Friday, February 13, 2009

Color Checking Result

Iseng-iseng nyoba ini karena banyak banget notes berseliweran tentang ini. Jadi penasaran, dong aku? Hehehehe....

Oia, kalau mau juga, bisa klik di sini

Entry: Muhammad Ferdyansyah Sechan, Male, 13-10-1989

Dan inilah hasilnya (jengjengjengggggg):

Muhammad Ferdyansyah Sechan

13/10/1989

You are Red Tiger, who is not shy, and are able to keep rock-steady stance to whoever approaches you.

(Haha, bener nih? Memang aku menyikapi orang dengan cara yang berbeda-beda sih)

Your looks represent your characteristic, and you look good natured.

(Berarti characteristic aku pun good natured dong? Memang sering divonis orang baik sih)

Nevertheless, there are delicate, sensitive and intelligent sides to you.

(Delicate? Sensitive? Wah, bener gak sih? Yang jelas emosiku memang nggak stabil sih)

And you sometimes give an impression of being difficult to get to know.

(Hahaha, iya ya. Mungkin itulah sebab aku jarang disapa orang. Heuheu...)

You have high self esteem and you carry out thing on your own pace.

(Salah satu aplikasinya adalah nggak suka diatur. Bener nggak?)

You have strong will power and are a person of mettle.

(Strong Will? Amin... BTW, What does mettle mean?)

You can finish fatigue duties like putting together a plastic model, even if takes ages.

(Haha, beneran nih?)

But you demand the same effort from those around you.

(Nggak juga ah. Emang sih agak bete sama orang-orang yang lelet)

You tend to be too critical, and may be seen as a nagging person.

(Pantesan tukang jualan rada-rada ilfil, soalnya nanya-nanya mulu sih...)

You think high of your points of view.

(Hahaha, egois banget yak?)

You only judge others with your scale.

(Memang sih)

You can be hard minded and obstinate person, as you tend to stick to your opinion and not change it easily.

(Haha, my mama told me that)

But really, you are able to look at situation as a whole, and are a well-balanced person.

(Well-balanced? Librans?)

You tend to be good at putting together the plans and ideas of your fellow workers.

(Yep. Harus ada ide awal yang bisa aku kembangkan)

You are not very good at planning from the beginning and coming up with ideas.

(TEPAT SEKALI! Aku suka bingung kalau disuruh ngasih ide awal)

You wish to succeed and carry out things all by yourself.

(I'm almost a perfectionist when I have to)

You dislike being told what to do, and get help from others.

(Being told sih bener. Get help?)

You will have hard time as a fresh recruit.

(WADUH?!)

You tend to be not good at reading other peoples minds.

(Hahaha, BENER! Makanya aku nggak cocok dimintai nasihat)

Well, itulah hasil ramalan si doubutsu uranai. It's Scarily accurate! Hehehe...

Wednesday, February 11, 2009

Ospek: Rumput Liar Akademisi ITB

Sudah beberapa hari ini ITB mendadak tenar. Namanya—yang memang sudah besar—disebut-sebut di TV dan koran. Namun sayang, bukan karena ITB baru saja mengirimkan kontingen untuk lomba skala internasional atau menjadi tuan rumah suatu seminar bergengsi, melainkan karena kematian salah satu mahasiswanya. Dan ironisnya, kematian mahasiswa itu terkait erat dengan satu kata yang—saya yakin ini benar—menjadi momok bagi para mahasiswa (dan calon-calonnya): Ospek.

Yup. Kegiatan yang telah dinyatakan dilarang diadakan sejak tahun 2005 ini kembali memakan korban. Korbannya adalah mahasiswa dari jurusan berinisial GD. Penyebab kematian diduga akibat turunnya daya tahan karena kelelahan fisik dan lingkungan yang kurang bersahabat. Padahal, mungkin saja dia ada di antara orang-orang berkostum kotak-kotak yang menenteng carrier besar yang kulihat hari Sabtu lalu.

Dan, mirisnya, pemberitaan media massa membuat seolah-olah ITB-lah penyebab kematian korban. Seolah ITB menjadi IPDN masa kini yang melegalkan ospek berbahaya. Padahal saya tahu persis bahwa setiap mahasiswa angkatan 2007—termasuk saya—menandatangani surat perjanjian di atas materai—yang berarti surat tersebut mengandung kekuatan hukum. Surat tersebut menyatakan bahwa siapa pun yang mengikuti ospek—atau kaderisasi atau apa pun namanya—akan mendapat sanksi dikeluarkan dari ITB. Itu berarti, ITB telah melakukan tindakan preventif sebisanya, sehingga agak tidak bijak kalau ITB-lah yang didiskreditkan.

Ospek memang dilematis. Ospek lekat dengan image perpeloncoan, tekanan mental, push-up, marah-marah, luka, dan seabrek hal negatif lainnya. Bahkan kini ospek terkesan sebagai sarana pamer otoritas dan penyiksaan senior pada junior yang dilatarbelakangi balas dendam karena dulu senior juga diperlakukan begitu. Banyak sekali nada miring mengenai keberadaan ospek, mulai dari celetukan kalau ospek harusnya dihapus, keengganan orangtua mengizinkan anaknya ikut ospek, sampai tindakan kampus yang men-DO semua peserta dan panitia ospek.

Namun, di balik semua nada miring itu, mengapa ospek—yang telah berganti nama menjadi kaderisasi—tetap saja muncul bagai rumput liar? Mengapa ketua himpunan dan seluruh perangkat ospek—mulai dari ketua panitia hingga tim pelaksana—rela mempertaruhkan riwayat akademisnya demi acara ini padahal diskors atau DO membayangi mereka? Mengapa tertanam doktrin bahwa mahasiswa harus ikut ospek?

Saya pernah menanyakan hal ini pada senior saya yang angkatan 2003, dan ia menjawab, “Untuk solidaritas.”

Dan, saya setuju dengan jawaban itu.

Saya sudah pernah ikut ospek beberapa kali, dan memang betul apa yang senior saya katakan. Terlepas dari apakah orang Indonesia memang bermental kuda (dipecut baru jalan), masalah dalam ospek telah diset untuk tak bisa dipecahkan sendiri. Di bawah tekanan, para peserta ospek terpaksa bersatu untuk memenuhi tuntutan senior mereka. Dan, tak bisa dipungkiri, setelah dimarahi semalaman pada malam puncak dan akhirnya dinyatakan resmi masuk himpunan/unit, sense of belonging terhadap himpunan/unit itu pun makin tinggi. Peserta merasa, “Oh, inilah rumah gw, yang udah nerima gw apa adanya, bersama teman-teman dan senior yang sevisi dan senada. Gw akan berusaha keras memajukan ini.”

Selain itu, ospek juga menjadi sarana senior untuk mengajarkan skill yang (dianggapnya) berguna untuk kuliah nanti. Hal ini tampak pada ospek jurusan yang terkait langsung dengan alam, seperti Biologi, Tambang, GD, dan jurusan berprefix geo lainnya. Saya sudah mengalami, ketika diospek, saya harus membangun bivak (tenda darurat dari ponco tentara) dan pada akhirnya harus tidur di dalamnya (percayalah, dingin sekali di sana). Dengar-dengar juga, ospek GD mengharuskan pesertanya membawa makanan untuk seminggu, seolah-olah mereka akan bertahan hidup di hutan sana. Latihan fisik dalam bentuk push-up juga secara tak langsung membentuk tubuh pesertanya agar lebih kuat dan tahan banting saat nantinya terjun ke lapangan.

Namun, ospek tetaplah ospek. Yang ditonjolkan adalah senioritas dan pamer kekuasaan. Beberapa jurusan yang tak terjun ke lapangan latah menerapkan kekerasan yang berlebihan. Dengan dalih penurunan nilai dan menjaga solidaritas, kekerasan seolah dilegalkan. Juga prinsip lama yang menyatakan cowok harus tegar dan tahan banting, tak peduli apa pun yang ditimpakan padanya—hal ini tampak di jurusan surplus cowok yang notabene mayoritas di ITB. Tak heran, beberapa jurusan memiliki junior yang labil emosinya, seperti dikeluhkan beberapa teman saya. Atau kasus kematian yang menggegerkan bumi ganesha ini.

Saya bukan orang yang pro-ospek dengan membeberkan hal-hal di atas. Saya hanya membeberkan nilai plus ospek yang, saya pikir, bisa didapat dari kegiatan lain yang lebih manusiawi. Kalau hanya menurunkan nilai dan menciptakan solidaritas, kerja amal atau semacamnya lebih baik ketimbang tindakan absurd yang berisiko tinggi. Dan lagi, orang tua tentu memasukkan anaknya ke ITB dengan harapan anaknya menjadi akademisi, bukan preman. Oleh karena itu, untuk kakak-kakak senior yang berencana mengadakan ospek—atau apapun namanya—saya harap kakak-kakak mau mempertimbangkan tujuan awal diadakannya ospek. Saya harap ospek diadakan murni untuk mempersiapkan adik-adik juniornya menghadapi hidup yang memang keras, bukan menimpakan dendam masa lalu.

Cheers!

Thursday, January 15, 2009

Trimaster: Prolog

(Ini adalah novel fantasi saya yang rencananya mau diterbitin independen. Tolong dikasih umpan balik yaa... pliiis...)

Prologue

Seandainya saja mereka tahu apa yang akan mereka hadapi, mereka pasti berharap takkan pernah dilahirkan.

Ruangan itu adalah ruangan terbesar yang pernah ada. Besarnya menyamai seluruh alam semesta—atau mungkin lebih. Ruangan itu didominasi warna putih keemasan yang khas. Arah tidak berlaku di dalamnya: tidak ada rasi bintang, cakrawala, bahkan papan penunjuk arah. Ke mana pun mata memandang, hanya warna putih yang tampak.

Dan ia berdiri di situ, di samping timbunan materi paling campur aduk yang pernah ada.
Jubah keemasannya berkibar dalam keheningan, menutupi tubuhnya dari kepala hingga kaki. Kecuali mukanya, tentu saja. Ia membutuhkan mukanya—dan kelima indera yang tersemat di sana—untuk mewujudkan cita-citanya.

Sebuah citra tergambar di depan matanya—atau di dalam benaknya, ia tak pernah tahu. Citra yang menggambarkan sekumpulan sosok yang sangat dikenalnya: manusia. Citra yang mengingatkannya akan sesuatu yang telah lalu, sesuatu yang ingin ia lupakan.

Dan, di antara kerumunan itu, ia mengenali tujuh sosok bertubuh sehitam arang. Mereka begitu kelam sehingga tampak kontras di antara lautan abu-coklat yang mengelilingi mereka. Tubuh mereka dililiti rantai abu-abu karatan. Mata mereka, yang hanya berupa celah berwarna tanpa bola mata, menggambarkan kesakitan dan kepedihan yang sulit diungkapkan.

Ya, mereka. Aku jadi merasa kasihan pada mereka.

Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Kasihan? Ia seharusnya tidak lagi merasa kasihan. Ia telah membuang perasaan tak berguna itu bersama banyak sekali hal lain dalam dirinya. Rasanya memang aneh, kosong, namun ia seketika terbiasa. Dan lagi, aku harus melakukan itu agar tujuanku tercapai.

Ia menoleh ke arah timbunan materi di sampingnya, yang mengingatkannya akan fondasi sebuah pilar. Sedikit lagi, pikirnya, aku hanya harus bersabar sedikit lagi.

—Trimaster—

Sudah berapa lama dia berada di kota ini, tidak ada yang tahu. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu. Yang ia tahu, ia tak tahu ada di mana ia sekarang.

Kota metropolitan di kala hujan deras yang bagai ditumpahkan dari langit. Jalanan berubah menjadi sungai-sungai berair kelabu, membawa serta serpihan plastik dan kertas yang berasal entah dari mana. Mobil-mobil terperangkap di tengah, melengkingkan bunyi yang membuat telinga siapa pun panas mendengarnya. Langit berubah kelabu, seakan menjadi cermin raksasa yang memantulkan citra kota kelabu tepat di bawahnya.

Dan ia ada di sana. Meringkuk di bawah pohon damar besar di pinggir jalan. Tak peduli kalau ujung jubahnya yang koyak sudah terendam di genangan berbau lumpur dan sayur basi. Tak peduli kalau tetesan hujan dari sela-sela dedaunan tanpa ampun merajam kepalanya. Ia hanya meringkuk, memeluk erat sesuatu di dalam jubahnya bagai ibu melindungi anaknya.

Aku harus melindunginya, ulangnya dalam hati. Aku harus mengembalikannya pada pemiliknya.

—Trimaster—

“Jadi itu benar? Yang keempat akan datang?”

“Yang keempat sudah datang. Hanya saja, ia masih belum terbangun. Belenggunya terlalu kuat, tampaknya.”

Ia membanting tubuhnya ke kursi empuk di belakangnya. Ketenangan langsung membanjiri tubuhnya, memerangi kegalauan dalam hatinya. Ia benar-benar bersyukur telah menuruti konsultannya: piramida memang bagus untuk meditasi. Reflek, tangannya menarik lepas kacamata hitam yang sedari tadi menutupi wajahnya.

“Odin, dilarang menunjukkan siapa dirimu di dalam Valhalla. Kamu sendiri tahu itu, kan?” wanita di depan mejanya berbicara tajam.

Odin menatap muka wanita itu, yang juga ditutupi kacamata hitam. Ia tersenyum. “Hanya ada kamu di ruangan ini, Freya.”

Freya menatap sosok dewasa namun letih di hadapannya lekat-lekat. “Mengenai yang keempat, apa yang harus kita lakukan?”

“Aku tidak tahu,” Odin berharap suaranya terdengar tegar, “tapi kita harus berusaha untuk tetap hidup.”

Freya mengangguk. “Oh, iya. Satu lagi. Kami telah berhasil menemukan apa yang kamu inginkan.”

“Buku itu?” tanya Odin memastikan.

“Ya,” jawab Freya. “Tim riset dan inteligensi Trias berhasil menemukan suatu sinyal energi yang mungkin saja berasal dari buku itu.”

Gurat kelelahan langsung menghilang dari muka Odin. “Di mana?”

“Soal itu, maafkan kami. Kami tak bisa melacak di mana persisnya buku itu berada. Yang kami tahu, buku itu berada di ‘dunia-yang-satu-lagi’, mungkin malah dekat dengan rumahmu.”

Odin mengangguk takzim. “Kerja kalian bagus. Paling tidak, kita sekarang tahu kalau buku itu ada.” Ia menarik napas. “Tolong kalian cari lokasi buku itu. Kita butuh semua hal yang akan kita butuhkan kalau kita akan berperang dengan ‘mereka’.”

Tuesday, January 13, 2009

Me Against the Distro

What a provocative title, eh? Well, it wont hurt to do that once in a while, right? For all of you distro-lovers out there, just read my passage to know why, ok?

Here goes.

Distro. What in the world is this? It is the short of "distribution store", meaning, it's a store to distribute things. Or, to be more accurate, a store to distribute things that are made by the owner of the store (taken by wikipedia); those things are usually wearable like jacket, t-shirt, watch, shoes, you name it.

According to wikipedia, distro trends begin at 1990 as a way for indie band to sell their merchandise (maybe for raising funds). And some punk and skateboard community followed this trend; they built small shop to sell some merchandise. In 2007, there were 700 distro industries and 300 of them were in bandung. Wow, such big number, and almost half of them are in bandung. That shows how creative bandungers is, eh? (such narcissist I am)

Distro's plus point is their exclusiveness, because their products are produced in a limited number (not mass produced like factory-made garment). Another distro's plus points is their product's uniqueness, as in the printout of their t-shirt or the design of their jacket.

And, believe or not, this second plus point is what attracted me most.

Yes, I know. The title suggest that I hated distro. But, no. I don't hate distro. In fact, I'm in awe with them.

Correction: I'm in awe with their creativeness and uniqueness. There's something that catch your eye in their products and that "something" is not existed in mass-produced garments. It satisfies my needs of "be different", "be unique", and "be standout". To name one, it will be "Unkl347" and OUVALRSCH. They're the best i've met so far.

But,for some reason, I do hate distro. Because of its unfriendliness to big-bodied-boy like me. I'm 180/70. That means, the size that fit me well is XL. And, finding XL-sized in distro is like finding a grain of salt in the desert (if that makes sense, i made that up), it's hard to find one.

Just wanna tell stories, a year ago I fell in love with one of the unkl's jacket. It was typical brown, army-look jacket, but the design captivates my eye. But, when I was going to buy that, the shopkeeper said that the only size available is S. Of course it's in possible to fit me in that size, so I gave up on that. But, first love remains, and it makes me harder to choose which jacket to buy because I'm still loving that one jacket.

So, if any of you distro managers read my passage, please, be more friendly with big-bulky-bodied person like me. Ok?

Cheers!

Saturday, January 3, 2009

Anak Kos Dodol Lagi: Lucu dan Berhikmah (Lagi!)

Postingan kali ini bukan renungan atau ramuan teori ngaco made-in-Ferdy. Bukan juga jurnal harian yang kadang dodol dan bikin alis mengernyit. Tapi iseng-sieng bikin resensi. Yah... siapa tahu... (berharap)

Ralat. Bukan resensi, melainkan fanboying (lihat aja profil blog-ku, atau profil FS-ku, bagian Favorite Books. Pasti ada buku ini). Dan buku beruntung (atau sial) itu berjudul Anak Kos Dodol Lagi.

Pada tahu buku Anak Kos Dodol nggak? Mungkin buku ini kalah pamor dengan Kambingjantan and the gank. Tetapi, isi buku ini serupa: saripati blog (halah) punya sang penulis mengenai kejadian-kejadian nyeleneh di kos-kosannya (yang notabene cewek semua jadi pastinya banyak yang terjadi). Jadi ingat, pertama kali beli buku ini karena lagi butuh referensi tentang cara menulis humor yang benar. Habisnya bete sih, novel humor yang kubikin sama sekali nggak lucu (curcol).

Dan, yang kudapat dari buku itu bukan hanya sekedar humor. Melainkan sederet kisah yang menyentuh nurani dan menyadarkan hati. Walau kadang ngocol di sana-sini. Halah, jadi ketularan puitis daku nih. Mbak Dedew, tanggung jawab!

Kemarin malam, aku baru saja selesai baca bukunya yang kedua: Anak Kos Dodol Lagi. Tanggapan? RUARRRR BIASA! Mbak Dedew kembali menyajikan cerita dengan gaya khasnya. Ada sesuatu di dalam tutur bahasanya yang membuat aku ikut terlibat di dalamnya. Seperti dalam cerita I Feel Love in The Air, aku ikut terharu saat anak-anak kos sepakat urunan makanan buat pesta dadakan (begini kan ceritanya?). Dan aku ngakak habis (sampai pintu kamar diketok orang rumah karena disangka gila) saat baca cerita Si Ganteng di Sarang Perawan (SGSP) dan Insiden Kamar Mandi. Khusus SGSP, aku pengen tuker tempat sama si abang ganteng. Siapa yang nggak pengen liat sepuluh cewek dasteran? Percayalah, daku nggak kalah ganteng kok, Mbak. Hehehe...

Cuma, di buku kedua ini, kerasa banget kalau Mbak Dedew terlalu excited. Beberapa ceritanya terasa terlalu bombastis dengan komentar samping (yang ditandai nggak terlalu jelas dengan cetak miring dan bintang di awal kalimat). Kalau boleh menyebut nama, jujur saja Peristiwa Subuh nggak aku baca benar-benar. Habis yah itu tadi, terlalu bombastis (maaf ya Mbak, hehe). Dan lagi, ada beberapa bagian cerita yang memakai bahasa daerah, dan tidak ada terjemahannya. Jadi berasa buta dan hilang arah aja pas sampai di bagian itu, nggak tahu artinya apa. Tapi kasus begini nggak terlalu banyak kok. Tenang aja, buku ini layak dibaca seluruh penghuni Indonesia dari Sabang sampai Merauke (dan para WNA yang bisa Bahasa Indonesia, hehehe).

Overall, buku ini memang nggak se-“nendang” Kambingjantan and the gank (soalnya mereka trendsetter, sih). Gaya bertuturnya memang kalem dengan bahasa semi-baku. Tapi, buku ini benar-benar direkomendasikan buat orang yang suka bacaan berbobot tapi nggak bikin kening berkerut. Ada petuah di setiap cerita, dan buku ini menuturkannya tanpa terasa menggurui. Dan, sangat dianjurkan buat para pengekos atau mantan pengekos, atau bahkan orang yang nggak pernah kos seperti aku dengan efek samping terkena sindrom pengen ngekos, hehehe. Makanya, ikutilah jejak saya dan belilah buku ini di toko buku terdekat (atau kalau mau scanning dulu, boleh pinjam punyaku, tapi ntarnya kudu beli)! Iklan banget, yak? Bodo amat, namanya juga nge-fans.

Cheers!

Thursday, December 18, 2008

Jatinenjer?

Judul di atas itu dibaca dengan cara yang spesial, terutama pada pengucapan huruf e-nya. Huruf e pertama dibaca kayak baca "kecap", sementara e kedua dibaca kayak baca "kertas". Thanks to temen aku Mella yang udah memberi tahu pengucapan yang benar...

Yup, bener. Itu adalah inggris-isasi dari "Jatinangor".

Hwehehehe, garing yak?

Sebenarnya sih agak nggak tertarik juga bahas ini. Tapi, setelah baca blog seseorang, jadi deh tertarik.

Begini ceritanya. Aku kuliah di kampus yang letaknya di utara Bandung, tepatnya di Dago. Kalau dibandingin sama kampus lain, kampusku ini lahannya memang sempit. Kerasa banget kok, soalnya aku selalu kesulitan nemuin ruangan buat kuliah tiap awal semester pasca-TPB (halah, sok tua, padahal baru setahun lepas TPB). Lagian, memang sih kerasanya kampusku memang sempit. Mungkin dari situ terbit wacana untuk melebarkan kampus.

Masalahnya, letak kampusku di tengah kota. Diapit pemukiman, pasar, dan kawasan wisata belanja Dago. Kalau diperlebar lahannya, agak susah cz pemukimannya permanen semua. Kalau harus beli lahan... kayaknya kampusku nggak punya dana buat itu. Cara termudah memang nyari lahan lagi (atau sukur-sukur kalau ada kampus tua yang sudah nggak kepakai) lalu bikin gedung kampus baru di situ.

Itulah yang (kayaknya) dilakuin kampusku. Dan lahan yang bersangkutan ada di Jatinangor. Tepatnya di Unwim (Universitas Winaya Mukti).

Awal wacana ini aku tahu dari petugas perpustakaan yang setiap minggu ke rumah buat ngedata bukunya paman. Waktu lagi makan siang, tiba-tiba aja dia nanya kalau "Benarkah fakultas bisnis kampusku bakal dipindah ke Unwim?" Yah, aku jawab aja nggak tahu, karena itu memang hal baru. Lalu, pas malamnya (atau beberapa hari setelahnya), aku konfirm ke si paman (yang kebetulan dekan fakultas itu). Dan beliau bilang, "Baru wacana, kok."

That's why, after that, I haven't give it much thought.

Lalu, tiba-tiba aja buletin kampus mengangkat isu heboh: beberapa fakultas direncanakan dipindah ke Unwim. Dan, selain fakultas pamanku, fakultasku juga dipindah ke situ. Katanya sih bakal digabung sama salah satu fakultas di sana (referensi: ayzholic).

Wow. Kampusku jadi jauh. Jauh dari rumah. Jauh dari gramedia. jauh dari mana-mana. Dan yang terpenting, nggak bisa nebeng si paman untuk ke kampus.

Hehehe...

Jujur, aku sih berharap kabar burung ini nggak bener. Biarlah fakultasku tetap di Dago dan ungsikan fakultas lain ke sana. Walaupun okelah, pemindahan kampus ke jatinangor membuatku lebih mudah mengeceng anak-anak Psikologi Unpad (keukeuh) dan memang anak-anak kampusku cenderung mengeceng cewek-cewek Unpad. Tapi... aku kayaknya nggak mau tinggal di Jatinangor. Jatinangor kan jauh, panas, terisolir pula. Nggak ada gramedia, nggak ada palasari, nggak ada togamas... (yeah, what a geek I am).

Intinya, aku berharap nggak pindah kampus. Beneran dah, Dago is the best! Walaupun suka macet pas malam minggu, angkotnya nge-charge gila-gilaan, dan banyak pengamen yang nanyi "Seribu ajah", aku cinta Dago!

Hehehe, cheers!

Monday, December 15, 2008

Indonesiasi Inggis?

Waktu kemarin ke Sukabumi naik bis, iseng-iseng buka friendster dari HP (apa boleh buat, GPRS mania). Aneh memang, padahal akun FS-nya udah nggak ada. Yah, reminiscing old time waktu masih berlebih pulsa, hehehe...

Lalu, pas masuk halaman pertama FS, agak bingung juga karena semuanya jadi berbahasa Indonesia. Mungkin bagus tujuannya, supaya orang Indonesia lebih ngerasa "at home". Tapi tetep aja ngeganggu, terutama karena penerjemahan yang ngaco bin asal.

Dan yang paling ngganggu adalah ini:

"[Nama], [umur]
Ada Komplikasi
[Tempat, kota]"

Sumpah, itu bikin ngakak banget. "Ada komplikasi"? Memangnya diabetes? Kasihan amat! Kayaknya itu terjemahan dari "It's Complicated", tapi jadinya ngaco. JAdi inget masa lalu, pas praktikum identifikasi tumbuhan sekampus dan mentranslate asal buku Flora of Java yang tebelnya amit-amit itu.

Lalu mulai bertanya, "Terjemahan aslinya apa, kalau gitu?"

Dan... bengong. Yap, terjemahan yang tepat apa ya? Nggak mungkin "Ada Komplikasi", soalnya artinya jadi jauh banget. "Membingungkan"? Kayaknya kurang tepat juga. "Sulit diungkapkan"? Ini yang paling tepat kalau dilihat dari ruh kata, namun beda jauh dengan kata aslinya dalam bahasa inggris.

Kalau begitu, jadi bertanya-tanya, apakah sekuat itu pengaruh bahasa inggris sebagai bahasa global di Indonesia, ya? Apakah aku mulai tertular virus "Cinta Laura"?

Cheers!