa yang memantulkan citra kota kelabu tepat di bawahnya.

Dan ia ada di sana. Meringkuk di bawah pohon damar besar di pinggir jalan. Tak peduli kalau ujung jubahnya yang koyak sudah terendam di genangan berbau lumpur dan sayur basi. Tak peduli kalau tetesan hujan dari sela-sela dedaunan tanpa ampun merajam kepalanya. Ia hanya meringkuk, memeluk erat sesuatu di dalam jubahnya bagai ibu melindungi anaknya.

Aku harus melindunginya, ulangnya dalam hati. Aku harus mengembalikannya pada pemiliknya.

—Trimaster—

“Jadi itu benar? Yang keempat akan datang?”

“Yang keempat sudah datang. Hanya saja, ia masih belum terbangun. Belenggunya terlalu kuat, tampaknya.”

Ia membanting tubuhnya ke kursi empuk di belakangnya. Ketenangan langsung membanjiri tubuhnya, memerangi kegalauan dalam hatinya. Ia benar-benar bersyukur telah menuruti konsultannya: piramida memang bagus untuk meditasi. Reflek, tangannya menarik lepas kacamata hitam yang sedari tadi menutupi wajahnya.

“Odin, dilarang menunjukkan siapa dirimu di dalam Valhalla. Kamu sendiri tahu itu, kan?” wanita di depan mejanya berbicara tajam.

Odin menatap muka wanita itu, yang juga ditutupi kacamata hitam. Ia tersenyum. “Hanya ada kamu di ruangan ini, Freya.”

Freya menatap sosok dewasa namun letih di hadapannya lekat-lekat. “Mengenai yang keempat, apa yang harus kita lakukan?”

“Aku tidak tahu,” Odin berharap suaranya terdengar tegar, “tapi kita harus berusaha untuk tetap hidup.”

Freya mengangguk. “Oh, iya. Satu lagi. Kami telah berhasil menemukan apa yang kamu inginkan.”

“Buku itu?” tanya Odin memastikan.

“Ya,” jawab Freya. “Tim riset dan inteligensi Trias berhasil menemukan suatu sinyal energi yang mungkin saja berasal dari buku itu.”

Gurat kelelahan langsung menghilang dari muka Odin. “Di mana?”

“Soal itu, maafkan kami. Kami tak bisa melacak di mana persisnya buku itu berada. Yang kami tahu, buku itu berada di ‘dunia-yang-satu-lagi’, mungkin malah dekat dengan rumahmu.”

Odin mengangguk takzim. “Kerja kalian bagus. Paling tidak, kita sekarang tahu kalau buku itu ada.” Ia menarik napas. “Tolong kalian cari lokasi buku itu. Kita butuh semua hal yang akan kita butuhkan kalau kita akan berperang dengan ‘mereka’.”

Tuesday, January 13, 2009

Me Against the Distro

What a provocative title, eh? Well, it wont hurt to do that once in a while, right? For all of you distro-lovers out there, just read my passage to know why, ok?

Here goes.

Distro. What in the world is this? It is the short of "distribution store", meaning, it's a store to distribute things. Or, to be more accurate, a store to distribute things that are made by the owner of the store (taken by wikipedia); those things are usually wearable like jacket, t-shirt, watch, shoes, you name it.

According to wikipedia, distro trends begin at 1990 as a way for indie band to sell their merchandise (maybe for raising funds). And some punk and skateboard community followed this trend; they built small shop to sell some merchandise. In 2007, there were 700 distro industries and 300 of them were in bandung. Wow, such big number, and almost half of them are in bandung. That shows how creative bandungers is, eh? (such narcissist I am)

Distro's plus point is their exclusiveness, because their products are produced in a limited number (not mass produced like factory-made garment). Another distro's plus points is their product's uniqueness, as in the printout of their t-shirt or the design of their jacket.

And, believe or not, this second plus point is what attracted me most.

Yes, I know. The title suggest that I hated distro. But, no. I don't hate distro. In fact, I'm in awe with them.

Correction: I'm in awe with their creativeness and uniqueness. There's something that catch your eye in their products and that "something" is not existed in mass-produced garments. It satisfies my needs of "be different", "be unique", and "be standout". To name one, it will be "Unkl347" and OUVALRSCH. They're the best i've met so far.

But,for some reason, I do hate distro. Because of its unfriendliness to big-bodied-boy like me. I'm 180/70. That means, the size that fit me well is XL. And, finding XL-sized in distro is like finding a grain of salt in the desert (if that makes sense, i made that up), it's hard to find one.

Just wanna tell stories, a year ago I fell in love with one of the unkl's jacket. It was typical brown, army-look jacket, but the design captivates my eye. But, when I was going to buy that, the shopkeeper said that the only size available is S. Of course it's in possible to fit me in that size, so I gave up on that. But, first love remains, and it makes me harder to choose which jacket to buy because I'm still loving that one jacket.

So, if any of you distro managers read my passage, please, be more friendly with big-bulky-bodied person like me. Ok?

Cheers!

Saturday, January 3, 2009

Anak Kos Dodol Lagi: Lucu dan Berhikmah (Lagi!)

Postingan kali ini bukan renungan atau ramuan teori ngaco made-in-Ferdy. Bukan juga jurnal harian yang kadang dodol dan bikin alis mengernyit. Tapi iseng-sieng bikin resensi. Yah... siapa tahu... (berharap)

Ralat. Bukan resensi, melainkan fanboying (lihat aja profil blog-ku, atau profil FS-ku, bagian Favorite Books. Pasti ada buku ini). Dan buku beruntung (atau sial) itu berjudul Anak Kos Dodol Lagi.

Pada tahu buku Anak Kos Dodol nggak? Mungkin buku ini kalah pamor dengan Kambingjantan and the gank. Tetapi, isi buku ini serupa: saripati blog (halah) punya sang penulis mengenai kejadian-kejadian nyeleneh di kos-kosannya (yang notabene cewek semua jadi pastinya banyak yang terjadi). Jadi ingat, pertama kali beli buku ini karena lagi butuh referensi tentang cara menulis humor yang benar. Habisnya bete sih, novel humor yang kubikin sama sekali nggak lucu (curcol).

Dan, yang kudapat dari buku itu bukan hanya sekedar humor. Melainkan sederet kisah yang menyentuh nurani dan menyadarkan hati. Walau kadang ngocol di sana-sini. Halah, jadi ketularan puitis daku nih. Mbak Dedew, tanggung jawab!

Kemarin malam, aku baru saja selesai baca bukunya yang kedua: Anak Kos Dodol Lagi. Tanggapan? RUARRRR BIASA! Mbak Dedew kembali menyajikan cerita dengan gaya khasnya. Ada sesuatu di dalam tutur bahasanya yang membuat aku ikut terlibat di dalamnya. Seperti dalam cerita I Feel Love in The Air, aku ikut terharu saat anak-anak kos sepakat urunan makanan buat pesta dadakan (begini kan ceritanya?). Dan aku ngakak habis (sampai pintu kamar diketok orang rumah karena disangka gila) saat baca cerita Si Ganteng di Sarang Perawan (SGSP) dan Insiden Kamar Mandi. Khusus SGSP, aku pengen tuker tempat sama si abang ganteng. Siapa yang nggak pengen liat sepuluh cewek dasteran? Percayalah, daku nggak kalah ganteng kok, Mbak. Hehehe...

Cuma, di buku kedua ini, kerasa banget kalau Mbak Dedew terlalu excited. Beberapa ceritanya terasa terlalu bombastis dengan komentar samping (yang ditandai nggak terlalu jelas dengan cetak miring dan bintang di awal kalimat). Kalau boleh menyebut nama, jujur saja Peristiwa Subuh nggak aku baca benar-benar. Habis yah itu tadi, terlalu bombastis (maaf ya Mbak, hehe). Dan lagi, ada beberapa bagian cerita yang memakai bahasa daerah, dan tidak ada terjemahannya. Jadi berasa buta dan hilang arah aja pas sampai di bagian itu, nggak tahu artinya apa. Tapi kasus begini nggak terlalu banyak kok. Tenang aja, buku ini layak dibaca seluruh penghuni Indonesia dari Sabang sampai Merauke (dan para WNA yang bisa Bahasa Indonesia, hehehe).

Overall, buku ini memang nggak se-“nendang” Kambingjantan and the gank (soalnya mereka trendsetter, sih). Gaya bertuturnya memang kalem dengan bahasa semi-baku. Tapi, buku ini benar-benar direkomendasikan buat orang yang suka bacaan berbobot tapi nggak bikin kening berkerut. Ada petuah di setiap cerita, dan buku ini menuturkannya tanpa terasa menggurui. Dan, sangat dianjurkan buat para pengekos atau mantan pengekos, atau bahkan orang yang nggak pernah kos seperti aku dengan efek samping terkena sindrom pengen ngekos, hehehe. Makanya, ikutilah jejak saya dan belilah buku ini di toko buku terdekat (atau kalau mau scanning dulu, boleh pinjam punyaku, tapi ntarnya kudu beli)! Iklan banget, yak? Bodo amat, namanya juga nge-fans.

Cheers!

Thursday, December 18, 2008

Jatinenjer?

Judul di atas itu dibaca dengan cara yang spesial, terutama pada pengucapan huruf e-nya. Huruf e pertama dibaca kayak baca "kecap", sementara e kedua dibaca kayak baca "kertas". Thanks to temen aku Mella yang udah memberi tahu pengucapan yang benar...

Yup, bener. Itu adalah inggris-isasi dari "Jatinangor".

Hwehehehe, garing yak?

Sebenarnya sih agak nggak tertarik juga bahas ini. Tapi, setelah baca blog seseorang, jadi deh tertarik.

Begini ceritanya. Aku kuliah di kampus yang letaknya di utara Bandung, tepatnya di Dago. Kalau dibandingin sama kampus lain, kampusku ini lahannya memang sempit. Kerasa banget kok, soalnya aku selalu kesulitan nemuin ruangan buat kuliah tiap awal semester pasca-TPB (halah, sok tua, padahal baru setahun lepas TPB). Lagian, memang sih kerasanya kampusku memang sempit. Mungkin dari situ terbit wacana untuk melebarkan kampus.

Masalahnya, letak kampusku di tengah kota. Diapit pemukiman, pasar, dan kawasan wisata belanja Dago. Kalau diperlebar lahannya, agak susah cz pemukimannya permanen semua. Kalau harus beli lahan... kayaknya kampusku nggak punya dana buat itu. Cara termudah memang nyari lahan lagi (atau sukur-sukur kalau ada kampus tua yang sudah nggak kepakai) lalu bikin gedung kampus baru di situ.

Itulah yang (kayaknya) dilakuin kampusku. Dan lahan yang bersangkutan ada di Jatinangor. Tepatnya di Unwim (Universitas Winaya Mukti).

Awal wacana ini aku tahu dari petugas perpustakaan yang setiap minggu ke rumah buat ngedata bukunya paman. Waktu lagi makan siang, tiba-tiba aja dia nanya kalau "Benarkah fakultas bisnis kampusku bakal dipindah ke Unwim?" Yah, aku jawab aja nggak tahu, karena itu memang hal baru. Lalu, pas malamnya (atau beberapa hari setelahnya), aku konfirm ke si paman (yang kebetulan dekan fakultas itu). Dan beliau bilang, "Baru wacana, kok."

That's why, after that, I haven't give it much thought.

Lalu, tiba-tiba aja buletin kampus mengangkat isu heboh: beberapa fakultas direncanakan dipindah ke Unwim. Dan, selain fakultas pamanku, fakultasku juga dipindah ke situ. Katanya sih bakal digabung sama salah satu fakultas di sana (referensi: ayzholic).

Wow. Kampusku jadi jauh. Jauh dari rumah. Jauh dari gramedia. jauh dari mana-mana. Dan yang terpenting, nggak bisa nebeng si paman untuk ke kampus.

Hehehe...

Jujur, aku sih berharap kabar burung ini nggak bener. Biarlah fakultasku tetap di Dago dan ungsikan fakultas lain ke sana. Walaupun okelah, pemindahan kampus ke jatinangor membuatku lebih mudah mengeceng anak-anak Psikologi Unpad (keukeuh) dan memang anak-anak kampusku cenderung mengeceng cewek-cewek Unpad. Tapi... aku kayaknya nggak mau tinggal di Jatinangor. Jatinangor kan jauh, panas, terisolir pula. Nggak ada gramedia, nggak ada palasari, nggak ada togamas... (yeah, what a geek I am).

Intinya, aku berharap nggak pindah kampus. Beneran dah, Dago is the best! Walaupun suka macet pas malam minggu, angkotnya nge-charge gila-gilaan, dan banyak pengamen yang nanyi "Seribu ajah", aku cinta Dago!

Hehehe, cheers!

Monday, December 15, 2008

Indonesiasi Inggis?

Waktu kemarin ke Sukabumi naik bis, iseng-iseng buka friendster dari HP (apa boleh buat, GPRS mania). Aneh memang, padahal akun FS-nya udah nggak ada. Yah, reminiscing old time waktu masih berlebih pulsa, hehehe...

Lalu, pas masuk halaman pertama FS, agak bingung juga karena semuanya jadi berbahasa Indonesia. Mungkin bagus tujuannya, supaya orang Indonesia lebih ngerasa "at home". Tapi tetep aja ngeganggu, terutama karena penerjemahan yang ngaco bin asal.

Dan yang paling ngganggu adalah ini:

"[Nama], [umur]
Ada Komplikasi
[Tempat, kota]"

Sumpah, itu bikin ngakak banget. "Ada komplikasi"? Memangnya diabetes? Kasihan amat! Kayaknya itu terjemahan dari "It's Complicated", tapi jadinya ngaco. JAdi inget masa lalu, pas praktikum identifikasi tumbuhan sekampus dan mentranslate asal buku Flora of Java yang tebelnya amit-amit itu.

Lalu mulai bertanya, "Terjemahan aslinya apa, kalau gitu?"

Dan... bengong. Yap, terjemahan yang tepat apa ya? Nggak mungkin "Ada Komplikasi", soalnya artinya jadi jauh banget. "Membingungkan"? Kayaknya kurang tepat juga. "Sulit diungkapkan"? Ini yang paling tepat kalau dilihat dari ruh kata, namun beda jauh dengan kata aslinya dalam bahasa inggris.

Kalau begitu, jadi bertanya-tanya, apakah sekuat itu pengaruh bahasa inggris sebagai bahasa global di Indonesia, ya? Apakah aku mulai tertular virus "Cinta Laura"?

Cheers!

Friday, December 12, 2008

Relativitas dan Relativisme

It's about absolute and relativism. I was just thinking recently, is absolutism exists in this world? Apakah di dunia ini ada yang namanya kebenaran sejati?

Karena, menurutku, dunia ini tidak memiliki itu. Kalaupun ada, dunia ini terlalu banyak dipenuhi hal-hal yang relatif sehingga keberadaannya tersamarkan.

Untuk jadi bahan renungan saja, pada tahu semut, kan? Binatang yang terkenal dengan kerja keras, kegesitan, dan kerjasama. Tentu binatang itu patut ditiru, kan? Nah, suatu ketika, Ayah berkata, "Kita hidup jangan menjadi seperti semut."

Aneh bukan? Ya, aku heran. Begitu juga bibiku, yang sangat memahami Al-Qur'an dan langsung berkata, "Tapi semut itu binatang yang patut ditiru, lho! Mereka kan gigih, kuat, kerja sama pula. Bahkan satu surat dalam Al-Qur'an didedikasikan untuk mereka."

Ayahku mengangguk waktu itu. Lalu dia menambahkan, "Iya sih. Tapi semut itu menimbun makanan tanpa habis-habisnya. Hampir setiap saat dia menimbun kekayaan. Padahal belum tentu habis dimakannya. Jadi manusia pun jangan seperti itu, selalu menimbun harta dan mengejar dunia."

Aku mengangguk paham. Okelah, aku sudah belajar sedikit biologi untuk tahu bagaimana sistem hirarki dalam kerajaan semut. Tapi, dilihat dari segi itu, ucapan ayah ada benarnya. Semut terkenal menimbun makanannya. Beberapa semut menimbun daun untuk tempat tumbuh jamur makanan mereka, namun aku tak yakin semua semut melakukan hal itu.

See? Just a simple opinion changed one's point of view. Yang tadinya semut adalah binatang yang baik dan patut ditiru, berubah menjadi semut adalah binatang yang kikir serta bakhil dan tak patut ditiru.

Betapa cepatnya citra dan persepsi berubah. Semua serba relatif.

Yang paling terasa adalah ketika terjadi sebuah peristiwa. Apabila setiap orang yang terlibat--baik itu saksi, korban, maupun pelaku--diminta bercerita tentang peristiwa itu, penceritaan mereka pasti beda. Mungkin sama dari segi "apa-sih-yang-terjadi" namun berbeda dari segi "mengapa-hal-itu-terjadi". I know, coz I've been there. And it somewhat funny if I recalled how the four of us end up blaming others, making the story seems weirder and weirder till I call it quit.

Yah... what do you think? Is it useless to search for absolute truth in this world? What is absolute, anyway?

Somehow, aku jadi salut sama polisi, jaksa, hakim, dan orang-orang semacam mereka yang bertugas menegakkan keadilan. It must be tough for them...

Monday, December 8, 2008

Kursi Neraka

Oke... sebelum gw mulai postingan kali ini, gw musti klarifikasi satu hal: gw bukan kursi-filik, apalagi fetishee kursi. Bagi gw, kursi adalah benda biasa yang diciptakan untuk kemaslahatan umat manusia.

Kecuali mungkin kursi yang menjadi bintang utama postingan ini.

Semua orang di dunia ini--paling nggak di Indonesia--pasti pernah pergi ke Mall, kan? Tentu tahu kursi pijat otomatis yang suka ada di tiap mall. Yang pramuniaganya suka ngasih kesempatan undian, terus mendadak ujiannya "kena" dan kita boleh bawa barang yang kita "kena" itu dengan seabrek persyaratan yang intinya nyuruh kita beli di situ. Biasanya ayah suka memanfaatkan kesempatan "trial" itu untuk dipijat gratis. Dan gw... jujur aja... menatap iri. Kayaknya enak deh dipijat kaya gitu.

Dan tadi, gw akhirnya mendapat kesempatan untuk mencoba si kursi itu...!

Ceritanya begini. Hari ini Idul Adha (sekalian mau ngucapin Selamat Idul Adha buat yang merayakan, hehehe), dan biasanya perayaan Idul Adha di keluarga gw lebih singkat ketimbang Idul Fitri. Karena acara kelar jam 3, orang tua ngajak jalan. Ya sudah, berangkatlah kami ke BSM tercinta karena paling dekat sama rumah...

Nah, di BSM, ayah yang lagi sakit punggung langsung mencari kursi pijat dengan harapan dikasih kesempatan trial (walaupun pasti akhirnya nggak beli). Gw, yang menganggur, akhirnya bersandar di palang pembatas sambil membaca bukunya Benny and Mice yang Jakarta Atas Bawah (gw rekomen banget deh!). Salah satu pramuniaganya nyadar, dan manggil gw supaya duduk di dalam tokonya. Lalu, karena nggak ada kursi di situ, si mbak menor berambut bob (halah) itu berkata, "Ya udah, duduk di sini aja, Mas," sambil menunjuk si kursi pijat.

Gw menatap si Mbak. Serius nih?

Tatapan si Mbak seolah berkata, "Iya. Ayo cepet, udah nggak tahan nih..." (Emangnya apaan?)

Ya sudah. Jangan salahkan gw kalau akhirnya kenapa-napa. Gw pun akhirnya duduk di kursi pijat. Si mbak itu mulai menekan-nekan tombol di pegangan kursi.

Dan siksaan itu pun dimulai.

Feeling gw mulai nggak enak pas sandaran kursi itu mendadak merebah dan muncul benda-benda gaib seukuran bola pingpong yang muncul dan bergerak-gerak mistis. Si Mbaknya dengan enteng berkata, "Nyantai aja, Mas. Kan lagi dipijet. Ayo, sandaran ke kursinya."

Gw ketawa getir. Bola-bola sialan itu bikin gw susah nyandar. Dan, entah karena gw yang terlalu tinggi atau kursinya didesain untuk orang yang pendek, tuh bola-bola akhirnya menggesek-gesek tulang belikat gw, bikin gw nggak nyaman. Seakan nggak cukup, kaki gw dibelit sesuatu yang bergerak-gerak kayak ular. Betis gw dipencet sampai keras banget, bikin kram. Gw punya dugaan, tuh alat harusnya nangkring di belakang lutut, bukan di betis gw.

Mungkin menyadari penderitaan gw, mbak-mbak itu berkata, "Merem aja, Mas. Biar rileks."

Oke, gw mencoba merem. Cukup membantu sih. Tapi... cobaan berikutnya datang... dalam bentuk si Mbak itu! Dia ngajak ngobrol gw, nanya-nanya hal penting yang seharusnya dia nggak usah tahu. Berikut petikan wawancara yang gw anggap paling dodol.

Mbak Pramuniaga (PR): Mas dari mana?
Gw: Sukabumi, tapi sekarang di Bandung.
MP: Oooh... kuliah di mana?
Gw: ITB.
MP: D3 apa S1?
Gw: (menatap pramuniaga dengan heran) S1.
*Selama gw kuliah di ITB, belum pernah gw denger kampus gw buka D3. Dan gw yakin itu udah common knowledge.
MP: Masih lama dong... Beasiswa ya?
Gw: Nggak kok. SPMB
*Oke, gw bohong. Soalnya kalau gw bilang gw dari USM, makin mungkinlah kita diporotin sama tuh pedagang.
MP: Wah, keren ya! Saya dulu ikut SPMB nggak masuk-masuk lho...
GW: . . . (silence)
MP: Oh iya, mas kok tinggi sih? Gen, ya?
Gw: Mmm... iya sih... (nggak tahu harus gimana)
MP: Oooh... mungkin karena itu saya pendek ya? Tapi... nggak ah. Kakak saya tinggi-tinggi kok...
Gw: (masih speechless)
MP: Nggak enak lho, punya tubuh pendek. Kan susah tuh kalau mau ambil-ambil barang. Kira-kira kenapa tuh ya, Mas?
Gw: Yaa... mungkin karena gen juga kali. Yang turun gen pendeknya...
MP: (Ketawa garing)

Dan, akhirnya, dia nyentuh gw! Okelah, dia udah kelihatan SKSD banget sama gw, tapi kali ini agak... wow. Dia megang-megang tangan gw, lho! Sampai hampir ngeremes segala. Seakan itu belum cukup, dia mulai megangin paha gw. Untung saja, di saat itu, waktu pijat gw habis dan perhatian si Mbak beralih ke kontrol si kursi.

Seharusnya gw nggak bersyukur. Ternyata kursi neraka itu dinyalain lagi sama si Mbak-nya. Dan gw harus "menikmati" pijat neraka itu lagi selama 15 menit ke depan.

Akhirnya, gw tahu, ternyata semua itu adalah akal-akalan pramuniaga di sana untuk menahan gw dan orangtua gw agar tidak pergi sebelum membeli. Kita sempat berdebat alot dulu sebelum akhirnya berhasil membebaskan diri. Habis itu, kita cepet-cepet keluar dari BSM karena mau pulang--dan akhirnya balik lagi karena mau makan.

Dan, in the end, gw bertanya-tanya, "Adakah orang yang mau membeli kursi neraka itu?"

"Atau gw-nya aja yang terlalu ndeso sehingga malah sakit badan setelah pake itu?"

Cheers!