Saturday, June 28, 2008

Ular Melingkar-Lingkar di Aras Pagar :P

“Ular melingkar-lingkar di pagar”

Kalimat itu (which is the title of this posting) sangat tongue-twisting. Nggak percaya? Coba sebutin dua puluh kaliiii aja. Kalau nggak keserimpet, cobain seratus kali. Pokoknya cobain sampai lidah berasa terlilit (ceritanya mau keukeuh sumeukeuh :P). Atau mau versi Bahasa Sundanya yang lebih tongue-twisting? Here it is: “oray mapay areuy”. Tah, mangga dicobian. Pasti yang bukan orang sunda bakal lebih kebelibet, karena ada vokal “eu” yang dibacanya khas sunda pisan :P

Yah, niat awalnya bukan bikin posting yang tongue-twisting kok. Tenang aja. Yang mau kubahas di posting ini adalah binatang yang namanya muncul di dua kalimat itu. Pada tahu, kan?

Yup, ular. Atau oray. Atau snake. Atau binatang itu disebut dalam entah bahasa apa.

Jujur, aku suka banget ular. Ada yang pernah menonton topeng monyet? Nah, believe it or not, yang kutunggu dari sebuah pertunjukan topeng monyet bukan monyetnya, melainkan ular yang pasti muncul sebagai penutup show. Malah, di suatu kasus, aku pernah nangis-nangis karena mau ular punya si pawang monyet (bayangkan, padahal aku masih TK kecil waktu itu!). Mungkin itu bisa menerangkan betapa aku suka ular.

Sepanjang aku tumbuh dewasa, beberapa kali aku dibelikan ular oleh ayah (yang kayaknya suka juga memelihara binatang yang tak dipelihara orang banyak). Ada dua ekor ular piton sepanjang tiga meter. Baik sih, jinak (atau itu karena mulutnya dilakban, yah? Kasian kau, ular). Tapi, baunya itu, nggak nahan. Mungkin karena makanannya daging kali ya? Terus ada ular sanca batik sepanjang lenganku, diurus adikku yang entah kenapa jago banget nangkapin ular. Ada yang takut ular? Jangan main ke kamarnya, karena di situ berjejer toples berisi hasil tangkapannya, ular-ular berwarna kelabu atau bercorak loreng yang tak jelas berbisa atau tidak.

Dan, dari situlah, ide untuk bikin posting ini bermula.

Beberapa hari lalu, saat aku masih di Sukabumi, adikku menangkap seekor ular. Dan, ular itu disimpan begitu saja di aquarium di kamarnya, tanpa tutup. Aku, yang ngeri melihat binatang itu menjulur keluar dari aquarium, langsung memanggil ayah. Timbullah kericuhan malam itu (dan malam itu lagi mati lampu!) yang intinya perjuangan adikku memasukkan ular itu ke toples, hanya diterangi lilin!

Ular, seperti juga kupu-kupu, gajah, merak, rusa, dan kita, adalah binatang. Makhluk hidup. Ciptaan Tuhan. Mereka makan, hidup, bernapas, berkembang biak. Semua ciri-ciri makhluk hidup melekat dalam diri seekor ular.

Lalu, mengapa orang-orang takut pada mereka? Mengapa beberapa orang bahkan tak sanggup melihat gambarnya, atau malah melihat karikaturnya pun menjerit?

Banyak jawaban akan terbit dari pertanyaanku itu. Aku tahu. Tapi, aku akan ambil satu jawaban yang paling umum sekaligus logis: karena ular berbisa, dan bisanya mematikan.

Kalau begitu, pertanyaannya kuganti: mengapa ular berbisa?

Kalau menurutku, jawabannya adalah karena hanya itulah caranya melindungi diri.

Coba ditelaah lagi. Ular tidak punya tangan atau kaki, sehingga tidak mampu mencakar atau menendang. Tubuhnya hanya berupa selang pendek, beberapa begitu tipis sehingga diinjak saja hancur. Dengan tubuh seperti itu, bagaimana bisa dia mempertahankan diri seandainya ia tak punya bisa? Kalau ular-ular tidak beracun, aku yakin tidak akan ada binatang bernama ular di dunia ini saat ini; mereka punah pastinya.

Oke, aku tahu ada ular-ular yang tidak berbisa. Tapi, ular-ular itu punya senjata lain di tubuhnya: badannya yang besar dan berat. Ular sanca, atau piton, bisa tumbuh sampai bermeter-meter, kan? Karena itulah mereka tak berbisa (dan karena itulah ayah berani membelikannya untukku dan adikku).

Sebenarnya, ular itu binatang paling malang sedunia. Seperti yang kukatakan tadi, mereka hampir tak bisa melindungi diri. Satu-satunya senjata mereka adalah taring, itu pun tersembunyi di dalam mulut mereka. Ular juga binatang yang paling realistis, kalau tak mau dibilang pengecut. Mereka akan melarikan diri ketika melihat makhluk asing, dan hanya menyerang jika terpaksa. Beberapa ular malah mati setelah meracuni binatang lain dengan bisanya, membuat mereka lebih memilih kabur ketimbang berperang.

Dalam beberapa hal, sikap itu pengecut. Dalam kasus lainnya, sikap itu patut ditiru.

Karena itulah, melalui postingan ini, aku ingin mengajak pembaca blog ini untuk tidak membunuh setiap ular yang kebetulan lewat di depan kita. Percaya deh, mereka lebih takut pada kita ketimbang kita takut pada mereka. Dan, asalkan diberi kesempatan, mereka akan menjauh dari kita sejauh mungkin. Kalau diserang, mereka mungkin akan menyerang balik, dan seseorang mungkin akan teracuni. Benar, kan?

Cheers!


Wednesday, June 4, 2008

Burn My Dread (Persona 3 OST)

Tadi malam ngulik database musik saya yang kayaknya udah mulai overload, dan nemuin album soundtrack Persona 3. Duh, jadi ingat masa-masa ketika saya nyuri-nyuri kesempatan tuk download puluhan lagu itu (hahaha... parah).

Intinya, mau ngepost lirik salah satu lagu yang keren banget (tenang aja, bahasa Inggris, kok).
Inilah dia:


Burn My Dread -Long Version-
Vocals: Yumi Kawamura

Dreamless dorm, ticking clock
I walk away from the soundless room
Windless night, moonlight melts
My ghostly shadow to the lukewarm gloom
Nightly dance of bleeding swords
Reminds me that I still live

I will burn my dread
I once ran away from the god of fear
And he chained me to despair

Burn my dread
I'll break the chain
And run till I see the sunlight again

Oh I will run
Burning all regret and dread
And I will face the sun with pride of the living

Credit goes to Data Drain @ Gamefaqs. U rocks!

Tuesday, June 3, 2008

Homesick

Jadi, ceritanya, kemarin lusa orang tua saya datang dari Sukabumi. Mau bicara beberapa hal dengan si paman. Pas saya ngoprek HP adik saya (yang simcard-nya hangus tapi malas dia ganti), saya nemu foto yang jadi alasan saya untuk mempertahankan rumah saya sampai kapan pun. Yang sukses bikin saya homesick. Jadi... mungkin lebih baik saya post di sini aja, biar bisa dipandangin kapanpun aku mau...

Inilah dia:
Haha. Keren, kan? Bener-bener "Rumahku Istanaku" ini mah. Sekedar promosi, arsitek rumah ini adalah ayahku sendiri. Sayang, beliau tidak terima orderan karena bukan lulusan arsitektur. Hehehe...

Ada yang berminat? :P

Saturday, May 31, 2008

Osjur, The Apprentice, dan Roti Goreng Kornet

Hari ini hari Sabtu. Hari Osjur. Dan aku males banget ikut osjur. Udah kebayang kakak angkatan yang sok judes, PBB yang bikin tepar, dan tugas-tugas konyol yang bikin pingin nimpuk.

Tapi, aku harus datang. Aku udah keseringan bolos. Lagian, toh cuma tiga hari lagi ini. Kalau ada PBB, aku tinggal bilang bronkhitisku kambuh lagi :P

Jadi, hari ini bangun pagi (sepagi hari kuliah biasa), terus mandi, pake baju, dan masukin lagu kampus ke MP3 player cz harus hapal pagi itu juga (mana lagunya bikin ngantuk, lagi)...

Sampai di kampus (yang agak bikin capek cz jalan Dago macet total pagi itu), sempet bengong pas liat banyak banget anak SMA berseliweran. Oh iya, hari ini kan USM! Mana labtek biru dipake tempat ujian, pula (aku ngintip peta USM orang di angkot). Mau osjur di mana?

Jawaban datang setelah aku bertemu Jamjam; dalam bentuk kakak berjahim kuning yang datang mendekat. Ternyata kumpulnya dipindah ke Taman Ganesha! Gila aja, kita baru tahu pas tiga menit sebelum masuk! Udah aja itu mah lari-larian sampai keluar kampus (dan agak susah coz aku kedorong-dorong tas beratku).

Permulaan osjur... standar lah. Cek barang, seru-seruan standar (“Siapa kalian?!” “Teratai Mudaaa...!”). Yang berbeda, hari itu nggak ada PBB! Aku cuma bisa nahan ketawa (coz kayaknya kita nggak boleh ketawa) pas Kak Maulina dan kakak entah siapa bergaya mirip presenter acara TV.

“Kalian tahu siapa kami? Kalian nggak usah tahu siapa kami. Yang jelas, kami punya duit!” ujar Kak Maulina mengawali acara.

Intinya, anak-anak teratai muda diberi modal dua puluh lima ribu untuk bikin usaha yang balik modal dan (syukur-syukur kalau) menghasilkan untung dalam empat jam. Aku masuk kelompok lima, yang beranggotakan aku, Oji, Ochad, Hadian, Boru, Ela, Mirna, Ochie, Finda, Arni, Rynda, Oya, ma seorang lagi. Kita dikasih waktu setengah jam buat ngonsep sebelum akhirnya kita presentasi dan realisasi konsep tersebut.

Pas ngonsep, jelas terlihat kalau kita nggak ngerti kita tuh disuruh apa. Kita mau jualan barang, itu pasti. Masalahnya, barang apa? Makanan? Kita mau jualan minuman di Saraga ketika si kakak bilang tempat jualan ditentukan panitia.

Akhirnya diputuskan: kita bikin dan jual roti kornet. Yup, kita masak makanan yang akan kita jual. Anak-anak bilang, roti kornet buatan Boru enak. Yaudah, kita pikir itu aja.

Ngonsep selesai, terus presentasi. Jujur, agak keder pas denger presentasi kelompok lain. Mereka semua mau jualan donat, snek macam momogi, dan minuman botol. Barang dagangan mereka udah jadi semua (donat mesen dari relasi); cuma kelompok lima yang pake acara masak sendiri! Kakak-kakak penguji udah nanya-nanya aja sama kita (“Masaknya di mana?” “Berapa lama waktunya?”) dan dijawab dengan diplomatis oleh sang ketua kelompok: Oji (Bravo!).

Beres presentasi, kita bikin yel-yel (“LIMA ROTI KORNET! HAP!”). Empat orang beli bahan di Balubur, sisanya bantuin Rynda siap-siap (kita masak di kosan Rynda). Sempet capek juga coz kosan Rynda cukup jauh. Sempet ada masalah sama harga roti dan kompor butana, namun semua selesai begitu cepat. :P

Ternyata, estimasi kita salah. Kita kira, kita bisa bikin empat puluh potong roti kornet, Nggak tahunya, harga roti naik sehingga kita cuma bisa bikin 32 potong. Harga satu potong roti kira-kira dua ribu. Kalau aku di posisi konsumen, kayaknya nggak mau aku beli roti seharga segitu :P

Anak-anak cewek mulai masak dengan riuhnya. Seksi adonan sibuk dengan adonan yang keasinan dan kurang asin. (“Cobain dulu, deh.” “Keasinan! Lo masukin segimana sih garamnya?” “Masa? Rasa tepung doang, kok.”) Seksi kornet mulai menumis bawang bombai dan bawang putih. (“Wangi banget. Apa aja tu?” “Bawang doang, Fer.” “Anu... itu kornetnya baik-baik saja? Kok ngegumpal gitu?” “Ini kornet bagus, nggak? Kata Mama, kalau kornetnya nggak bagus, jadinya nggak enak.” “Hmm... sedeng, lah...”) Boru sibuk menelepon sang Mama untuk konsultasi resep. Aku menemani Oji balik ke kosannya untuk pinjam wadah Tupperware. Cowok yang lain? Bobo, dong! Dasar...

Keadaan dapur yang super hectic :P

Jualan kita nih... Rasanya nggak kalah lho!

Akhirnya, setelah beberapa kakak angkatan menerobos ingin tahu, enam belas potong roti kornet siap dijajakan. Kloter pertama penjual pun terbentuk: saya, Oji, Finda, Ochie, Mirna. Diiringi empat kakak angkatan, kami pun berangkat jualan.

Perjalanan menuju borromeus menjadi perjalanan penuh tawa (ada yang ngumpet di balik tiang listrik karena malu ngejualin; ada mang-mang yang ngegodain kita dengan bilang mau beli semuanya kalau harganya seribuan). Aku sempat bertanya pada mereka pas sampai di jalan Dago karena terinspirasi sama Yakitate! Ja-pan, “Ada yang udah nyobain dagangan kita?”

Dan, jawaban mereka mudah ditebak. “Nggak.” Aiiih...

Yaudah, satu orang ngasih seribu (ceritanya kita beli dagangan kita sendiri). Kita sengaja pilih yang bentuknya paling abnormal (yang kayak bumerang Australia), trus kita bagi empat (Asalnya sempet lempar tanggung jawab siapa yang mau jadi tester; kakak mentor kita nggak mau, lho! Apa masakan kita se-beracun itu?). Rasanya? Entah, coz aku langsung telen sehabis dikunyah dua kali (“Yah, si Ferdi mah udah dimakan duluan!” seru Oji), tapi rasanya lumayan sih.

Sekali lirik sudah cukup membuktikan kalau Borromeus bukan lahan pasar yang bagus. Kita memutuskan untuk belok ke Jalan Ganeca. Di sana, Ibu-ibu berbaju pink menjadi pembeli pertama kita. Dia beli tiga langsung, dong! Kita langsung mendoakan, semoga anak si Ibu diterima USM-nya. AMIN!

Pembeli kedua kita adalah Bapak-bapak bertampang streng yang kita juga nggak nyangka bakal beli makanan kita. Dia langsung beli lima, katanya anaknya belum sarapan. Dan, kita sempet berheboh ria pas bapak itu minta keresek; nampannya bahkan hampir jatuh, lho! Aku nemu keresek di tas, dan agak malu ngasihinnya ke si bapak karena ada print-an Point Samudra di kresek itu.

Berbekal pengalaman, kita memajang antis sebagai bukti kalau kita sanitasinya terjamin (nggak nyambung :P).

Sepanjang perjalanan, Finda membuktikan diri sebagai SPG terbaik yang pernah kami punya (:P). Dia selalu menawarkan roti goreng kita pada siapapun yang berminat (bahkan pada pak polisi yang lagi parkir). Pernah suatu ketika, kita papasan sama empat orang cowok. Pas kami dan mereka mulai kepisah, Finda mendadak teriak, “Hei! Mau jual... sori, maksudnya beli...”

Kita semua kaget, jelas. Empat cowok itu apalagi. “Eh... enggak...” jawab salah satu dari mereka.

Abis itu, kita semua ngakak abis :P

Pembeli ketiga—dan terakhir kami dapatkan setelah jalan memutar Ganeca-Taman sari (bonbin)-Saraga. Buset, niat banget kita. Kakak mentor kita aja udah meninggalkan kita (dan misuh-misuh pas akhirnya sampai ke spot terakhir kita. “Kalian bikin saya tepar, tahu nggak!”). Pembeli itu langsung memborong roti kami sampai habis! Alhamdulillah! Memang, orang tua yang anaknya ikut USM memang paling loyal! Semoga putranya keterima di SBM ya, Bu!

Ceritanya, dagangan kita habis, jadinya kita meet up sama kloter dua penjual (lewat kampus lah, nggak mau gua muter balik kayak tadi :P). Ternyata, mereka jual rotinya seribu lima ratus each! Yaudahlah, yang penting balik modal :P

Habis ishoma, ada presentasi lagi. Sempet minder pas tahu kelompok lain sukses-sukses. Bahkan ada yang keuntungannya sampai 82.000! Tapi... ternyata aku nggak perlu minder, coz kelompok lima jadi juara satu, lho! Kita menang jauh di hasil akhir (poin kita 89, sementara klompok lain paling tinggi 83-an). Heran, kok bisa? Padahal profit kita paling kecil, lho. Tapi biarlah. Yang penting juara!

Tropi juara :P

So, untuk mengakhiri posting ini, mari kita tampilkan yel-yel tercinta:

“LIMA ROTI KORNET! HAP!”

Moral of the story: relasi dan teamwork penting banget dalam per-wirausaha-an. Dan, nge-danus-lah saat USM diadakan :P

P.S.: Lagi suka lagunya Andra and The BackBone: Main Hati. Lagunya bagus, tapi miskin lirik (urgh). Gila... kapan ya gua bisa kayak di lagu itu...?

Thursday, May 29, 2008

Gravestone No.1: All About Cinta... Laurah

Saya sudah berpikir semalaman, dan tampaknya sudah bulat untuk menerapkan sistem ini. Saya namakan ini sebagai "Sistem Gravestone". Intinya adalah, saya akan menghapus posting yang dianggap keterlaluan oleh para pembaca blog saya (abisnya kalian nggak ninggalin jejak, sih. Saya jadi enteng saja menulis di sini :P (Ga ding!)) dan menggantinya dengan posting berjudul "Gravestone". Posting "Gravestone" ini cuma sebagai pengingat saja, supaya saya bisa menjaga tulisan saya sehingga cocok untuk konsumsi dunia maya. Kita lihat saja, apakah blog saya ini malah jadi taman pemakaman umum? semoga tidak, karena saya tidak mau itu sampai terjadi.

So, this is my first Gravestone:
With a manuscript inscribed:
"Telah berpulang ke Ketiadaan, sebuah posting berjudul All About Cinta... Laurah, yang semasa hidupnya telah menyebabkan terpojoknya seorang sahabat, salah paham yang luar biasa, rusaknya hubungan baik, dan ribuan kerugian imateril lainnya. Semoga dia takkan pernah terlahir kembali dalam bentuk apa pun dan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah lagi."

P.S.: Bagi yang merasa postingan ini nggak penting, feel free to do so. Saya cuma merasa perlu menyimpan semacam "pengingat" agar saya tidak membuat posting se-destruktif itu lagi. Kenapa saya nggak menggunakan posting aslinya sebagai pengingat? Karena saya nggak mau menimbulkan efek destruktif yang lebih parah dari pada sekarang.

Cheers!

Tuesday, May 27, 2008

Anti-god Principles in Gaming


Sebenarnya masih merasa nggak enak karena peristiwa kemarin. Malah, sempat terpikir untuk berhenti nge-blog. But, no, that is not the right thing to do. I never found something as useful as blogging to train my linguistic skills, so it’s a pity to quit now. Dan lagi, saya yakin dia tidak menginginkan hal ini pula (tampaknya saya menggunakan kata “dia” untuk menyebut orang-orang yang berbeda :P).

Okay. Let’s the post begins!

Siapa sih yang tak kenal vidgim? Sejak zaman saya SD, Nintendo dan Sega sudah merajalela, menempel di TV-TV ruang keluarga. Saya pun salah satu pecandunya, walaupun nggak freak-freak amat. Saya pernah merasakan main game dengan grafis dua dimensi yang kalau saya lihat lagi ternyata jelek sekali (sampai-sampai saya heran, kok bisa dulu saya melihat itu bagus sekali?). Saya pernah terpukau melihat indahnya Spira di FFX, gelapnya Silent Hill yang mengerikan, dan indahnya warna-warna pastel dalam Tales of series. Saya pernah menjajal beberapa genre game: Adventure (kadang clue-nya susah ditemukan), action (“Ngapain kamu main game cuma loncat-loncat gitu?” tanya ayah saya menyindir), fighting (controllernya harus tahan banting!), horror (dan saya berani main itu di tengah gelap malam, lho :P), dan genre-genre lainnya.

Dari banyaknya genre-genre game yang ada, genre yang paling saya sukai adalah RPG. Genre yang dipelopori Dragon Quest pada zaman Nintendo ini memang berbeda dari genre-genre game lainnya. Inti genre ini adalah permainan peran; player mengambil peran sebagai tokoh utama (beberapa game RPG malah menyiapkan tokoh utama tanpa nama) dan mengendalikannya sepanjang cerita berlangsung. Entah mengapa, saya sangat menyukai genre ini; mungkin saya menyukai elemen bermain peran di dalamnya, atau lingkungan permainannya yang kebanyakan medieval, atau saya hanya penasaran dengan ceritanya. Yang jelas, apabila ada game RPG baru yang keluar di pasaran (apalagi kalau keluaran Square-Enix, Atlus, Namco, Bandai), saya segera membelinya. Walaupun akhirnya makan hati juga karena PS2 saya ditinggal di Sukabumi.

Setelah lama bermain dengan game RPG, saya sadar kalau tema kebanyakan game adalah destiny versus free will (yang juga menjadi tema sentral anime favorit saya, Princes Tutu). Di setiap game, tokoh utama selalu menjadi satu-satunya orang yang berontak terhadap krisis yang terjadi di lingkungannya. Dan, krisis itu bisa berwujud macam-macam tergantung game-nya: kekuatan jahat yang bangkit kembali, raja palsu yang memerintah dengan lalim, dan Tuhan yang berkuasa sewenang-wenang terhadap makhluknya.


Yup, saya tidak salah tulis. Beberapa game menggambarkan bahwa Tuhan berkompromi dengan kekuatan jahat sebelum mati. Game lainnya malah menjadikan Tuhan di agama fiktif mereka sebagai boss terakhir. Simak saja Final Fantasy X, yang menceritakan bahwa Yu Yevon (nama Tuhan di agama Yevon) adalah pembawa Sin (makhluk penghancur di Spira) dan akhirnya dimusnahkan oleh tim tokoh utama. Simak saja Grandia 2, yang menceritakan bahwa Granas (sang Tuhan) telah mati jauh sebelum cerita dimulai dan segel-segel yang ditinggalkannya bertujuan untuk mempermudah bangkitnya Valmar (sang iblis). Yang jelas, apabila sebuah game RPG memasukkan elemen agama fiktif ke dalam gameplay-nya, bisa diramalkan bahwa agama itulah yang akan dilawan oleh si tokoh utama.

Box cover game favorit saya: Shin Megami Tensei Nocturne

Tapi, tidak ada game yang se-frontal Shin Megami Tensei series (which is my favorite game ever) dalam hal semacam ini. Game ini jelas-jelas menggolongkan semua macam makhluk mitologi sebagai demon: dewa-dewi Norwegia, folklor berbagai negara, makhluk-makhluk yang memang pantas digolongkan sebagai demon saking jahat atau menjijikkannya mereka, bahkan malaikat-malaikat serta seraf-seraf dalam mitologi kristiani. Untung saja Atlus, developer-nya, belum memikirkan untuk memasukkan Jesus Kristus, Muhammad, atau Allah ke dalam kategori demon mereka (mungkin mereka sadar kalau itu terlalu berbahaya).

Game ini benar-benar menekankan kebebasan memilih pada player. Player diletakkan di sebuah wilayah tanpa hukum yang jelas dan (seringkali) lingkungan yang rusak berat, lalu dipersilahkan untuk memilih hukum apa yang paling tepat diterapkan di wilayah itu. Terdapat tiga pilihan hukum utama: law (hukum yang menjerat dan mengikat, serta menekankan pada kepatuhan dan keteraturan), chaos (tidak ada hukum yang berlaku selain hukum rimba), dan neutral (seharusnya sih intermediet antara kedua hukum yang disebut pertama, tapi game ketiga malah menafsirkannya sebagai kesendirian, ketika manusia kehilangan statusnya sebagai makhluk sosial). Tentu saja, bagi manusia yang waras, susah sekali menentukan hukum mana yang tepat untuk dunia fiktif ini.

Yang lebih parah, game ini menjadikan Lucifer sebagai salah satu tokoh protagonis—paling tidak sebagai tokoh yang membantu si tokoh utama untuk membentuk dunianya. Di game ketiga, ada suatu ending yang dinamakan True Demon, yang menceritakan bahwa si tokoh utama (yang bertubuh demon namun berhati manusia) diubah menjadi demon yang sempurna oleh Lucifer, dan tokoh utama mengangkat senjata melawan para penghuni surga. Game kedua malah menjadikan YHWH sebagai boss terakhir apabila player memilih ending tertentu—walaupun akhirnya sang tokoh utama mendapat hukuman untuk mati dan hidup kembali tanpa henti.

Kalau ditelaah lebih jauh, wajar saja kalau game-game ini berisikan pesan moral seperti itu. Jepang, tempat game-game itu diciptakan, adalah penganut Shinto yang lebih percaya pada dewa-dewa alam ketimbang monoteisme. Dan lagi, yang sebaiknya ditekankan di sini adalah kemampuan untuk mengubah keadaan, bukan?

Saya sendiri tidak merasa takut untuk di-brainwash oleh game-game ini sehingga saya jadi ateis. Saya sudah mengalami banyak peristiwa di dunia ini, dan beberapa di antaranya begitu menyakitkan sampai-sampai saya merasa waktu saya berhenti berputar. Pada saat seperti itu, sungguh melegakan memiliki Dzat yang bisa saya jadikan tempat penumpahan kesedihan dan tempat permintaan pertolongan. Sungguh melegakan memiliki Dzat yang saya yakin selalu mencintai saya, selalu ada untuk saya, dan menyemangati saya untuk hidup di jalan-Nya yang benar. Dan, tak bisa terhitung berapa kali saya ditolong secara tiba-tiba; memang hanya sedikit, tapi mampu mendorong saya untuk memperbaiki kesalahan saya dan mengembalikan keadaan seperti semula. Saya percaya, ada tangan tak terlihat yang mengarahkan saya sekaligus memberikan kebebasan untuk memilih pada saya. Dan, saya percaya, tangan itu adalah Allah, Tuhan saya, yang tak jemu membimbing saya walau saya seringkali lalai melakukan apa yang Ia inginkan (maafkan saya...).

Dan lagi, setelah memainkan Shin Megami Tensei, saya jadi tahu kalau menjadi Tuhan itu berat sekali. Saking beratnya sampai-sampai saya yakin tidak ada manusia yang mampu menanggungnya. Ada begitu banyak manusia di dunia ini; jutaan kepribadian, jutaan cara pandang. Dan, sangat tidak adil apabila salah satu dari tiga hukum itu diterapkan begitu saja pada mereka. Perlu pencampuran yang sempurna, dengan komposisi yang tepat dan berimbang (yang artinya belum tentu rasio 50%-50% berlaku), agar semua manusia bisa merasa bahagia di dunia. Dan, percaya deh, setelah memainkan game itu, saya jadi yakin kalau dunia yang kita tempati ini not too bad. Cukup menyenangkan malah, daripada nyawa terancam setiap hari atau kebebasan terenggut akibat seabrek peraturan yang harus ditaati tiap hari.

Oh, iya. Untuk para orangtua yang ketakutan, game-game di atas ratingnya Teen, kok. Shin Megami Tensei series ratingnya Mature, malah (dan saya memainkan itu saat umur enam belas tahun :P). Insya Allah player-player-nya sudah cukup dewasa untuk menyaring pesan moral di dalamnya.

Oke, deh. Moral of the story, di dunia yang serba global ini, seseorang harus pintar menyaring informasi. Dan lagi, percaya pada Tuhan (tak peduli apa agama yang dipeluk) akan sangat membantu dalam hidup. Karena Tuhan itu ada. Dan dia mengawasi serta membimbing kita.

Cheers!

PS: Blognya mBak Miund keren banget! arggh... pengen nge-link nih... boleh nggak yaaa...?


Monday, May 26, 2008

Huff... Puff...

Hari ini, saya belajar hal yang cukup penting dalam hidup saya...

Kalau menjadi manusia itu susah ternyata :P

Nggak, ding...

Saya sadar, sudah terlalu lama saya isolasi diri saya. Sampai saya kehilangan kepekaan saya terhadap perasaan orang lain. Sampai saya tidak bisa membedakan mana yang pantas untuk dipasang di halaman umum dan mana yang lebih baik saya simpan di folder terdalam di hardisk saya. Sampai akhirnya saya menulis tentang seseorang seolah-olah dia itu sangat jahat terhadap saya.

Padahal, itu tidak benar sama sekali. Yang saya tulis adalah dirinya versi imaji saya. Dan imaji saya sudah hilang jauh sebelum saya menulis postingan itu.

Lalu kenapa saya menulisnya lagi?

Tak tahu...

Tadinya mau nulis seribu macam pembenaran, tapi kayaknya itu nggak akan membawa faedah terhadap siapapun. Saya telah melukai hati seseorang; itu kenyataan yang tak bisa saya ubah.

Lalu, apa yang bisa saya lakukan? Apakah maafku bisa diterima sekarang?

Entahlah...

Tapi, kalau kamu membaca postingan ini... aku benar-benar minta maaf...

Saya rela melakukan apa saja untuk menerima maaf kamu...

Hufff.. pufff...