Friday, May 29, 2009

Roseman: Pilot Chapter

I

Sore hari di kawasan utara Bandung[1] yang begitu tenang. Cercah hangat mentari menyinari alam dengan kehangatan terakhir menuju malam. Burung-burung mulai terbang pulang ke sarangnya yang hangat. Sebuah gedung laboratorium berdiri khidmat di tengah pepohonan. Bebungaan berwarna-warni yang mengelilinginya mengangguk-angguk ditiup angin sepoi yang turut membawa serta wangi bunga ke angkasa.

Sungguh tempat yang nyaman dan tenang, bukan?

Bukan. Sayang sekali.

“Risa, ayo sini. Kembaliin jas lab teteh. Itu inventaris kantor, nggak boleh sampai hilang. Ayo, di mana kamu sembunyiin?”

Perkenalkan. Cewek ini bernama Honey—tapi namanya dibaca “Hani”—dan dia adalah salah satu analis di lab tua ini. Ceritanya, dia mengajak kedua adik kembarnya main ke tempat kerjanya—keputusan yang langsung ia sesali. Dia hendak membuang limbah cair hasil analisis hari ini ketika jas labnya tidak ada di meja lab. Dan kecurigaannya mengarah pada Risa, salah satu adiknya yang punya sense of fashion tinggi untuk anak kelas 4 SD dan ribut terus mau memodifikasi jas labnya.

“Umm... Jas labnya di...” Risa berkata lambat dan takut-takut. Habisnya dandanan Honey mirip guru matematikanya: berkacamata tebal dan rambut diikat kuncir kuda.

“Di mana?” tanya Honey tak sabar. “Risa, kalau nggak ngomong sekarang, nanti teteh doain jodohnya bukan ekspat muda ganteng bin kaya lho. Mau nggak? Nggak, kan? Makanya, ayo ngomong! Ngomong!”

“Teteh kenapa?” tanya Risa polos. “Salah makan obat?”

Grrr. Honey geram. Pura-pura polos lagi nih anak. “Ayo cepetan, Risa! Bentar lagi maghrib! Kantor tutup! Jas labnya ada di—RINO!”

Rino adalah saudara kembar Risa, berwujud anak laki-laki berjas lab kedodoran yang kayaknya terbuat dari karet saking hiperaktifnya. Sekarang dia mulai menggeratak lemari berisi peralatan kaca yang (pastinya) mudah pecah. Honey yakin, kalau sampai salah satu alat di situ pecah, bisa-bisa dia harus kerja seumur hidup di lab ini untuk menggantinya. Segera ia menyimpan limbah di kusen jendela, lalu mengejar Rino.

Risa bersungut-sungut, “Tuh, dia tahu jas labnya dipegang Rino.”

“Teteh, ada akuarium bulat kecil! Buat Rino yaaa?!” ujar Rino sambil mengacungkan tabung kaca bulat dari kotak distilasi set.

Honey panas dingin. Distilasi set itu harganya mahal, dan kalau komponennya satu saja pecah, dia harus menggantikan se-set utuh. “JANGAN, RINOOOO!” teriaknya, agak berlebihan. “KASIHANILAH TETEHMU YANG CANTIK TAPI MENJOMBLO INI!”

Heugh, dasar. Sempat-sempatnya promosi segala lagi. Wajarlah Honey masih melajang, bahkan hampir menyandang predikat jomblo perak. Habisnya... *bip*[2]

Rino tak mendengar curhat colongan tetehnya. Dia malah makin semangat berlari mengitari meja lab. Mungkin di kepalanya terputar lagu Pesawatku[3] karena kini dia mulai merentangkan tangannya.

Risa yang lebih dulu sadar. “AWAS KE...”

Namun terlambat. Ujung tangan Rino mengenai gelas kimia tempat limbah zat yang lalu terguling. Isinya tumpah ke luar jendela.

“...na.” Risa menyelesaikan ucapannya.

Dengan penuh horror Honey mendekati gelas yang terbalik itu. Dia tahu apa yang ada di balik kusen itu: sekuntum mawar. Mawar merah besar yang wangi, dan dia baru mekar tadi pagi. Dengar-dengar, mawar ini kesayangan istri bosnya dan varietas ini harus menjalani serentetan perlakuan karantina sehingga harganya jadi mahal sekali. Dan sekarang—Honey melihat dengan takut-takut—mawar itu belepotan warna karat limbah; beberapa helai kelopaknya gugur.

Mampus.

Honey berbalik menatap Risa dan Rino, wajahnya mirip kepala sekolah mereka yang memang galak. “TUH KAN! UDAH TETEH BILANG JANGAN NAKAL! KALAU TADI ADA YANG PECAH GIMANA? TERUS SEKARANG TANAMANNYA JADI MATI, KAN?”

Kedua adiknya hanya bergeming, sedikit bergidik, dan kayaknya nahan pipis. Dalam keadaan biasa, Honey pasti menyuruh mereka ke kamar mandi, tapi kali ini Honey tidak peduli kalaupun mereka ngompol. Kalaupun beneran ngompol, lumayan ada urea buat besok pagi (lho?). Yang aneh, kedua adiknya sama sekali tidak melihatnya, tetapi ke suatu arah di belakangnya.

Marah karena nggak dianggap, Honey teriak lagi, “Kalian liat ke mana, sih?!”

Alih-alih menjawab, mereka malah menunjuk sesuatu di belakang bahu Honey. Ia berbalik.

Dan tercengang.

Di belakangnya, tepatnya di luar jendela, ada seorang cowok berdiri memandanginya. Cowok berkulit putih, berambut merah, dan bermata hijau. Raut mukanya ingin-tahu-tidak-bersalah khas anak-anak, namun tampangnya sudah lepas ABG, paling tidak. Dia begitu tinggi; Honey sampai harus mendongak untuk menaksir umur dari mukanya. Dan ia telanjang dada, tubuhnya menguarkan harum yang begitu memikat namun tak asing.

Tapi dia tak hanya telanjang dada. Mata Honey setengah terhipnotis mengikuti bidang dadanya, perutnya yang datar menjurus six-pack, hingga ke lekuk kembar di bawah perutnya yang menyatu ke...[1]

“Teteh, mau pipis,” ujar Rino.

Ayam jantan berkokok dari seberang jalan[2]. Honey menelan ludah, membayangkan apa yang tersembunyi[3] di balik kusen jendela. Namun, sekonyong-konyong cowok itu melompat masuk kusen dan memeluknya erat-erat. “Aku sukaaa!” serunya panjang.

“GYAAAAAAA! TOLOOOONG! GUA DIPERKOSAAAA!”



[1] Saya permisi dulu ya, mau muntah-muntah. Ada yang punya kresek? Hitam lebih bagus.

[2] Gak nyambung.

[3] Dan tampaknya apapun yang tengah terjadi pada yang tersembunyi itu.



[1] Yang sebenernya masih lima kilometer lagi dari Bandung...

[2] Bagian ini disensor oleh permintaan yang bersangkutan. Ntar kalau ada kesempatan dibeberkan deh...

[3] Jadulnya...

Really Dead... or Deadly Real?

Hari Kamis (28/5), akhirnya gw nonton Angels and Demon. Yeah, emang telat banget sih. Apa boleh buat, orang yang bisa diculik buat nemenin nonton baru free hari itu sih, jam 5 pula. Nontonnya pun di Braga City Walk, yeah. Setelah dulu nggak jadi nonton Spiderman 3 bareng anak-anak Fasor (miss u guys), akhirnya nonton di sini juga. Dan... harga tiketnya cuma sepuluh ribu, lho! What a bargain! Jadinya uang honor ngawas ujian kalkulus pun kepake juga, alhamdulillah nggak harus nambah-nambah. Sering-sering aja nonton di sana kali ya, hehehe...

Well, I’m not here to fanboying this movie. Yeah, this is a good movie, very good indeed. The tension, the action, the pace, everything is perfect. Nobody would turn his/her back on this, I guarantee. Coz it does a good job to sparks viewer’s curiosity and twists their speculation. But, as I said before, I’m not fanboying this movie, not when lots and lots of bloggers are fanboying it right now (oops, I’m late. I’m fanboying it already, am I not?). What can I say is, this movie is a (little more) brighter version of Angel and Demon than the novel (and shorter version indeed). But, I think I’m cool with that.


What sparked my curiosity is, are they murder real people for the sake of this movie? If you already watched this movie, you would know that the murder of four cardinals is the thing that keeps the story on. I won’t tell you by what way the four cardinals are killed, because it would be considered spoiler. But, the way those cardinals are killed are gruesome, and real, especially the second cardinal. How can you explain the bleeding from his lung? An unseen pocket attached to his chest that excreted bloodlike substances? And how do you explain the brands? Makeup?


To tell you the truth, this is not the first time I wondered this. Ever since I was little, I often watch late night war and action movies with my dad. Of course, those movies involve killing in (almost) every scene. And so, I was wondered (but too timid to ask), are those killings real? Maybe, just maybe, the director thinks that death of some walk-ons is necessary to make the film as real-looking as possible. But, I don’t have chance to find out, and that thought remains unanswered until now.


So, anyone knows?

Wednesday, May 27, 2009

Quick Recaps: Last Day of Exams

Akhirnya, last day on exam! Senangnya, akhirnya semester "penuh keringat, darah, dan siksa neraka" (kalau kata salah seorang asisten fismik pas diminta tanda tangannya dulu waktu ospek) ini kelar juga. Semester yang bikin deg-deg syur karena praktikumnya seminggu 3 kali. Malah dirumorkan kalau praktikumnya sampai malam dan kalau salah ngulang. Ternyata, waktu dilakonin, enteng-enteng aja tuh. Walaupun tetep sih ada yang ngulang.

Sekarang kesibukan apa aja nih? Hibernasi. Hehe, nggak ding. Kalau dibandingin waktu semester aktif, jelas jauh banget, cz tiap minggu pasti ada aja laporan yang harus dikerjain. Biasanya data untuk dibahas (a.k.a. data pengamatan) datang sehari-dua hari sebelum deadline, jadi ya cukup memacu adrenalin juga. Dulu sih sempet kesel juga ngerjain laporan. Sekarang, setelah nggak ada laporan, kok hidup ini jadi berasa hampa, ya? (Haha, alesan. Bilang aja udah nggak ada lagi alesan untuk nggak belajar).

Anyway, mau curhat. Udah 2 hari ini (sejak Senin) gw nggak ngampus. Masuk angin kayaknya, demam-demam disertai degradasi feses menjadi fasa gas (hoek). Serius, perut tuh rasanya penuh-penuh nggak jelas gitu, tapi nggak bisa dikuras di kamar mandi. Menuruti saran seorang yang dipercaya (cz dia mengalami hal yang sama hari Sabtunya), gw pun berkenalan dengan Tolak Angin. Ternyata enak lho rasanya, lumayan melegakan tenggorokan.

Tapi, hibernasi gw selama dua hari itu bermanfaat juga, lho! Gw akhirnya punya waktu buat ngulik si Roseman. Yup, naskah novel komedi-parodi yang udah gw rancang sejak TPB, akhirnya terealisasikan pas Semester 4. Dan lagi, idenya lagi ngucur2nya nih. Mumpung lagi semangat, tulis aja sekarang. Target: tamat sebelum semester 5, biar bisa minta Dydil bikin ilustrasinya. Semangat!

Sisi positif lain dari hibernasi gw adalah gw jadi punya waktu buat nontonin MTv. MTv asia loh, bukan MTv Ampuh yang bisa-bisanya ngejadiin K***** **** jadi chart top ten, hehehe. Dan, gara-gara itu, playlist gw jadi ketambahan banyak lagu baru. Salah satu yang paling gw suka adalah The Fray - She Is, yang baru gw padok dari HP si B***. Lagunya agak cengeng sih, menceritakan seseorang yang ditinggalin ceweknya dan meratap2 gitu. Tapi, lagunya enak banget, temponya tenang dan melegakan (jadi, pura2 tuli aja sama liriknya). Berikut ini videonya:




Oke deh. Paling segitu dulu yang mau ditulis. Mungkin menyusul soal project terbaru gw: Roseman dan Putri Melati. Sekarang sih Roseman dulu yang diusahain cepet beres, cz kebayang banget sih ceritanya. Hehehe, smangat liburan!

Cheers!

Sunday, May 24, 2009

Back To High School With 168

Halow, blogku tersayang. Udah lama nih nggak nulis blog lagi. Minggu-minggu kemarin tuh minggu berdarah buat Masyarakat Mikro. Ada ujian-ujian yang pertanyaannya abstrak banget sampai-sampai sibuk jawab apa, deadline dua laporan dalam satu hari, diceramahin dosen gara-gara presentasi asal bikin, banyak banget lah.

Untungnya semua ujiannya udah selesai. Tinggal 1 ujian lagi, biselmol. Itu pun masih hari Rabu. Okeh, ujian itu bahannya banyak banget, dan gw terancam harus hapal seisi babnya supaya bisa survive. Tapi, seperti yang gw bilang, cuma 2 SKS inih. Yang penting lulus (syukur2 kalau terancam B) dan matkul lainnya terancam A (amin). Walaupun kayaknya nggak mungkin sih (keluh).

Anyway, Jumat kemarin kan ceritanya gw ngawas ujian. Biasa, ngedanus buat ke S’pore next January. Gw memilih ngawas ujian Bahasa Inggris karena, selain bayarannya lumayan, anak-anaknya lebih jinak ketimbang anak-anak yang ngambil matkul Bahasa Indonesia semester ini. Tapi, sejauh ini, anak-anak 2008 pada taat aturan, kok. Dan mereka mau duduk berselang-seling bahkan tanpa diperintah. Good boy...

Jadi, sore itu, gw dengan Dimas pun berjalan menuju ruang ujian. Kita berdua sempat penasaran, anak-anak yang bakal kita awasin dari fakultas mana, sih? Kebetulan, gw sama Dimas ngawas ruangan yang bersebelahan, jadinya anak-anaknya masih satu fakultas, dengan kode fakultas 168. Dan, setelah gw tanya, ternyata 169 aalah kode fakultas FSRD. Seni Rupa dan Desain. Wow, kayak gimana ya anak-anaknya?

Sampai di atas, yang nyampe di ruang ujian baru 4 orang, padahal seperempat jam lagi ujian dimulai. Waktu ujian (seharusnya) dimulai, peserta ujian baru datang 16 (dari 24) orang. Ya sudah, karena gw baik, gw memulai ujian jam 4 tepat (ngaret 15 menit dari seharusnya), dan itu pun nggak semuanya datang.

Tadinya, gw sempet agak-agak ragu ngawas anak SR. Bisa nggak yah gw ngehandle mereka? Karena, anak-anak SR itu seolah punya dunianya sendiri. Berdandan nyeleneh, lah. Gimana kalau ternyata mereka lebih susah diatur ketimbang anak-anak fakultas surplus cowok itu? Tapi ternyata mereka anak-anak baik dan adem kok.

Sampai itu terjadi.

Waktu udah menunjukkan jam setengah lima. Gw lihat, beberapa anak udah celingak-celinguk gelisah. Berkaca dari pengalaman, gw menyilakan orang-orang yang udah selesai untuk mengumpulkan dan keluar. Bret, setengah kelas langsung keluar. Wajar, gw pikir, namanya juga ujian Bahasa Inggris.

Yang nggak wajar adalah, bukannya pulang, anak-anak itu malah ngumpul dan ngobrol di depan pintu kelas. Gw sebagai pengawas langsung bertindak, meminta mereka tenang. Kebetulan, ada sepupu gw yang jadi anak SR 08, namanya BD.

Gw: Tolong tenang, ya. Masih ada yang ujian.

BD: Ciyee... gaya euy. Iya, iya. Sip.

Gw balik lagi ke meja gw. Tapi, belum juga gw duduk, mereka ribut lagi.

Suara Dari Luar (SDL): Iiih, masnya ganteng, deh. Ada yang mau kenalan nih, Mas. (Riuh.) UT, anak SR 08, NIM...

UT? Gw tahu anak itu. Dia anak yang suaranya nyaring banget pas ngobrol, jadi gw tahu anaknya yang mana. Gw sempet komentar juga kalau tanda tangannya unik.

UT: Iih, kalian apa-apaan sih?

Tiba-tiba, ada cowok baju kuning nyelonong masuk sambil bawa tas warna-warni. Tasnya si UT. Gw cengo. Di luar ribut lagi, si UT ber-eh-kalian-tega-amat-ama-gw dengan keras. Gw berjalan ke pintu, dan disorakin anak-anak SR.

SDL: UT... tuh dicariin sama kakaknya. Kenalan atuh.

UT: (off screen) Ogah ah, malu...

Jiaah... berasa anak SMA. Gw bingung harus ngapain, sumpah. Habisnya, itu kan fans pertama gw (sok ngartis).

Si Cowok Kuning (CK) masuk lagi. Kali ini tasnya si UT ditaro di meja pengawas. Mampus, apa-apaan lagi ini? SDL riuh lagi. Kali ini mereka berkomplot menyeret UT masuk. Yang bersangkutan langsung freeze pas tahu tasnya ada di meja pengawas.

UT: Tas gw balikin dong...

CK: (Menyorongkan tasnya ke tangan gw) Kakak, kasiin dong tasnya UT...

Gw: (nggak ngomong apa-apa. Si UT mendekat dan narik tasnya dari tangan gw)

SDL: Cie-cie.... kenalan dooong!

Jiaaaaah.... jadi begini ya rasanya ketemu fans? Wakakakakak...

Tapi itu belum selesai, lho. Akhirnya si UT masuk lagi.

UT: Mereka jahat banget tuh kak. Kenalin, UT. (ngulurin tangan)

Gw: (menjabat tangan UT) Euh, Iya...

Dan, sebelum gw menyebutkan nama gw, si UT keluar dengan tampang malu-malu kucing. Di luar, gw denger dia nanyain nama gw ke salah satu temennya. Dan, salah satu suara (gw yakin BD) nyebutin nama gw. “Nggak sama jurusannya sekalian?” tanyanya? Dan UT nggak ngjawab.

Heheeh, bodor. Berasa waktu SMA dulu, AADC.

That’s all folks! Cheers!

Tuesday, April 28, 2009

Littel Devil Named Ciko

Haa... udah lama yah nggak nulis di Blog. Bukannya malas, tapi nggak sempat. Minggu-minggu kemarin memang badai UTS-UTS dan laporan-laporan. Kalau tulisan gw makin lama makin rapi dan halus, berarti memang wajar, wong ujian dan laporannya tulis tangan semua. Hehehe...

Anyway, who is this little devil named Ciko? He's a little prince from hell (namanya juga devil). Nggak deng. Ciko is a kitten, my household-assistant's (a.k.a. asisten rumah tangga). Ceritanya, setelah kematian Komeng, dia merindukan kehangatan seekor kucing (lho?). Kebetulan ada anak kucing--entah ngebrojol dari mana--yang akhirnya diadposi oleh dia, which is ciko. Ciko ini cukup lucu untuk ukuran anak kucing (emangnya ada anak kucing yang nggak lucu?). Warnanya abu-abu lumut, bulunya lumayan mengembang (kayaknya induknya kucing ras), dan matanya belo (yang bikin dia makin lucu). Sayangnya, mungkin karena masih anak kucing, Ciko ini lumayan sangat hiperaktif. Kalau dikurung, menjerit-jerit minta keluar. Sekalinya keluar, lari sana-sini sampai-sampai potensial-ketendangnya sangat tinggi.

FYI ajah, Komeng itu adalah kucing (kampung juga) yang kerjaannya hamil. Dan, kalau udah hamil, hobinya loncat lewat jendela kamar gw (yang memang menghadap ke jalan) dan masuk seenaknya ke lemari pakaian gw, mungkin nyari tempat buat melahirkan. Yah, agak nyebelin juga sih,memangnya ada apa dengan lemari gw?!

Oke, balik lagi ke Ciko. Hari ini, asisten rumah tangga yang merangkap tuannya Ciko lagi pulang kampung (dia memang pulang kampung setiap dua minggu sekali). Berhubung tuannya nggak ada, Ciko dikurung di kandang, dan dia nggak henti-hentinya mengeong. Mungkin karena kasihan, Bibi gw pun menyuruh gw untuk melepaskan si Ciko di taman tengah rumah. "Bisi pamali," kata beliau.

Ya sudah, sebagai keponakan yang berbakti, gw pun naik dan mengeluarkan Ciko dari kurungan. Sebenarnya sih, gw juga pengen megang-megang Ciko. Lagian, ada riset yang menunjukkan kalau mengelus hewan peliharaan dapat menurunkan tingkat stres, dan gw merasa stressful akhir-akhir ini. Gw pun dengan santainya menurunkan si Ciko di taman tengah rumah gw. Lucu juga lihat dia ngendus-ngendus daun atau ngintip isi tempat sampah. Kemudian panggilan alam menerpa gw; gw pun pergi ke kamar mandi.

Dan, pas gw balik lagi, SI CIKO ILANG!

Degg, mampus gw. Gimana juga, si Ciko dititipin ke gw. Kalau sampai si Ciko kenapa-napa, bisa-bisa asisten rumah tangga gw nangis bombay lagi. Bibi gw juga sama hebohnya waktu tahu si Ciko ilang. Kita berdua pun kompakan nyari si Ciko; gw nyari di taman, dan si Bibi nyari di bawah tangga.

"Coki, coki, coki!" panggil Bibi sambil ngdek-ngudek kotak sepatu.

"Namanya Ciko, wa," koreksi gw.

Arrghh... kenapa harus ada anak kucing yang main petak umpet dan bikin sport jantung sekarang? Sementara ada slide presentasi fismik setengah jadi yang terus memanggil-manggil gw untuk membereskannya, dan laporan-laporan terakhir yang deadlinenya udah mepet. Huff, gw menyibak rumput-rumput hias dengan kaki, kalau-kalau si ciko ada di sana. Gw negbungkuk-bungkuk ngintip di bawah kursi. Gw bahkan keluar dan mondar-mandir di teras kalau-kalau tuh anak kucing keluar.

Dan ternyata si anak kucing ada di lantai 2, dong! Kok bisa, ya? Padahal tangga di rumah gw adalah tangga kayu yang mirip-mirip grafik fungsi distribusi (halah). Belum lagi jarak antar anak tangga itu lumayan tinggi. Hebat juga dia bisa naik tangga itu dan nyampe ke atas.

Akhirnya, karena semua orang udah kapok ngelepasin dia (dan sport jantung lagi), si Ciko pun dikurung lagi di atas (Dan meong-meongan lagi samapi sekarang). Oh ya, bagi yang penasaran sama si Ciko, ini dia nih fotonya:

Tuesday, March 10, 2009

Lagi geje dan pengen nyampah di blog...

Another Tuesday. Another lab day...

Heugh...

Gw merasa tampil beda hari ini, tapi gw ragu ada orang yang nyadar. Yup, proses makeover gw hari sabtu kemarin ternyata lumayan sukse. Okelah, dari dulu gw suka berambut mohawk, tapi dari dulu juga gw udah pake rambut mohawk. Dan toh orang-orang pada nggak nyadar juga.

Masalahnya sih bukan itu, tapi fakta kalau rambut gw harus dijinakkan dengan wax biar nggak kayak "cowok-pucat-baru-bangun-tidur-dan-siap-pingsan". Dan gw nggak begitu suka pake wax. Wax bikin kepala gatal, panas, dan membuat jejak-jejak putih aneh di dahi kalau gw sampai keringatan (tau sendiri kan gw suka banget jalan kaki).

Itu artinya, gw nggak pernah pake wax kecuali dalam keadaan yang mengharuskan gw tampil 100%. Dan, gw rasa, gw harus tampil 100% di hari ini.

Oh, bukan. Gw nggak berdandan untuk praktikum, kok. Ngapain juga, lagian? Sebagian besar cowok dan udah pada tua juga (jahatnya gw, wkwkwkwkw). Gw kira gw bakal diajak ngecengin anak kampus tetangga sama seseorang, makanya gw mau tampil beda.

Dan seseorang itu, sampai sekarang, nggak ngontak gw sama sekali. Heugh.

Pas Zuhur nanti cuci rambut ah...

Anyway, gw lagi bingung sekarang. Gw dihadapkan pada pilihan yang, bisa dibilang, hanya gw yang harus tentukan. Karena, kalau gw meminta saran orang tua gw, gw yakin mereka pasti menolak--atau memaksa gw untuk menolak. Heugh, padahal gw ingin mengambil pilihan itu, tapi gw takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin muncul karena gw kini nggak di-back up sama keluarga gw lagi. Paranoid? Entahlah...

Heugh, sekarang gw nganggur sampai praktikum, dengan jurnal Fismik di tangan asisten dan modul fismik ilang di lab. Entahlah apa gw bisa dapat nilai bagus buat tes awal nanti...

Intinya: butuh teman curhat sekaligus tempat pengakuan dosa... ada yang minat?

Sunday, March 8, 2009

Opera Ganesha: Klimaks Kedigjayaan Civitas ITB

Ini Dia nih, tiket yang cuma dilepas 400 biji ke Mahasiswa... Unfair!

Opera Ganesha. Sebuah acara yang membuat penasaran civitas kampus selama seminggu lebih rangkaian Dies Emas ITB. Sebuah even klimaks dari perayaan kedigjayaan kampus ganesha. Sebuah opera luar biasa ber-tagline “Napak Tilas Gajah Kencana Meniti Kala”.

Saat balihonya pertama dipasang di depan gerbang ganesha, saya sudah kebelet ingin nonton. Pasti rame banget, nih. Apalagi setelah mendengar desas-desus dari teman-teman yang bermain peran di sana. Untungnya saya berhasil mencomot satu dari lima tiket yang dikirim ke rumah—walaupun akhirnya yang dipakai cuma tiga tiket (keluh).

Waktu sampai di Sabuga Minggu malam (8/3), saya benar-benar kagum. Disambut oleh resepsionis yang rapi-rapi dalam dandanan serbahitam, saya—dan paman serta bibi saya—digiring menuju lorong berisikan foto-foto. Ada foto kampus masa kini, foto hitam putih yang mungkin diambil saat pemerintahan Soekarno, foto berwarna berisikan orang-orang dengan dandanan eighties… saya ingin melihat-lihat, namun juga tak sabar ingin menonton operanya.

Kami dapat bangku di jajaran tengah, dereta paling depan. Entah beruntung entah sial. Namun aku nggak bisa protes, karena bangku lain yang tak terisi hanya di jajaran samping. Aku jadi ingat akan keluhan temanku yang menyayangkan dirinya tak dapat tiket masuk padahal dia penari.

Pukul tujuh lebih—hampir setengah delapan—acara dibuka. Panggung dipenuhi hiruk pikuk layaknya di peron, didukung oleh layar yang menayangkan gambar kereta api. Ada penjaga peron yang berdiri di tengah, ekspat yang menggandeng istrinya, none belanda yang belanja gulali, tukang sapu, pengemis. Seorang ibu hamil yang ditinggal suaminya hilir mudik di depan bangku penonton, begitu pula seorang penjual balon. Aku kenal ibu hamil dan penjual balon itu, namun sayang aku nggak dapat balon (wkwkwkwkwk).

Narator mengumumkan keberangkatan kereta. Layar menjadi redup, dan menayangkan gambar gajah-gajah tengah berlari. Tampaknya gajah menjadi simbolisme civitas ganesha, atau bahkan ITB itu sendiri, karena sesaat kemudian rombongan penari berkostum kuning dan bertopeng gajah mulai memasuki panggung. Sang konduktor, Purwacaraka, mengangkat batonnya, dan lagu khas orkestra yang membahana pun mengalun memenuhi jagat Sabuga.

Keluhan teman saya pun terjawab. Para penari tidak memerlukan undangan, karena mereka menari sepanjang pertunjukan. Tarian mereka seirama dengan lagu, sesuai dengan tema yang ingin disampaikan konduktor dan narator. Mereka terus menari, kadang lincah, kadang ceria, kadang menghentakkan kakinya penuh amarah. Bagai dikomando oleh lagu, mereka terus bergerak selama scene-scene perlambang perjalanan ITB tersebut.

Berbagai macam musik mengalun, sesuai dengan tema bagian itu. Saat peresmian ITB untuk pertama kalinya, lagu yang dimainkan adalah lagu di panggung broadway yang ceria. Tari kecak dijadikan perlambang masa kelam G30S(PKI), dan para penari menghentakkan kakinya seolah sedang berperang. Ketika datang masa tenang, PSM ITB menyanyikan lagu “Naik Delman” yang diaransemen ulang dan para penari bertingkah bagai anak kecil menari riang. Lagu menegangkan kembali mengalun saat bagian “Menjatuhkan Rezim Soeharto” dan dua barongsai-berkepala-gajah dengan lincahnya berusaha saling menjatuhkan (salah satu gajah berwarna kuning dan lainnya merah, simbolisme?). Dan, untuk melambangkan masa kini yang penuh kreasi, lagu-lagu ceria kembali mengudara dan para penari kembali melakukan tarian-tarian sederhana dan modern. Ada breakdance segala, lho! Dan sumpah, itu keren banget!

Acara akhirnya ditutup dengan gegap gempita. Seluruh pihak yang menjadi tulang punggung acara ini mendapat karangan bunga dari orang-orang penting civitas ganesha. Tampak kepuasan dari mata setiap partisipan, terutama para penari. “Kita latihannya udah lama banget, nggak ada yang mau turun dari panggung,” ujar seorang teman, Inta, yang tampak begitu bahagia. Bravo civitas ganesha! Bravo opera ganesha! Bravo untuk kita semua!